Banjarmasin-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan masih berlangsung dan berdampak pada kualitas udara dengan kabut asap yang tebal dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan hingga minggu kedua September 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 20.206,06 hektare dengan 2.963 kejadian sepanjang Januari hingga September 2026.
Sebagian besar karhutla terjadi di kawasan lahan gambut yang tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Asap dari kebakaran kemudian terbawa ke kawasan permukiman dan perkotaan, termasuk Banjarmasin.
Kondisi kualitas udara Banjarmasin juga menjadi perhatian. Berdasarkan informasi yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Minggu (27/9/2026), angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Banjarmasin tercatat 1.088 PM (Particulate Matter).
Kondisi tersebut menjadi alasan masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
Namun, bagi sebagian masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di luar rumah, imbauan tersebut tidak selalu mudah diterapkan.
Husin, seorang pengemudi ojek online, misalnya, tetap harus bekerja meski mengaku terganggu dengan kabut asap yang menyelimuti Kota Banjarmasin.
Untuk mengurangi paparan asap, Husin disiplin menggunakan masker setiap kali bekerja. Ia bahkan menyediakan masker bagi penumpangnya yang tidak menggunakan pelindung pernapasan.
βSaya sejak kabut asap semakin meningkat selalu menggunakan masker saat ngojek, bahkan saya juga menyediakan masker jika penumpang saya tidak memakai masker. Maunya tetap di rumah, tapi karena penghasilan saya di sini, mau tidak mau saya harus tetap beraktivitas di luar rumah meski ada juga kekhawatiran sakit,β jelas Husin saat ditemui ketika menunggu orderan di Jalan Ahmad Yani Km 6 Banjarmasin.
Kondisi serupa dirasakan Gazali, warga Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur. Memasuki usia hampir 60 tahun, ia mengaku semakin terganggu dengan asap yang tidak hanya terasa di luar rumah, tetapi juga masuk ke dalam ruangan ketika pintu atau jendela dibuka.
βSaya kan sudah hampir 60 tahun, jadi saat keluar rumah mencium bau asap saat ini sudah tidak sanggup lagi. Bahkan di rumah juga kalau jendela atau pintu terbuka pasti akan susah bernapas. Jadi kita sangat sulit untuk mendapatkan udara yang bersih saat ini, akhirnya terpaksa terasa bernapas dalam asap,β terang Gazali.
Buruknya kualitas udara dan paparan asap juga mendapat perhatian dari dr. Meldy Muzada Elfa, Sp.PD-KGer, FINASIM, MM, dokter spesialis penyakit dalam dan subspesialis geriatri yang juga bertugas di RSUD Ulin Banjarmasin.
Menurutnya, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak paparan asap dan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah menyediakan shelter dengan ruangan tertutup dan kualitas udara yang lebih baik.
Shelter tersebut, kata dia, dapat dilengkapi peralatan medis dasar, terutama oksigen dan nebulizer yang biasa digunakan untuk membantu pasien dengan gangguan pernapasan, termasuk penderita asma.
βPenyediaan shelter ini tidak sulit dan tidak mahal. Cukup sediakan ruangan khusus yang di sana dilengkapi alat kesehatan, utamanya oksigen dan nebulizer atau alat medis yang biasa digunakan untuk penderita asma. Sehingga dengan adanya shelter ini, orang yang terpapar bisa dievakuasi dan jika memang sudah parah maka bisa dibawa ke rumah sakit atau Puskesmas terdekat. Selain itu, penggunaan masker juga harus lebih ketat setiap berada di luar ruangan,β papar dr. Meldy.
Di tengah kondisi tersebut, dukungan terhadap masyarakat terdampak juga dilakukan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Regional Kalimantan melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Syamsudin Noor dan Integrated Terminal (IT) Banjarmasin.
Perusahaan menyalurkan ribuan masker secara berkala sejak Juli 2026. Bantuan tersebut ditujukan bagi masyarakat terdampak serta petugas yang berada di lapangan.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari kepedulian perusahaan terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat sekaligus pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan penanganan karhutla membutuhkan sinergi dari berbagai pihak.
βKarhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga keselamatan dan kesehatan masyarakat. Melalui bantuan ini, Pertamina Patra Niaga berupaya hadir bersama pemerintah, relawan, dan masyarakat untuk mendukung proses penanganan di lapangan,β ujar Edi.
Sementara itu, AFT Syamsudin Noor menyalurkan 3.200 masker, vitamin, serta kebutuhan logistik kepada masyarakat terdampak, BPBD, dan BPK Sepakat yang merupakan mitra binaan program CSR AFT Syamsudin Noor.
βDukungan ini merupakan wujud komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menjalankan TJSL sekaligus memperkuat kolaborasi dengan para pemangku kepentingan dalam menghadapi kondisi kebencanaan. Kami berharap bantuan yang diberikan dapat mendukung keselamatan petugas serta membantu masyarakat yang terdampak,β tambah Edi.
Melalui program TJSL dan dukungan tanggap bencana, Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk tidak hanya menyalurkan energi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Di tengah karhutla yang terus menguji daya tahan masyarakat, kepedulian dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak yang ditimbulkan. Sebab bagi warga yang masih harus bekerja dan beraktivitas di tengah kepungan asap, udara bersih bukan sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari hak untuk dapat bernapas dengan aman.















