Martapura, Ricek.ID – Kondisi bangunan SDN Jawa Laut 1 Martapura, memprihatinkan dan berdampak langsung terhadap proses belajar mengajar. Sejumlah kerusakan yang terjadi dinilai telah membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Kerusakan tampak pada beberapa bagian bangunan, terutama pada struktur lantai yang mengalami penurunan kualitas. Usia bangunan yang sudah lama serta penggunaan material kayu menjadi faktor utama melemahnya konstruksi.
Situasi ini semakin diperparah oleh banjir yang melanda kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Pihak sekolah pun telah melaporkan kondisi ini kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar melalui Bidang Sarana dan Prasarana, lengkap dengan bukti dokumentasi berupa foto dan video.
“Saya sebagai kepala sekolah telah menyampaikan ini kepada Bidang Sarpras Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar dan sudah ditindaklanjut dengan kunjungan untuk melihat langsung kondisi. Kami berharap di tahun 2026 ini menjadi prioritas untuk segera dilakukan perbaikan,” ungkap Kepala SDN Jawa Laut 1, Andrianci Margareta Hotoeroe.
Akibat kerusakan tersebut, kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan normal. Beberapa ruang kelas yang sudah tidak layak pakai terpaksa ditinggalkan, sehingga siswa harus belajar dengan sistem penggabungan kelas.
“Ada satu ruang yang sudah rusak parah dan bahkan sudah terjadi insiden guru dan murid terperosok, jadi itu kami kosongkan dan muridnya digabungkan ke kelas lain dengan pembatas seadanya,” ucap Andrianci.

Menindaklanjuti laporan dari pihak sekolah, tim Sarpras Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar telah melakukan dua kali peninjauan langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi bangunan sekaligus merumuskan langkah penanganan.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Mahriansyah, saat dikonfirmasi pada Kamis (2/4/2026), membenarkan adanya kerusakan pada bangunan tersebut.
“Kemarin kita bersama tim dan hari ini juga melakukan pemeriksaan yang kedua, hasil pemantauan lapangan, memang ditemukan kerusakan pada struktur lantai,” ujarnya
Ia menjelaskan, selain dipengaruhi usia bangunan, dominasi material kayu pada struktur juga membuat bangunan rentan rusak. Banjir yang terjadi pada awal tahun 2026 turut mempercepat penurunan kondisi bangunan.
Sebagai langkah penanganan, pihaknya telah mengusulkan perbaikan melalui tiga jalur, yaitu Kementerian Pendidikan melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP), program revitalisasi pemerintah pusat sesuai kebijakan Presiden Prabowo, serta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk penanganan pascabencana.
“Sudah ada tiga usulan yang kami sampaikan, dan saat ini masih dalam proses menunggu tindak lanjut,” papar Mahriansyah.
Ia menambahkan, ke depan perbaikan perlu menggunakan material yang lebih kuat dan tahan air, seperti beton atau lantai keramik, serta menyesuaikan ketinggian bangunan guna mengantisipasi banjir yang kerap terjadi.
Saat ini, tim teknis masih melakukan kajian lanjutan guna menentukan skema penanganan, apakah dilakukan perbaikan sementara atau menunggu bantuan dari pemerintah pusat maupun melalui perubahan anggaran APBD 2026.
“Hari ini tim kembali ke lokasi untuk peninjauan lanjutan, sekaligus memastikan arah perbaikan. Apakah dilakukan penanganan sementara sambil menunggu bantuan pusat, atau melalui anggaran perubahan APBD 2026,” jelasnya.
Untuk perbaikan total, anggaran yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp2,7 miliar, termasuk rencana peninggian bangunan agar lebih aman dari banjir tahunan.
Berdasarkan hasil pendataan pascabanjir 2026, lebih dari 100 sekolah di 10 kecamatan di Kabupaten Banjar mengalami kerusakan kategori sedang hingga berat. SDN Jawa Laut 1 Martapura menjadi salah satu yang masuk prioritas penanganan.
“SDN Jawa Laut 1 Martapura ini memang menjadi salah satu yang masuk kategori terdampak yang membutuhkan penanganan serius,” pungkas Mahriansyah.