Menu ✖

Mode Gelap
Buruh Harian Tewas Dianiaya di Awang Bangkal Barat, Polisi Amankan Barang Bukti Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru

ADVERTORIAL · 8 Jul 2026 18:30 WIB

Diusulkan Jadi Miniatur Geopark Meratus, BRIDA Kalsel Dorong Penguatan Kebun Raya Banua


 Diusulkan Jadi Miniatur Geopark Meratus, BRIDA Kalsel Dorong Penguatan Kebun Raya Banua Perbesar

Ricek.ID – Dalam penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Pengembangan Geopark Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp), Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Kalimantan Selatan (BRIDA Kalsel) usulkan penguatan peran Kebun Raya Banua sebagai pusat interpretasi sekaligus miniatur Geopark Meratus.

Usulan tersebut disampaikan Kepala BRIDA Kalsel, Thaufik Hidayat, saat memberikan masukan dalam kegiatan Ekspose Rencana Induk Pengembangan Geopark Meratus yang digelar di Ruang Syahrir, Bappeda Provinsi Kalsel, Banjarbaru pada Rabu (8/7/2026).

Dalam paparannya, Thaufik menjelaskan BRIDA telah memperoleh sejumlah tugas yang tertuang dalam rancangan rencana induk, khususnya yang berkaitan dengan inventarisasi, identifikasi, dan dokumentasi artefak serta peninggalan kehidupan masa lampau di kawasan Geopark Meratus.

Beberapa program yang menjadi tanggung jawab BRIDA di antaranya kajian Situs Arkeologi Pulau Sirang di Kabupaten Banjar serta kajian Gua Liang Bangkai di Kabupaten Tanah Bumbu.

Thaufik mengungkapkan pada tahun 2026, BRIDA memprioritaskan pelaksanaan uji kronologis terhadap lukisan prasejarah di Gua Liang Bangkai guna mengetahui usia artefak yang terdapat di dalam gua tersebut. Proses kajian dilakukan bersama para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan rencana pengujian laboratorium dilaksanakan di Australia.

Selain itu, BRIDA juga menyiapkan kajian inventarisasi, identifikasi, dan dokumentasi keragaman motif sasirangan di Kampung Tradisional Sasirangan Kota Banjarmasin, serta penelitian potensi tumbuhan penghasil pewarna alami sasirangan di Desa Balangan, Kabupaten Banjar.

Namun demikian, Thaufik menilai kontribusi BRIDA dalam dokumen rencana induk masih didominasi aspek penelitian. Padahal, menurutnya, masih terdapat potensi strategis lain yang dapat dioptimalkan, terutama melalui pengembangan Kebun Raya Banua.

“Kami siap mendukung pengembangan Geopark Meratus melalui tiga pilar utama UNESCO Global Geopark, yaitu konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Peran BRIDA tidak hanya sebatas riset, tetapi juga dapat diperkuat melalui fungsi Kebun Raya Banua sebagai pusat pembelajaran dan interpretasi Geopark Meratus,” ujarnya.

Menurut Thaufik, Kebun Raya Banua memiliki potensi besar untuk menjadi pintu masuk Geopark Meratus atau miniatur geopark yang memperkenalkan kekayaan kawasan Meratus kepada masyarakat sebelum mengunjungi situs-situs geologi, hayati, maupun budaya secara langsung.

Ia menjelaskan Kebun Raya Banua dapat dikembangkan sebagai pusat konservasi flora Meratus melalui koleksi tumbuhan endemik Kalimantan, pengembangan bank plasma nutfah daerah, hingga konservasi ex-situ bagi spesies langka.

Selain itu, kawasan tersebut juga dinilai mampu berfungsi sebagai pusat penelitian biodiversitas melalui inventarisasi flora Meratus, kajian vegetasi dan ekologi tumbuhan, serta penelitian tanaman obat dan tumbuhan khas Pegunungan Meratus.

Pada aspek edukasi, Kebun Raya Banua dapat mendukung penyelenggaraan eduwisata, interpretasi alam, sekolah lapang konservasi, hingga peningkatan literasi lingkungan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Tidak hanya itu, Kebun Raya Banua juga dinilai berpotensi menjadi pusat restorasi ekosistem melalui penyediaan bibit tumbuhan lokal, rehabilitasi kawasan, dan pemulihan habitat di wilayah Geopark Meratus.

Di bidang pariwisata, pengembangan scientific tourism seperti Botanical Garden Tour, geobotany trail, serta wisata edukasi berbasis riset dan konservasi juga dinilai dapat memperkuat daya tarik Geopark Meratus sebagai destinasi pendidikan dan penelitian.

“Kebun Raya Banua dapat menjadi pusat interpretasi biodiversitas Meratus sekaligus mendukung penelitian nasional maupun internasional. Ini juga dapat menjadi lokasi pembelajaran bagi peneliti, mahasiswa, pelajar, hingga wisatawan. Jadi, masyarakat yang belum memiliki kesempatan mengunjungi kawasan Geopark Meratus secara langsung tetap dapat memperoleh gambaran utuh mengenai kekayaan kawasan tersebut melalui Kebun Raya Banua,” pungkas Thaufik.

Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan penyempurnaan Rencana Induk Pengembangan Geopark Meratus sehingga mampu mengakomodasi peran seluruh perangkat daerah secara optimal dalam mendukung penguatan status Geopark Meratus sebagai UNESCO Global Geopark, sekaligus memperkuat implementasi tiga pilar utama UNESCO, yakni konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Sumber : MC Kalsel

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Gerakan Pangan Murah di Kotabaru, Minyak Goreng 2 Liter Dijual Rp30 Ribu

22 Oktober 2026 - 13:00 WIB

Kukuhkan KORPRI Kotabaru, Kepala BKN Dorong Digitalisasi Layanan dan Promosi Daerah

21 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Usai Dilantik, Kades Tirawan Mus Mulyadi Prioritaskan Pembenahan Administrasi dan Pelayanan Warga

21 Oktober 2026 - 09:48 WIB

Wakil Ketua DPRD Kotabaru Imbau Warga Tetap Tenang dan Waspada Karhutla

21 Oktober 2026 - 07:45 WIB

Bupati Kotabaru Tinjau Lokasi Sekolah Rakyat & Rumah Sakit di Tanjung Lalak

20 Oktober 2026 - 22:22 WIB

Dinkes Kotabaru Perkuat Pemetaan Sarana & Alat Kesehatan di Puskesmas hingga Labkesmas

20 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Trending di ADVERTORIAL