Ricek.ID – Jalan penghubung antara Desa Onozitoli Olora dan Desa Bawadesolo, Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli alami longsor dan amblas dengan kedalaman lebih dari dua meter. Kondisi tersebut menyebabkan badan jalan menyempit dan dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Berdasarkan hasil pantauan di lokasi hingga Kamis (9/7/2026), longsor yang terjadi berada di kawasan Dusun II, Desa Onozitoli Olora. Selain badan jalan yang amblas, masih terlihat retakan tanah yang memanjang di sepanjang ruas jalan dan berpotensi memicu pergerakan tanah susulan ke arah tebing. Akibatnya, ruas jalan yang semula memiliki lebar sekitar tiga meter kini hanya menyisakan sekitar satu meter yang dapat dilalui kendaraan secara bergantian.
Salah seorang warga, Rubani Lase, mengatakan kerusakan jalan sebenarnya telah berlangsung secara bertahap. Namun, dalam satu bulan terakhir kondisi longsor semakin parah dengan area terdampak mencapai sekitar 30 meter.
“Proses longsor bertahap mulai tiga tahun lalu namun memuncak akhir-akhir ini seiring kawasan diguyur hujan seet cuaca ekstrem lainnya sehingga area longsor meluas dan mendekati rumah penduduk,” sebutnya.
Selain itu katanya, bangunan penahan tanah dan bronjong yang sebelumnya dibangun juga ikut mengalami kerusakan akibat terus bergeraknya tanah di lokasi tersebut.

Rubani Lase menjelaskan ruas jalan tersebut merupakan akses utama bagi masyarakat dari Desa Onozitoli Olora dan Desa Bawadesolo. Jalan itu tidak hanya digunakan untuk mobilitas warga, tetapi juga menjadi jalur distribusi hasil pertanian serta akses bagi pelajar mulai dari jenjang PAUD hingga sekolah menengah. Ia berharap pemerintah segera melakukan penanganan permanen sebelum kerusakan semakin meluas dan mengancam permukiman warga.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, masyarakat bersama pemerintah desa telah menyampaikan usulan kepada Pemerintah Kota Gunungsitoli agar lokasi longsor segera mendapat penanganan permanen. Permohonan itu disampaikan mengingat kondisi jalan semakin mengkhawatirkan dan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi maupun pendidikan masyarakat.
Sementara itu, Orisvan Zebua, Fungsional Bidang Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Gunungsitoli, mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan ke lokasi. Menurutnya, titik longsor tersebut telah masuk dalam skala prioritas perencanaan pembangunan pemerintah daerah.
Ia menjelaskan, pemerintah membuka opsi penanganan secara bertahap melalui kolaborasi antara Dinas PUPR, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan pemerintah desa. Selain itu, Pemerintah Kota Gunungsitoli juga akan mengusulkan pembangunan permanen kepada pemerintah pusat melalui dukungan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengembalikan fungsi jalan sebagai akses utama masyarakat sekaligus memperlancar distribusi hasil pertanian menuju pusat-pusat ekonomi di Kota Gunungsitoli. Hingga penanganan permanen dilakukan, masyarakat diimbau tetap berhati-hati saat melintasi ruas jalan tersebut, terutama pada saat hujan yang berpotensi memperburuk kondisi tanah.













