Menu

Mode Gelap
Kebakaran Hanguskan Dua Asrama Santri dan Empat Rumah di Martapura Timur, Puluhan Kamar Ludes Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan

LINGKUNGAN · 24 Mei 2026 21:11 WIB

Selama Sepekan, Masih Ada Potensi Hujan Selama Peralihan Musim


 Selama Sepekan, Masih Ada Potensi Hujan Selama Peralihan Musim Perbesar

Ricek.ID – Meskipun sekitar 17,1 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dan sebagian lainnya memasuki masa peralihan, aktivitas gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik masih meningkatkan potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan (22–28 Mei 2026).

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Zen Putri, dalam InfoBMKG pada Jumat (22/5/2026) menjelaskan dinamika atmosfer terkini masih cukup signifikan dalam memengaruhi kondisi cuaca nasional.

“Kondisi tersebut ditandai dengan peralihan musim dari hujan menuju kemarau yang memicu cuaca panas pada pagi hingga siang hari, namun tetap menyisakan peluang hujan pada sore hingga malam hari,” jelasnya.

BMKG juga mencatat kondisi cerah, berkurangnya tutupan awan, serta pemanasan permukaan yang intensif membuat suhu udara terasa lebih panas di sejumlah wilayah Indonesia.

Sebelumnya, pada periode 18–20 Mei 2026, suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius masih terpantau di beberapa wilayah, antara lain Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

Namun demikian, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat juga masih terjadi di sejumlah daerah. Curah hujan tercatat di Jawa Barat mencapai 133,1 mm per hari, Sulawesi Selatan 112,8 mm per hari, Jawa Timur 105,2 mm per hari, Sumatra Utara 105 mm per hari, DKI Jakarta 68,6 mm per hari, Papua Tengah 63,6 mm per hari, Kalimantan Barat 62,1 mm per hari, serta Jambi 54,6 mm per hari.

“Fenomena atmosfer masih aktif dan berkontribusi terhadap peningkatan potensi hujan di Indonesia. Di antaranya aktivitas Madden Julian Oscillation yang berpotensi aktif di wilayah Kepulauan Riau, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara bagian selatan, serta Papua bagian utara,” ujarnya.

Selain itu, gelombang Kelvin juga terpantau aktif di wilayah Laut Andaman, Aceh, Sumatra Utara, Selat Malaka, Laut Natuna Utara, hingga Kalimantan Utara. Sementara itu, gelombang Rossby ekuatorial diperkirakan memengaruhi Kalimantan bagian tengah hingga selatan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat bagian selatan, dan Papua Tengah bagian barat.

BMKG juga mencatat adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya, serta Samudra Pasifik utara Papua New Guinea yang turut memicu pertemuan dan perlambatan angin, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan.

“Kombinasi berbagai fenomena tersebut, termasuk tingginya kelembapan udara, pola belokan dan perlambatan angin, serta aktivitas konvektif, turut mendukung terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah Indonesia,” jelas Prakirawan BMKG.

Untuk periode 22–24 Mei 2026, BMKG memprakirakan cuaca secara umum didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Sejumlah wilayah juga berpotensi mengalami hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang dengan status siaga, yakni Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Maluku, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

“Angin kencang juga diprediksi terjadi di Aceh bagian utara dan pesisir barat, Sumatra Utara bagian pesisir barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian tenggara, Papua Barat, serta Papua Selatan,” jelas Zen Putri.

Selanjutnya, pada periode 25–28 Mei 2026, kondisi cuaca diperkirakan masih didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Hujan lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang berpotensi terjadi di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.

Selain itu, angin kencang juga berpotensi terjadi di Aceh bagian utara, Sumatra Utara, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

BMKG mengimbau masyarakat serta pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman BMKG, aplikasi Info BMKG, serta media sosial resmi BMKG. “Informasi akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru. Masyarakat diimbau tetap tenang namun siaga,” tutupnya.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian Pemuda 20 Tahun Diduga Tenggelam di Sungai Martapura

21 Juli 2026 - 21:33 WIB

Kinerja APBN Semester I 2026 Membaik, Menkeu Pastikan Fiskal Terjaga

21 Juli 2026 - 19:01 WIB

DPR RI Sahkan RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia Menjadi Undang-Undang

21 Juli 2026 - 18:58 WIB

Bila Tren Harga Minyak Melemah, Menteri ESDM Buka Peluang Penurunan Harga BBM Nonsubsidi

21 Juli 2026 - 18:55 WIB

Jadi Buronan Terorisme Siprus, Interpol Polri Ringkus WN Palestina

21 Juli 2026 - 18:52 WIB

Dalam 20 Bulan, Presiden Prabowo Sebut Pemerintah Wujudkan Berbagai Terobosan Strategis untuk Indonesia

21 Juli 2026 - 06:48 WIB

Trending di NASIONAL