Menu ✖

Mode Gelap
Tujuh Kabupaten di Kalsel Terima Bantuan Karhutla Rp80 Miliar dari Pusat Buruh Harian Tewas Dianiaya di Awang Bangkal Barat, Polisi Amankan Barang Bukti Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi

ADVERTORIAL · 25 Okt 2026 20:23 WIB

PM2.5 Tembus 501,7 Udara Kalsel Berbahaya, Mitigasi Super El Nino Disorot


 PM2.5 Tembus 501,7 Udara Kalsel Berbahaya, Mitigasi Super El Nino Disorot Perbesar

Ricek.ID – Kualitas udara di Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali memburuk hingga mencapai kesehatan masyarakat di tengah kekeringan ekstrem yang belum mereda.

Berdasarkan data Stasiun Klimatologi Kalsel, konsentrasi PM2.5 pada 22 Oktober 2026 mencatat rata-rata harian 122,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Bahkan, pada pukul 06.00 WITA, konsentrasinya melonjak hingga 501,7 µg/m³, masuk kategori Berbahaya.

Kondisi ini memicu sorotan akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Prof. Husaini, terhadap langkah mitigasi pemerintah dalam menghadapi ancaman Super El Nino atau yang kerap disebut El Nino Godzilla.

Husaini pada Jumat (23/10/2026) menilai antisipasi terhadap risiko kekeringan ekstrem dan karhutla belum optimal, meskipun peringatan dini telah disampaikan oleh lembaga meteorologi nasional maupun internasional.

“Karhutla yang terjadi berbulan-bulan berdampak pada gangguan kesehatan akut seperti ISPA, serta kerugian ekonomi, sosial, dan pendidikan. Bahkan, kerusakan ekosistem gambut membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih,” ujar Husaini.

Menurutnya, dampak krisis ini tidak hanya berupa kabut asap, tetapi juga ancaman krisis air bersih dan gagal panen yang berpotensi memicu kenaikan harga pangan pokok.

Husaini juga menyoroti tumpang tindih kewenangan dan lemahnya koordinasi antara Kementerian Kehutanan, BNPB, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya. Penanganan karhutla, menurutnya, masih cenderung berfokus pada pemadaman darurat dibandingkan pencegahan yang menyasar akar persoalan.

Di sisi kesehatan, paparan PM2.5 berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular, terutama pada anak-anak, lansia, serta kelompok rentan. Sementara itu, panas ekstrem turut meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan serius.

Kombinasi suhu tinggi dan asap membuat masyarakat menghadapi beban ganda: terpapar panas sekaligus menghirup udara tercemar.

Husaini turut menyoroti kerusakan tata air gambut dan lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan yang memperparah kerentanan kawasan terhadap kebakaran berulang.

Pencegahan karhutla dinilai harus menjadi prioritas, bukan sekadar pemadaman saat api membesar. Penguatan koordinasi, pemulihan gambut, penegakan hukum, serta perlindungan kesehatan masyarakat menjadi langkah penting untuk menekan dampak krisis lingkungan yang mengancam kehidupan dan masa depan generasi mendatang.

Sumber : Media Center Banjarbaru

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Satpol PP Kotabaru Benahi Administrasi Satlinmas, Siapkan Lomba Poskamling

26 Oktober 2026 - 17:01 WIB

Polres Tanah Laut Gelar Operasi Patuh Intan 2026, Sasar Pelanggaran Lalu Lintas

26 Oktober 2026 - 16:58 WIB

Pemko Banjarbaru Percepat Tracing TBC, Siapkan 300 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Karhutla

25 Oktober 2026 - 20:26 WIB

Peduli Dampak Asap, RSGM Gusti Hasan Aman Bagikan Masker kepada Pengunjung CFD

25 Oktober 2026 - 20:20 WIB

Tempati Peringkat Lima Nasional, Kalsel Sabet Lima Medali di Kejurnas Gateball 2026

25 Oktober 2026 - 20:17 WIB

Juara Umum Kejuaraan Atletik Tuli Kalsel 2026, Kota Banjarbaru Bidik Prestasi Nasional

25 Oktober 2026 - 20:14 WIB

Trending di ADVERTORIAL