Ricek.ID – Investasi 11 proyek strategis di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara pada Kamis (8/10/2026), mencapai sekitar Rp180 triliun. Investasi tersebut diproyeksikan menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa empat dari 11 proyek tersebut telah selesai dengan nilai investasi USD3,4 miliar atau sekitar Rp60 triliun. Sementara itu, tujuh proyek lainnya dengan nilai investasi USD6,8 miliar memasuki tahap peletakan batu pertama.
“Dari 11 proyek tersebut akan tercipta lebih dari 10 ribu lapangan pekerjaan,” kata Rosan saat menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Rosan, perkembangan industri pengolahan telah mendorong perubahan ekonomi Maluku Utara. Provinsi tersebut tidak lagi hanya menjadi daerah pertambangan, tetapi juga berkembang menjadi kawasan industri yang menghasilkan berbagai produk olahan nikel.
Perkembangan tersebut turut terlihat dari surplus perdagangan Maluku Utara yang mencapai Rp31,1 triliun pada 2025. Rosan juga menyampaikan bahwa industri pengolahan menyumbang hampir separuh Produk Domestik Bruto (PDB) provinsi tersebut.
Selain mendorong perekonomian daerah, kawasan IWIP juga berkontribusi terhadap ekspor nasional. Rosan menyebut nilai ekspor IWIP mencapai sekitar USD11 miliar. Jika digabungkan dengan kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), total ekspor kedua kawasan tersebut mencapai USD28 miliar atau sekitar 10 persen dari total ekspor Indonesia.
Menteri Rosan menambahkan, sejak 2018, investasi di kawasan IWIP telah mencapai USD20 miliar. Dengan tambahan investasi sekitar USD7 miliar, total investasi di kawasan tersebut diproyeksikan mencapai USD27 miliar. Kawasan IWIP juga telah menyerap sekitar 117.000 tenaga kerja.
Secara nasional, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen, dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.
“Dalam dua tahun terakhir ini yang tadinya kontribusi hilirisasi 25 persen sudah mencapai 30 persen dari total investasi yang masuk dan lebih dari 75 persen terealisasinya di luar Jawa,” ujar Rosan Roeslani.
Rosan Roeslani menilai, peningkatan investasi hilirisasi menjadi bagian penting dalam mendorong industrialisasi di Indonesia. Pengembangan industri berbasis nikel, material baterai, baterai kendaraan listrik, dan komponen pendukung lainnya diharapkan dapat memperkuat rantai pasok global serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Sumber : infopublik.id









