Martapura, Ricek.ID – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar mencatat tren penurunan populasi kerbau setiap tahunnya. Berdasarkan data Triwulan IV Tahun 2025, jumlah kerbau di wilayah ini kini hanya tersisa 560 ekor.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Distan Banjar, drh. Lulu Vila Vardi, mengungkapkan bahwa lambatnya laju reproduksi menjadi pemicu utama. Berbeda dengan sapi, kerbau memiliki siklus kelahiran yang jauh lebih lama.
“Sistem reproduksi kerbau memang lebih lambat, biasanya hanya melahirkan dua sampai tiga tahun sekali. Akibatnya, pertumbuhan populasi tidak bisa secepat sapi,” ujar Lulu, Sabtu (28/2/2026).
Faktor Lingkungan dan Peralihan Ternak
Selain faktor biologis, menyusutnya habitat alami juga memperparah kondisi ini. Lahan rawa yang selama ini menjadi tempat hidup kerbau mulai beralih fungsi untuk kepentingan lain.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya peternak yang memilih pindah ke budidaya sapi karena dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi.
“Daya dukung lingkungan berubah. Sebagian masyarakat juga beralih ke ternak lain yang lebih cepat berkembang, sehingga populasi kerbau terus menurun,” imbuhnya.
Pemetaan Wilayah dan Pasar
Saat ini, populasi kerbau di Kabupaten Banjar hanya terpusat di tiga titik utama. Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Asep Yusup Nugraha Siliwandi, merincikan sebaran tersebut:
• Cintapuri Darussalam: 416 ekor (dominasi kerbau rawa).
• Aranio: 111 ekor (dominasi kerbau sungai/danau).
• Sungai Pinang: 33 ekor.
Meski masih eksis, kerbau belum menjadi komoditas utama di pasar lokal. Perannya masih sebatas pelengkap atau alternatif bagi konsumen.
“Kerbau sifatnya melengkapi. Biasanya baru dicari dan dipotong untuk memenuhi kebutuhan pasar jika stok sapi sedang terbatas,” tutup Asep.
Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra

