Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

ADVERTORIAL · 4 Jul 2026 12:19 WIB

Komisi IV DPR RI Peringatkan Ancaman El Nino, Kalsel Akan Perkuat Ketahanan Pertanian & Peternakan


 Komisi IV DPR RI Peringatkan Ancaman El Nino, Kalsel Akan Perkuat Ketahanan Pertanian & Peternakan Perbesar

Ricek.ID – Komisi IV DPR RI memberikan perhatian yang serius terhadap ancaman fenomena El Nino yang berpotensi memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga menurunkan produktivitas pertanian dan peternakan.

Melalui Kunjungan Kerja Spesifik Masa Sidang V Tahun Sidang 2025–2026 di Balai Veteriner Banjarbaru pada Jumat (3/7/2026), Komisi IV DPR RI menegaskan pentingnya langkah mitigasi yang cepat dan terintegrasi guna menjaga Kalimantan Selatan (Kalsel) sebagai salah satu penyangga utama ketahanan pangan nasional.

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, mengatakan perubahan iklim, khususnya potensi El Nino, harus diantisipasi secara serius karena berdasarkan prakiraan BMKG sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Selatan, berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal pada musim kemarau tahun ini.

“Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan produktivitas sektor pertanian dan peternakan. Karena itu diperlukan langkah mitigasi yang cepat, terintegrasi, dan berbasis data,” ujarnya.

Titiek menilai Kalsel memiliki posisi strategis sebagai daerah dengan indeks ketahanan pangan tertinggi di Indonesia sekaligus menjadi penopang pasokan pangan bagi Pulau Kalimantan dan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Oleh sebab itu, dampak El Nino di daerah ini berpotensi memengaruhi ketahanan pangan nasional apabila tidak diantisipasi secara optimal,” ungkapnya.

Menurut Titiek, di sektor pertanian upaya mitigasi perlu difokuskan pada optimalisasi irigasi, pemanfaatan lahan rawa dan lebak, penyediaan benih tahan kekeringan, kecukupan pupuk, hingga penguatan penyerapan hasil panen dan cadangan pangan pemerintah.

Sementara di sektor peternakan, kemarau panjang berpotensi meningkatkan heat stress pada ternak yang berdampak pada turunnya produktivitas serta meningkatnya risiko Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) maupun zoonosis.

“Balai Veteriner Banjarbaru memiliki peran yang sangat penting sebagai laboratorium rujukan dalam deteksi dini, diagnosis penyakit, surveillance, serta penguatan biosecurity. Karena itu kapasitas laboratorium, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan hewan harus terus diperkuat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Komisi IV DPR RI juga ingin memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kesiapan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi dampak El Nino, mulai dari sistem peringatan dini, distribusi pupuk, pengamanan cadangan pangan, stabilisasi harga, hingga kesiapan layanan veteriner.

Sementara itu Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menjelaskan Balai Veteriner Banjarbaru merupakan satu dari 11 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Veteriner di Indonesia yang menjadi rujukan pelayanan kesehatan hewan di lima provinsi Kalimantan, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Barat.

Ia mengatakan, Balai Veteriner Banjarbaru yang dibangun sejak 1978 dan direnovasi pada 2024 kini memiliki 10 laboratorium berstandar ISO/SNI serta ditetapkan sebagai laboratorium rujukan penyakit surra.

“Bahkan, balai tersebut berhasil mengembangkan metode deteksi cepat penyakit surra yang kini diproduksi secara massal oleh Balai Veteriner Pusvetma Surabaya,” katanya.

Agung mengungkapkan, El Nino tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan pakan dan air, tetapi juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit hewan karena suhu tinggi mempercepat perkembangan vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, dan caplak.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menjalankan berbagai strategi, di antaranya penyediaan bibit hijauan pakan ternak yang tahan kekeringan, pembangunan lebih dari 800 bank pakan di seluruh Indonesia, penyediaan obat, vitamin, vaksin, penerapan biosekuriti, serta penguatan pengendalian penyakit hewan.

Selain itu, pihaknya juga meminta dukungan Komisi IV DPR RI dalam penguatan regulasi, kelembagaan veteriner, peningkatan jumlah dokter hewan, penguatan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), hingga penambahan anggaran pengendalian penyakit hewan menular strategis.

“Kami meyakini dengan dukungan kebijakan, penganggaran yang kuat, serta sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, pengendalian penyakit hewan dapat berjalan optimal sehingga ketahanan pangan, khususnya protein hewani, tetap terjaga meski menghadapi ancaman El Nino,” pungkasnya.

Sumber : MC Kalsel

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Jelang Hari Pemungutan Suara Pemilihan Pambakal Serentak, DPMD Banjar Gelar Rakor Mantapkan Persiapan

17 Juli 2026 - 20:16 WIB

Komisi III DPRD & Dinas PUPR Kalsel Tinjau Infrastruktur Air Bersih, IPA Mekarsari Siap Layani 4.000 Sambungan Rumah Mulai 2027

17 Juli 2026 - 20:12 WIB

Dorong Inovasi Pemuda Peduli Lingkungan, Dispora Kalsel Akan Gelar Pepelingasih 2026 di Akhir Juli

17 Juli 2026 - 20:08 WIB

Terapkan Sistem Manajemen Talenta, Bupati Banjar Lantik Empat Pejabat Tinggi Pratama

17 Juli 2026 - 16:03 WIB

Ground Breaking Gedung Baru Bank Kalsel, Dorong Percepatan Ekonomi di Banjarbaru

17 Juli 2026 - 15:59 WIB

Respons Aduan Kekeringan, Pemko Banjarbaru Langsung Pasang Tandon Air untuk Warga Cempaka

17 Juli 2026 - 15:56 WIB

Trending di Banjarbaru