Banjarmasin, Ricek.ID – Kota Banjarmasin resmi ditunjuk sebagai salah satu dari tiga lokasi pelaksanaan uji percontohan vaksin Demam Berdarah Dengue (DBD) nasional, bersama Jakarta dan Palembang. Langkah ini diambil pemerintah pusat meski angka kasus DBD di Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan tren penurunan sepanjang 2025.
Keputusan ini didasari fakta bahwa Banjarmasin dan Kabupaten Banjar masih mencatat angka kasus tertinggi di provinsi ini. Program vaksinasi hibah ini dijadwalkan mulai berjalan pada Januari 2026 dengan menyasar 7.500 siswa kelas 3 dan 4 SD.
Ketua Tim Dokter Anak Kalsel untuk vaksin dengue, Prof. dr. Edi Hartoyo, menjelaskan bahwa vaksinasi ini adalah langkah krusial bagi daerah endemis.
“Vaksin akan diberikan dalam dua dosis, dimulai Januari 2026 dan dosis kedua tiga bulan setelahnya. Efektivitasnya mencapai 80 persen mencegah infeksi dan 85 persen mencegah gejala berat,” jelas Prof. Edi di Kantor Dinas Kesehatan Kalsel, Jumat (21/11/2025).
Ia juga menyoroti tingginya nilai program ini. “Jika mandiri, biayanya cukup mahal, sekitar Rp1,2 juta per orang. Jadi ini kesempatan yang sangat baik. Kaltim bahkan sudah memulai dengan membeli mandiri,” tambahnya.
Berdasarkan data, kasus DBD di Kalsel tahun 2024 mencapai 3.236 kasus dengan 16 kematian. Angka ini turun drastis per 10 November 2025 menjadi 460 kasus dengan satu kematian.
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, menekankan bahwa tantangan utama program ini adalah penerimaan masyarakat, mengingat vaksin ini bersifat baru dalam program pemerintah.
“Tidak ada paksaan. Namun, vaksin ini sudah bersertifikasi halal dan terbukti menekan risiko. Kami harap masyarakat tidak termakan hoaks dan memantau informasi resmi,” tegas Diauddin.
