Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

NASIONAL · 4 Feb 2025 19:31 WIB

Syaifullah Tamliha Serukan Moratorium Kebijakan Distribusi Elpiji 3 Kg Bersubsidi


 Syaifullah Tamliha Serukan Moratorium Kebijakan Distribusi Elpiji 3 Kg Bersubsidi Perbesar

Riceknews.Id Mantan anggota DPR RI, Syaifullah Tamliha, mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk memberlakukan moratorium atas kebijakan distribusi LPG atau Elpiji 3 kilogram bersubsidi.

Menurutnya, sistem distribusi yang saat ini diberlakukan perlu dievaluasi ulang untuk memastikan data penerima manfaat yang valid melalui DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial).

Dalam keterangannya, Tamliha menjelaskan bahwa kebijakan terbaru akan mengharuskan konsumen untuk membeli Elpiji 3 Kg hanya melalui pangkalan resmi Pertamina.

“Pemerintah harus memiliki data yang valid tentang warga miskin yang sesungguhnya. Kuota subsidi dari APBN 2025 masih sangat terbatas,” ujarnya Selasa (4/2/2025).

Tamliha mengingatkan bahwa dalam pembahasan Banggar DPR RI mengenai RAPBN 2022, pemerintah telah sepakat bahwa sejak 2023 distribusi Elpiji 3 kilogram tidak lagi diberikan dalam bentuk barang, melainkan melalui bantuan subsidi tunai kepada warga yang berhak.

“Artinya, elpiji tetap beredar di manstarakat. Sebagai contoh, Lpj melon Rp 45 ribu per tabung, dan warga miskin yang terdata mendapatkan bantuan Rp 135 ribu per bulan untuk membeli tiga tabung Elpiji, dengan asumsi kebutuhannya 3 tabung,” jelasnya.

Namun, menurut Tamliha, kebijakan tersebut dilanggar karena menjelang Pemilu, demi kepentingan pencitraan politik.

Demi pencitraan, kebijakan tersebut dilanggar oleh badan anggaran dan pemerintah,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti inkonsistensi penerapan distribusi oleh Pertamina dengan sistem one vellage one outle (OVO O); setiap desa memiliki satu pangkalan resmi.

“Bukannya membuat pangkalan baru tiap desa, tapi malah memperbanyak jumlah agen baru. Dan celakanya agen baru tersebut tidak diwajibkan menerapkan sistem OVO O,” kata Tamliha.

Tamliha berharap agar Presiden Prabowo Subianto segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan distribusi yang dianggap menyimpang tersebut.

“Jika tidak segera diatasi, hal ini bisa memicu kerusuhan oleh masyarakat. Saya yakin Pak Prabowo, yang saya kenal sejak tahun 1994, akan bijak dan tegas demi kepentingan rakyat,” tutupnya.

Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Perkuat Konektivitas hingga Pelosok Indonesia, Prabowo Resmikan 1.151 Kilometer Jalan Daerah di 37 Provinsi

23 Juni 2026 - 18:19 WIB

Pemerintah Gulirkan Stimulus Ekonomi di Semester II 2026, Mulai Diskon Transportasi hingga Bantuan Pangan

23 Juni 2026 - 18:14 WIB

Menpora Ungkap Nobar Piala Dunia Berdampak Positif dalam Menggerakkan Pertumbuhan Ekonomi

23 Juni 2026 - 18:10 WIB

Menkes RI Dorong Investasi Kesehatan untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

22 Juni 2026 - 20:39 WIB

Naik Peringkat, Indonesia Terbaik Kedua Destinasi Wisata Ramah Muslim

22 Juni 2026 - 20:30 WIB

Presiden Prabowo Sampaikan Arahan Terkait Transformasi BUMN & Optimalisasi Aset Negara

22 Juni 2026 - 20:27 WIB

Trending di EKOBIS