Bantuan benih padi dari Dinas Pertanian Kabupaten Banjar kini sudah diterima para petani sejak Juli lalu. Bantuan ini ditujukan bagi petani yang lahannya terdampak banjir, yang totalnya mencapai 1088,5 hektare.
Kendati menerima bantuan benih, para petani di Desa Melayu Tengah, Martapura Timur, dihadapkan masalah musim kemarau.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Desa Melayu Tengah, Ghazali Saleh (61) mengungkapkan bahwa menanam benih saat ini punya risiko gagal akibat kekeringan.
“Jika benih bantuan tidak ditanam, kami petani takut disalahkan,” ucapnya bingung.
Di sisi lain, jika benih tidak ditanam saat ini, kebutuhan pangan untuk keluarga tidak dapat terpenuhi.
“Akhirnya saya tanam benih ini, walaupun kekeringan sudah di depan mata,” tuturnya pasrah.
Hal senada juga disampaikan petani lainnya, Saukani (70). Ia merasa pesimis bisa panen dari benih bantuan yang ia tanam.
Lahan pertanian yang sudah ia garap kini mulai mengering. Bahkan irigasi dari Sungai Martapura ke lahan pertanian sudah tak mengalir lagi.
“Kami harus menanam benih ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ucap Saukani.
Ia berharap, ada bantuan atau pengadaan mesin pompa air sumur untuk mengairi lahan pertanian mereka.
“Dengan adanya mesin pompa dapat mengairi lahan kami, sebagai antisipasi gagal tanam,” harapnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar, Warsita mengungkapkan bahwa benih padi yang diserahkan kepada petani merupakan bibit unggul.
“Cuma tiga bulan sudah bisa dipanen. Bibit ini cocok untuk situasi musim seperti ni,” ujar Warsita.
Soal mesin pompa air yang diinginkan petani, Distan Banjar rupanya sudah mengusulkan ke pemerintah pusat.
“Sebanyak 173 mesin pompa air kami usulkan, yang akan digunakan pada lahan yang dekat dengan sumber mata air,” ungkap Warsita.
“Kalau lahan pertanian yang tidak memiliki sumber mata air, kami juga sudah usulkan bantuan khusus mesin pompa air dalam,” pungkasnya.
Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra Lianor
