Ricek.ID- Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sejak akhir 2025 berdampak pada aktivitas pertanian di Desa Penggalaman, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Kondisi ini berpotensi mengganggu jadwal tanam hingga memicu risiko gagal panen.
Sejumlah petani setempat mengaku kesulitan memperoleh solar untuk mengoperasikan alat dan mesin pertanian (alsintan) berbasis diesel. Kenaikan harga Dexlite juga dinilai semakin membebani biaya operasional.
“Kelangkaan solar ini sudah terjadi sejak akhir 2025. Sekarang ditambah harga Dexlite naik, sehingga kami kesulitan mendapatkan bahan bakar. Jika tidak ada solar, kami tidak bisa bekerja,” ujar Taufiqurahman dan Rizky, petani setempat, Rabu (29/4/2026).
Menurut mereka, keterlambatan pengolahan lahan akibat keterbatasan bahan bakar berdampak pada mundurnya masa tanam.
“Kami mengalami kerugian waktu. Sebagian besar petani di sini menggunakan mesin untuk efisiensi. Jika kondisi ini berlanjut, aktivitas pertanian bisa terhenti,” ujarnya.
Pembakal Desa Penggalaman, Nur Ipansyah, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut persoalan utama yang dihadapi warga adalah keterbatasan ketersediaan solar di lapangan.
“Kami tidak mempermasalahkan kenaikan harga, tetapi yang menjadi kendala adalah ketersediaan barang. Di tingkat eceran pun sulit didapat,” katanya.
Pemerintah desa, lanjutnya, telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Banjar dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut.
Ia menambahkan, bantuan alat dan mesin pertanian yang telah disalurkan pemerintah saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan bahan bakar.
“Kami berharap ada langkah penanganan agar distribusi solar kembali lancar sehingga aktivitas pertanian dapat berjalan normal,” ujarnya.
Hingga saat ini, para petani di Desa Penggalaman masih menunggu solusi dari pihak terkait untuk memastikan ketersediaan BBM demi mendukung keberlanjutan produksi pertanian di wilayah tersebut.













