Ricek.ID – Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan (BPS Kalsel) mengungkapkan pada September 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK). Hal ini disampaikan Kepala BPS Kalsel, Mukhamad Mukhanif, di Banjarbaru pada Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kalsel di lima kabupaten/kota, pada September 2026 terjadi inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,86 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,03 pada September 2025 menjadi 114,33 pada September 2026.
“Inflasi year-on-year (y-on-y) terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada seluruh kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,86 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,46 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,90 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,41 persen; kelompok kesehatan sebesar 1,90 persen; kelompok transportasi sebesar 4,02 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 3,14 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,27 persen; kelompok pendidikan sebesar 5,67 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,11 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 14,30 persen,” ujar Mukhanif.
Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada September 2026, antara lain: emas perhiasan, beras, bensin, ikan nila, minyak goreng, cabai rawit, akademi/perguruan tinggi, telepon seluler, terong, kacang panjang, angkutan udara, semangka, nasi dengan lauk, sigaret kretek mesin (SKM), ikan patin, martabak, buncis, jagung manis, teh siap saji, ketimun, pisang, ikan goreng, bahan bakar rumah tangga, laptop/notebook, ikan peda, sawi hijau, kangkung, gula pasir, pelumas/oli mesin, daging ayam ras, pepaya, taman kanak-kanak, baju muslim wanita, bakso siap santap, cabai hijau, udang basah, cabai merah, mobil, sekolah dasar, sepeda motor, es, serta ketupat/lontong sayur.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain: ikan gabus, bawang merah, telur ayam ras, ikan papuyu, ikan sepat siam, bawang putih, dan baju muslim pria.
Sementara itu, komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi month-to-month (m-to-m) pada September 2026, antara lain: akademi/perguruan tinggi, cabai rawit, angkutan udara, kacang panjang, jagung manis, telur ayam ras, ikan nila, sawi hijau, tomat, beras, dan ice cream.
Pada September 2026, seluruh kelompok pengeluaran memberikan andil/sumbangan terhadap inflasi year-on-year (y-on-y), yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,09 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,07 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,13 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,10 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,07 persen; kelompok transportasi sebesar 0,43 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,17 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,22 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,38 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,18 persen.
“Pada September 2026, dari lima kabupaten/kota amatan IHK di Provinsi Kalimantan Selatan, seluruhnya mengalami inflasi y-on-y. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Tanah Laut sebesar 5,78 persen dengan IHK sebesar 113,96. Sementara itu, inflasi y-on-y terendah terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebesar 3,71 persen dengan IHK sebesar 114,14,” kata Mukhanif.
Sumber : MC Kalsel












