Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

DPRD · 1 Des 2025 18:06 WIB

DPRD Banjar Optimistis Raperda Karhutla Rampung Awal 2026, Tetap Akomodir Kearifan Lokal Petani


 Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Banjar, Amiruddin. Perbesar

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Banjar, Amiruddin.

Martapura, Ricek.ID – Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Sistem Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang disusun sejak 2023, sempat masuk Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda) 2024, namun hingga kini belum diketok menjadi perda.

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Banjar, Amiruddin, menilai alotnya pembahasan disebabkan upaya DPRD untuk tetap mengakomodir kearifan lokal, khususnya terkait praktik pembakaran lahan pertanian pasca panen.

“Kita sepakat mengakomodir kepentingan para petani. Aktivitas membakar lahan sudah menjadi tradisi para petani di Kabupaten Banjar untuk menyuburkan tanah, membasahi hama tungro, atau memutus siklus hidup virus pada tanaman,” ujar Amiruddin, Sabtu (29/11/2025).

Ia menegaskan, secara aturan, pembakaran lahan memang dilarang, namun perlu ada mekanisme yang membatasi kegiatan tersebut agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari. Sementara, aktivitas membakar lahan oleh perusahaan tetap dilarang dan akan dikenakan sanksi sesuai KUHP terbaru.

Amiruddin optimistis, Raperda ini akan rampung awal 2026. “Kita komitmen menyelesaikan Raperda luncuran 2024 ini secepatnya. Awal 2026 sudah selesai,” tegas politisi PPP ini. Raperda tersebut telah dua kali dibahas bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar pada penghujung tahun ini.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana (Plt Kalak) BPBD Banjar, Agus Siswanto, menambahkan bahwa pengaturan kearifan lokal sangat penting. Menurutnya, karakteristik pertanian di Banjar berbeda dengan daerah lain, seperti Jawa, di mana tanah lebih subur. Di Banjar, sebagian petani berpindah ladang, khususnya di pegunungan, sehingga pembakaran lahan menjadi bagian tradisi.

“Lahan di daerah kita mungkin setelah satu atau dua tahun digarap sudah tidak subur lagi sehingga memerlukan pembakaran. Tapi terkait luasan dan mekanisme harus diatur, agar tidak memberatkan masyarakat maupun pemerintah dalam melakukan penindakan,” papar Agus.

Dengan pengaturan yang tepat, Raperda Karhutla ini diharapkan mampu menyeimbangkan perlindungan lingkungan dengan keberlangsungan tradisi pertanian lokal, sehingga kearifan lokal petani tetap dihormati tanpa mengabaikan aspek hukum dan keselamatan lingkungan.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Banjar, Tim Pengadaan Tanah Lakukan Pendataan Awal Lokasi

24 Juni 2026 - 17:32 WIB

HUT ke-38 PTAM Intan Banjar, Perkuat Komitmen Tingkatkan Pelayanan kepada Pelanggan

23 Juni 2026 - 21:05 WIB

Siswi MA Hidayatullah Martapura Lolos Seleksi Paskibraka Nasional 2026 Wakili Provinsi Kalsel

23 Juni 2026 - 18:07 WIB

Perkuat Tata Kelola Kearsipan, Dispersip Banjar Optimis Raih Tiga Besar Nasional

23 Juni 2026 - 18:03 WIB

Disdik Banjar Salurkan 15 Unit Laptop ke SDN Pematang Panjang Dukung Digitalisasi Pendidikan

22 Juni 2026 - 20:36 WIB

Pemkab Banjar Anggarkan Rp5,2 Miliar untuk Bangun Jalan Penghubung Tiga Desa

22 Juni 2026 - 20:24 WIB

Trending di ADVERTORIAL