Menu

Mode Gelap
Tiga Medali dari Osaka, Dedikasi Brigadir Ihya Harumkan Banjarbaru Kelangkaan Solar Ancam Produksi Pertanian di Desa Penggalaman Ratusan PSU Perumahan di Banjar Belum Diserahkan, Sebagian Ditinggal Developer Tiba Pagi di RSUD Bekasi, Presiden Prabowo Pastikan Korban Kecelakaan Kereta Tertangani Optimal Kecelakaan Beruntun Libatkan KRL dan Argo Bromo Anggrek Jalur Bekasi Timur Lumpuh

ADVERTORIAL · 30 Apr 2026 20:43 WIB

Hadapi Perubahan Iklim, Komisi Irigasi Kalsel Fokus Percepatan Ketahanan Pangan


 Hadapi Perubahan Iklim, Komisi Irigasi Kalsel Fokus Percepatan Ketahanan Pangan Perbesar

Ricek.ID – Perubahan iklim yang kian tak menentu mendorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) untuk mempercepat pembenahan pengelolaan irigasi dan pengendalian banjir.

Hal ini mengemuka dalam Rapat Sidang Pleno I Komisi Irigasi Provinsi Kalsel Tahun 2026 yang digelar Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalsel pada 27 April 2026 di Banjarmasin.

Forum lintas sektor yang melibatkan Balai Wilayah Sungai Kalimantan III, Bappeda, Dinas PUPR, Dinas Pertanian, BMKG, Komisi Irigasi kabupaten/kota, hingga Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah konkret menghadapi ancaman kekeringan, banjir, hingga gangguan produksi pertanian.

Ketua Harian Komisi Irigasi Kalsel sekaligus Kepala Dinas PUPR Kalsel, M. Yasin Toyib pada Kamis (30/4/2026) menegaskan perubahan iklim kini bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan kondisi nyata yang telah berdampak langsung pada sektor pertanian.

Ia menyebut fenomena El Nino, La Nina, dan anomali cuaca telah mengacaukan pola musim, memicu kekeringan ekstrem di satu sisi dan banjir berulang di sisi lain, termasuk banjir rob di wilayah pesisir dan rawa pasang surut.

“Dampaknya sudah kita rasakan, mulai dari keterlambatan tanam, gagal panen, kerusakan jaringan irigasi, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Ini ancaman serius bagi ketahanan pangan,” ujar Yasin.

Ia menekankan pentingnya keputusan yang dihasilkan dalam sidang pleno bersifat operasional dan dapat segera diterapkan di lapangan, seperti Informasi iklim dari BMKG yang diharapkan tidak hanya berupa data, tetapi dapat diterjemahkan menjadi panduan waktu tanam, mitigasi kekeringan, hingga antisipasi potensi karhutla.

Selain itu, Balai Wilayah Sungai diminta memperkuat peran dalam pengendalian banjir di wilayah Sungai Barito secara terintegrasi, mencakup normalisasi sungai, pengelolaan pintu air, dan konektivitas jaringan irigasi.

Di sisi lain, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan didorong untuk menyusun strategi adaptif menghadapi musim kemarau, seperti penyesuaian kalender tanam berbasis iklim, penggunaan varietas tahan kekeringan, serta optimalisasi distribusi air.

Sementara itu Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku, Herry Ade Permana mengungkapkan pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) di sektor irigasi masih menunggu kepastian alokasi anggaran dari pemerintah pusat.

Ia menekankan perlunya penguatan koordinasi lintas sektor yang lebih terstruktur antara Balai Wilayah Sungai, pemerintah daerah, dan P3A, serta penyusunan pedoman teknis yang komprehensif dari tahap perencanaan hingga serah terima.

“Musim kemarau tahun 2026 diprediksi berlangsung selama enam hingga tujuh bulan dengan puncak pada Agustus. Kondisi ini menuntut langkah antisipatif seperti pemanenan air hujan, penyesuaian pola tanam, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis analisis BMKG,” jelas Herry.

Selain kekeringan, banjir juga masih menjadi persoalan utama di sejumlah wilayah Kalsel yang berdampak pada produktivitas pertanian, sehingga penanganan dinilai belum optimal akibat lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Melalui forum tersebut, peserta menyepakati sejumlah komitmen bersama, di antaranya peningkatan koordinasi dan evaluasi lintas sektor, pelibatan aktif P3A dalam setiap tahapan kegiatan irigasi, pemanfaatan data BMKG dalam perencanaan, hingga penyusunan masterplan pengendalian banjir secara terpadu.

Selain itu, disepakati pula upaya optimalisasi mitigasi kekeringan melalui penyimpanan air, pembaruan data geospasial irigasi, percepatan pembangunan Bendungan Riam Kiwa, hingga rehabilitasi daerah irigasi di Kabupaten Tanah Bumbu.

Hasil sidang pleno ini selanjutnya akan disampaikan kepada Gubernur Kalsel untuk ditindaklanjuti serta direkomendasikan kepada pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota.

“Melalui implementasi komitmen tersebut, pemerintah berharap ketersediaan air dapat lebih terjaga, produktivitas pertanian meningkat, dan ketahanan pangan di Kalimantan Selatan semakin kuat di tengah tekanan perubahan iklim,” pungkas Herry.

Sumber : MC Kalsel

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Pra POPNAS 2026 Dibatalkan, Dispora Kalsel Pastikan Pembinaan Atlet Pelajar Tetap Jalan

30 April 2026 - 21:17 WIB

Perkuat Integritas Pimpinan Daerah, Pemko Banjarbaru Gelar Sosialisasi Antikorupsi

30 April 2026 - 21:00 WIB

Pemkab Banjar Tetapkan Pemilihan Pambakal Serentak Pada 22 Juli 2026

30 April 2026 - 20:50 WIB

Pemko Banjarmasin Percepat Penanganan Sampah Menyeluruh Dari Hulu Ke Hilir

30 April 2026 - 20:37 WIB

Berlangsung Sukses, Rangkaian Hari Jadi Banjarbaru Berikan Dampak Bagi Warga

30 April 2026 - 20:19 WIB

Tahun 2026, BPS Banjar Canangkan 3 Desa Cantik Baru

30 April 2026 - 20:13 WIB

Trending di ADVERTORIAL