Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

HEADLINE · 20 Mei 2026 18:49 WIB

Sebut Rakyat Tak Bermimpi Hidup Mewah, Prabowo Fokus Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat


 Sebut Rakyat Tak Bermimpi Hidup Mewah, Prabowo Fokus Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat Perbesar

Ricek.ID – Presiden Prabowo Subianto soroti persoalan ketimpangan ekonomi nasional dan belum optimalnya distribusi hasil pertumbuhan ekonomi dalam pidato penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 di Rapat Paripurna ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 di kompleks parlemen, Jakarta pada Rabu (20/5/2026).

Dalam pidatonya, Presiden menegaskan arah pembangunan ekonomi pemerintah akan difokuskan pada peningkatan kesejahteraan rakyat kecil, penguatan ekonomi produktif, serta pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

Prabowo bahkan menyebut sebagian besar rakyat Indonesia tidak memiliki mimpi hidup mewah, melainkan hanya ingin hidup layak, memperoleh pekerjaan yang cukup, rumah yang baik, pendidikan yang memadai, serta akses kesehatan bagi keluarga mereka.

“Mereka bermimpi bisa makan dengan baik tiap hari, memberi susu untuk anak-anaknya, punya rumah layak, dan melihat anak-anaknya sekolah dengan sehat,” ujar Presiden.

Menurut Prabowo, evaluasi pemerintah terhadap kondisi ekonomi nasional menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar, namun hasilnya belum sepenuhnya dinikmati rakyat secara merata.

Karena itu, pemerintah menegaskan pengelolaan bumi, air, dan kekayaan alam nasional harus benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat Indonesia.

Di sektor kelautan dan perikanan, Presiden mengumumkan program pembangunan 5.000 desa nelayan dalam tiga tahun ke depan sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi pesisir dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Pada 2026, pemerintah menargetkan meresmikan 1.386 desa nelayan di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut mencakup pembangunan instalasi pembuat es batu, ruang pendingin hasil tangkapan ikan, serta SPBU khusus nelayan di setiap desa nelayan.

Prabowo menilai nelayan selama ini menghadapi berbagai keterbatasan mendasar, termasuk sulitnya memperoleh es batu dan bahan bakar solar untuk melaut.

“Kita akan menjamin tiap nelayan bisa punya es batu dan fasilitas pendingin. Nelayan kita harus diberdayakan karena mereka berada di ujung terdepan penguasaan laut kita,” katanya.

Selain nelayan, Presiden juga menegaskan peningkatan kesejahteraan guru menjadi prioritas nasional karena kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik.

Menurut Prabowo, guru harus memperoleh kehidupan yang layak agar mampu menjadi teladan dan penggerak pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Pemerintah juga akan memperkuat pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Di bidang perlindungan sosial, pemerintah menargetkan penguatan jaringan jaminan sosial untuk menopang kelompok lanjut usia dan masyarakat rentan agar dapat hidup lebih tenang dan sejahtera.

Presiden menegaskan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju, mulai dari posisi geografis strategis, bonus demografi, hingga kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Prabowo menyebut Indonesia merupakan eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan devisa ekspor mencapai 23 miliar dolar AS atau sekitar Rp391 triliun pada 2025.

Selain itu, ekspor batu bara Indonesia disebut mencapai 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp510 triliun, sementara ekspor ferro-alloy menghasilkan devisa sekitar 16 miliar dolar AS atau setara Rp272 triliun.

Secara keseluruhan, tiga komoditas strategis tersebut menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.100 triliun per tahun.

Meski demikian, Presiden mengkritik rendahnya rasio penerimaan negara Indonesia dibanding negara-negara anggota G20 lainnya.

Menurut data IMF yang dipaparkan Prabowo, rasio pendapatan negara Indonesia terhadap PDB masih berada di kisaran 11–12 persen, lebih rendah dibanding Meksiko sebesar 25 persen, Filipina 21 persen, India 20 persen, maupun Kamboja sebesar 15 persen.

Presiden menilai kondisi tersebut menjadi indikator perlunya evaluasi mendasar terhadap sistem ekonomi nasional.

Prabowo juga menyoroti fakta bahwa pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen selama tujuh tahun terakhir belum sepenuhnya mampu memperkuat kelas menengah dan mengurangi ketimpangan sosial.

“Saya bertanya kepada semua pihak, bagaimana bisa ekonomi tumbuh 35 persen tetapi kelas menengah menurun dan kemiskinan meningkat,” ujar Presiden.

Menurut Prabowo, persoalan tersebut menunjukkan adanya masalah struktural dan sistemik dalam pengelolaan ekonomi nasional yang harus segera diperbaiki agar Indonesia tidak terus kehilangan kekayaan nasional dan tertinggal dalam persaingan global.

Presiden menegaskan pemerintah akan menjalankan reformasi ekonomi dengan berpijak pada konstitusi, penguatan kedaulatan ekonomi, hilirisasi industri, serta optimalisasi pengelolaan sumber daya nasional untuk kesejahteraan rakyat.

Kebijakan tersebut sejalan dengan agenda pembangunan nasional dan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo yang menitikberatkan pada penguatan kemandirian ekonomi, pemerataan kesejahteraan, serta pembangunan sumber daya manusia unggul.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Gulirkan Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026, Kemenag Catat Partisipasi di 725 Ribu Titik

17 Juli 2026 - 20:36 WIB

Wujudkan Indonesia yang Mandiri, Prabowo Percepat Swasembada Energi & Berantas Aktivitas Ilegal

17 Juli 2026 - 20:32 WIB

Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Prabowo Pimpin Panen Raya Serentak Tiga Komoditas

17 Juli 2026 - 20:28 WIB

Pembentukan Organisasi AI Global WAICO, Indonesia Resmi Jadi Negara Pendiri

17 Juli 2026 - 20:24 WIB

Topang Ketahanan Ekonomi, Menteri ESDM Sebut Proyek LNG Masela Berpotensi Sumbang Penerimaan Negara USD37,8 Miliar

17 Juli 2026 - 20:20 WIB

Kasus Curanmor di Tungkaran, Polsek Martapura Ringkus Dua Pelaku Kurang dari 24 Jam

17 Juli 2026 - 20:04 WIB

Trending di HEADLINE