Menu ✖

Mode Gelap
Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi

NASIONAL · 7 Okt 2026 21:06 WIB

Produksi Padi Nasional 2026 hingga Agustus Mencapai 43,89 Juta Ton


 Produksi Padi Nasional 2026 hingga Agustus Mencapai 43,89 Juta Ton Perbesar

Ricek.ID – Meski sektor pertanian menghadapi tantangan perubahan cuaca dan potensi El Nino, Produksi padi nasional tetap tumbuh sepanjang delapan bulan pertama 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam keterangan tertulis pada Selasa (6/10/2026) mengatakan, angka tersebut merupakan hasil penghitungan berdasarkan luas panen dan produktivitas padi yang telah berstatus angka tetap.

“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng.

Kenaikan produksi tersebut juga tercermin dari luas panen. BPS mencatat luas panen padi pada Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, meningkat 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Luas panen padi pada Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare atau naik sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” kata Ateng.

Pertumbuhan produksi padi turut menopang produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat. BPS mencatat produksi beras pada Januari-Agustus 2026 mencapai 25,29 juta ton, meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

“Dengan demikian untuk produksi beras pada kondisi Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujarnya.

Capaian tersebut menjadi penting karena produksi padi berlangsung di tengah tantangan iklim yang perlu diantisipasi. Potensi El Nino yang diperkirakan terjadi dengan intensitas kuat dapat meningkatkan risiko kekeringan dan memengaruhi ketersediaan air untuk pertanian. Namun, hingga Agustus 2026, produksi padi nasional masih menunjukkan pertumbuhan.

Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga produksi tetap berjalan, terutama melalui penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang menghadapi keterbatasan air. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air dan petani dapat mempertahankan aktivitas produksi.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan petani menghadapi tantangan produksi sendirian. Pemerintah terus turun langsung untuk memperkuat dukungan sarana produksi sekaligus menjaga ketersediaan air bagi pertanian.

“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” tegas Mentan Amran.

Ateng menjelaskan, capaian produksi Januari-Agustus 2026 telah berstatus angka tetap karena penghitungan luas panen dan produktivitas pada periode tersebut telah menggunakan data final.

Sementara itu, perkembangan produksi pada periode berikutnya masih dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman di lapangan. Data produksi September-November 2026 saat ini masih berstatus angka potensi, sedangkan data produktivitas masih berupa angka sementara.

Perubahan kondisi cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen dapat memengaruhi realisasi produksi pada periode tersebut.

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah wilayah sentra masih memiliki potensi panen pada September-November 2026. Sentra tersebut antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Di Jawa Barat, potensi panen antara lain berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, dan Bekasi. Sementara di Jawa Timur terdapat Ngawi. Di Sulawesi, sejumlah sentra antara lain Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, dan Banggai.

Dengan produksi padi mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus, produksi nasional tetap menunjukkan pertumbuhan meski menghadapi tantangan iklim dan potensi El Nino. Capaian tersebut menunjukkan produksi padi tetap bergerak kuat, sementara pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga produktivitas hingga akhir tahun.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Pemerintah Mulai Ukur Dampak Program MBG terhadap Kesehatan & Status Gizi Anak

7 Oktober 2026 - 21:13 WIB

MK Tak Temukan Bukti Ijazah SLTA Gibran, Permohonan Tak Dapat Diterima

7 Oktober 2026 - 21:11 WIB

Kemensos Sanksi 620 Pegawai Terlibat Judol, Penurunan Jabatan hingga PHK

7 Oktober 2026 - 21:08 WIB

Kabar Gembira Untuk Petani Padi, Pemkab Banjar Akan Tanggung Premi AUTP 2026

6 Oktober 2026 - 21:39 WIB

Komitmen Jaga Kekayaan Negara, Pemerintah Siapkan Penguatan Polisi Hutan hingga 70 Ribu Personel

6 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Selamatkan 6,2 Juta Hektare Hutan Senilai Hampir Rp400 Triliun, Presiden Prabowo Apresiasi Satgas PKH

6 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Trending di HUKUM