Menu

Mode Gelap
Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi Gubernur Kalsel Siapkan Bonus bagi Pelapor Pelaku Karhutla Satu Korban KM Virgo Transport 8 Kembali Ditemukan Tim SAR Basarnas Perpanjang Operasi SAR KM Virgo Transport 8, 126 Korban Masih Dicari

EKOBIS · 6 Mei 2026 20:15 WIB

Jelang Wajib Sertifikasi 2026, BPJPH Perkuat Kerja Sama Halal Dengan Tiongkok


 Jelang Wajib Sertifikasi 2026, BPJPH Perkuat Kerja Sama Halal Dengan Tiongkok Perbesar

Ricek.ID – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) perkuat kerja sama internasional di sektor halal dengan mengundang 18 lembaga halal luar negeri (LHLN) dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dalam kegiatan Courtesy Meeting & Discussion with China Halal Certification Bodies yang digelar di Jakarta.

Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hasan dalam keterangan tertulis pada Rabu (6/5/2026), menyatakan forum ini menjadi langkah strategis dalam menyambut implementasi kebijakan wajib sertifikasi halal yang akan berlaku mulai Oktober 2026.

“Jadi saya mengundang semua lembaga halal dari RRT. Mari kita bersama-sama membangun ekonomi yang lebih baik dengan semangat saling menguntungkan, sehingga ekspor semakin mudah tetapi tetap terseleksi,” ujarnya.

Haikal menjelaskan penguatan kerja sama ini tidak hanya berfokus pada sertifikasi produk, tetapi juga mencakup seluruh ekosistem halal secara menyeluruh, mulai dari proses inspeksi, inventori, pengemasan, hingga distribusi.

Menurutnya, kebijakan terbaru BPJPH menegaskan bahwa sertifikasi halal akan diterapkan secara end-to-end, tidak hanya pada produk, tetapi juga pada seluruh rantai distribusi.

“Ke depan, perusahaan tidak hanya memastikan produknya halal, tetapi juga proses pengemasan, penyimpanan, hingga distribusinya harus memenuhi ketentuan sertifikasi halal,” jelasnya.

Kebijakan ini diharapkan mampu meminimalkan risiko kontaminasi bahan non-halal serta menjamin kualitas produk halal secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

Haikal menambahkan, Tiongkok menjadi negara pertama yang diundang dalam forum ini karena memiliki jumlah lembaga halal terbanyak serta volume perdagangan yang signifikan dengan Indonesia.

Selain itu, Tiongkok dinilai sebagai salah satu pelopor dalam pengembangan industri halal global meskipun mayoritas penduduknya non-muslim.

“Tiongkok menunjukkan bahwa industri halal bisa berkembang pesat dengan standar yang baik. Ini menjadi pembelajaran penting bagi kita,” imbuhnya.

Ke depan, BPJPH berencana memperluas kerja sama dengan lembaga halal dari berbagai negara lain, termasuk kawasan Eropa, guna memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem halal global.

Langkah ini sejalan dengan agenda Asta Cita, pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis sektor unggulan serta memperkuat daya saing industri halal Indonesia di pasar internasional.

Melalui penguatan regulasi, standardisasi, dan kolaborasi global, BPJPH menargetkan sektor halal dapat menjadi salah satu kontributor utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Basarnas Perpanjang Operasi SAR KM Virgo Transport 8, 126 Korban Masih Dicari

20 September 2026 - 01:41 WIB

Kemendukbangga Ungkap Tantangan Bonus Demografi & Penurunan Stunting Dihadapan DPR RI

16 September 2026 - 20:14 WIB

MTQ Nasional XXXI Semarang Buka Ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat untuk Penyandang Disabilitas

16 September 2026 - 20:12 WIB

Sampaikan Duka atas Kecelakaan KM Virgo Transport 8, Presiden Prabowo Pastikan Investigasi Dituntaskan

16 September 2026 - 19:29 WIB

Presiden Prabowo Resmikan LRT Jakarta, Tekankan Pentingnya Pembangunan & Transformasi Bangsa

16 September 2026 - 19:26 WIB

Perkuat Operasi SAR, Polri Evakuasi Dua Jenazah KM Virgo dengan Helikopter

16 September 2026 - 19:22 WIB

Trending di NASIONAL