Menu ✖

Mode Gelap
Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi

NASIONAL · 21 Agu 2026 17:15 WIB

BMKG Waspadai Karhutla di Empat Provinsi Prioritas


 BMKG Waspadai Karhutla di Empat Provinsi Prioritas Perbesar

Ricek.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih dapat berlanjut di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini dipengaruhi minimnya potensi pertumbuhan awan hingga 10 hari ke depan dan musim hujan yang diprediksi baru mulai datang pada pertengahan Oktober 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Kamis (20/8/2026) mengatakan, berdasarkan analisis titik panas (hotspot) per 19 Agustus 2026, terdapat empat provinsi yang menjadi prioritas karena memiliki jumlah hotspot signifikan. Keempatnya yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.

“Kalimantan Barat jumlah hotspot-nya paling banyak. Kedua Kalimantan Tengah, selanjutnya Papua Selatan, dan juga Kalimantan Timur,” ujar Faisal.

BMKG juga memproyeksikan potensi pertumbuhan awan dalam 10 hari ke depan (hingga 29 Agustus 2026) masih minim di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, dan sebagian Papua.

“Ini relatif kering dan masih berpotensi berlanjut di wilayah-wilayah tersebut,” kata Faisal.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena periode kering masih berlangsung hingga memasuki masa peralihan menuju musim hujan. Berdasarkan prediksi BMKG, musim hujan diperkirakan baru mulai datang pada pertengahan Oktober.

Untuk mengantisipasi karhutla, BMKG bersama sejumlah kementerian dan lembaga terus menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah prioritas. Namun, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan yang dapat dimodifikasi menjadi hujan.

Faisal menjelaskan, OMC untuk penanganan karhutla telah dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain melalui Posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Pekanbaru, Palangkaraya, dan Pontianak. Sebagian operasi dihentikan sementara karena kondisi awan belum mendukung.

“Kalau tidak ada potensialnya, tidak bisa,” tegas Faisal saat menjawab pertanyaan Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus mengenai pelaksanaan hujan buatan.

BMKG memperkirakan Kalimantan Barat memiliki potensi pelaksanaan OMC pada 23–27 Agustus 2026. Potensi tersebut akan dioptimalkan untuk mendukung penanganan karhutla.

Sementara itu, Kalimantan Tengah menghadapi tantangan lebih besar. Hingga akhir Agustus, BMKG belum melihat adanya potensi awan hujan yang cukup untuk dimodifikasi menjadi hujan di wilayah tersebut.

Selain penanganan karhutla, OMC juga dilaksanakan untuk kebutuhan lain, seperti pengisian waduk di Jawa Barat dan Waduk Sepaku Semoi di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mulai mengalami kekeringan.

BMKG juga menyiapkan pesawat patroli di enam provinsi utama rawan karhutla yakni Kalsel, Kalteng, kalbar, Sumsel, Jambi, dan Riau.

“Pesawat tersebut dapat langsung dialihkan menjadi pesawat OMC ketika ditemukan potensi awan yang memungkinkan pelaksanaan operasi,” ungkap Kepala BMKG.

Dalam rapat tersebut, Faisal juga menjelaskan mengenai titik merah pada peta hotspot. Menurutnya, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan adanya indikasi api di lokasi tersebut.

“Iya, itu hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Artinya ada api di sana,” jelasnya.

Faisal juga menjelaskan, karakteristik kebakaran di wilayah Papua Selatan dan Nusa Tenggara berbeda dengan wilayah yang memiliki lahan gambut. Kebakaran di wilayah dengan vegetasi savana dan semak cenderung memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran pada lahan gambut.

Sementara itu, pada lahan gambut, kebakaran dapat berlangsung tidak sempurna sehingga menghasilkan karbon monoksida (CO) dan gas beracun lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penguatan mitigasi karhutla perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama selama periode kering dan sebelum musim hujan tiba.

BMKG memastikan dukungan operasional terus disiapkan bersama kementerian dan lembaga terkait. Pesawat disiagakan dan dapat segera diterbangkan ketika terdapat potensi awan yang mendukung pelaksanaan OMC.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Polisi Bersama Masyarakat, Wakapolri Tegaskan Komitmen Berantas Premanisme & Jaga Dunia Usaha

9 Oktober 2026 - 18:58 WIB

Kapolda NTB Uji Jalur Penonton hingga Sirkuit Menjelang MotoGP Mandalika

9 Oktober 2026 - 18:56 WIB

Kemkomdigi Pastikan Layanan Telekomunikasi Siap Dukung 200 Ribu Penonton MotoGP Mandalika

9 Oktober 2026 - 18:50 WIB

Pemerintah Terbitkan Perpres 27/2026, Pengemudi Ojek Online Dapat Kepastian Hukum & Batas Biaya Platform 8 Persen

9 Oktober 2026 - 18:47 WIB

Prabowo: Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik Bukti Nyata Strategi Hilirisasi Indonesia

8 Oktober 2026 - 20:29 WIB

Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia Jaga Kepercayaan & Lindungi Investasi

8 Oktober 2026 - 20:26 WIB

Trending di EKOBIS