Kotabaru, Ricek.ID – Kondisi Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kotabaru yang kini vakum atau “mati suri” memicu kekhawatiran masyarakat. Pasalnya, ketersediaan stok darah sering kali kosong, sehingga menyulitkan warga yang membutuhkan bantuan medis darurat.

Lembaga kemanusiaan yang seharusnya menjadi garda terdepan penyediaan donor darah ini dinilai kehilangan fungsinya. Dampaknya paling dirasakan oleh masyarakat di pelosok desa yang minim akses dan relasi untuk mencari pendonor mandiri.

Menanggapi krisis tersebut, Wakil Ketua DPRD Kotabaru, Awaludin, bergerak cepat. Ia memastikan fungsi anggaran di parlemen akan diarahkan untuk membenahi manajemen dan operasional PMI.

“Kami berkomitmen melakukan perubahan signifikan tahun depan. Dana hibah sebesar Rp500 juta siap dialokasikan dalam APBD 2026 untuk membangkitkan kembali operasional PMI Kotabaru,” tegas Awaludin.

Masalah Distribusi dan Sinkronisasi Menurut Awaludin, kendala utama PMI Kotabaru bukan pada peralatan, melainkan sistem. Meski telah memiliki alat donor darah yang lengkap, distribusi dan penyalurannya belum berjalan optimal.

Ia menyoroti pentingnya sinkronisasi antara PMI dengan RSUD Pangeran Jaya Sumitra. Tanpa kerja sama yang solid antara kedua lembaga ini, ketersediaan stok darah bagi pasien akan terus terkendala.

“DPRD Kotabaru mendorong adanya sinergi yang kuat agar sistem ini tidak menyulitkan masyarakat. Harapannya, di bawah kepemimpinan Bupati saat ini, masalah krusial terkait keselamatan nyawa manusia ini bisa segera teratasi,” pungkasnya.

Share.
Leave A Reply Cancel Reply
Exit mobile version