Ricek.ID- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan, Rabu (19/8/2026) pagi.
Kabut asap terpantau mulai dari kawasan Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, hingga wilayah Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Kondisi tersebut membuat jarak pandang pengguna jalan menjadi terbatas, khususnya di sepanjang jalur utama Jalan Ahmad Yani yang menghubungkan Pelaihari-Banjarmasin.
Pantauan di lapangan, sejumlah pengendara sepeda motor, mobil hingga truk memilih mengurangi kecepatan, menyalakan lampu kendaraan, bahkan berhenti sementara untuk menunggu kondisi kembali membaik.
Salah seorang sopir truk, Purwanto (36), mengaku memilih berhenti karena jarak pandang di tengah kabut asap cukup terbatas.
“Pandangan saya tertutup oleh kabut asap, lebih baik saya berhenti sejenak takut kalau terjadi apa-apa dalam perjalanan,” ungkapnya.
Kekhawatiran juga dirasakan warga Bati-Bati. Rusmiati (26) mengaku kondisi kabut asap membuatnya waswas terhadap kesehatan keluarganya, terutama anak-anak yang harus beraktivitas di luar rumah.
“Saya merasa khawatir dengan kondisi kesehatan keluarga, apalagi anak-anak saya pagi berangkat ke sekolah,” katanya.
Sementara itu, Desi (25), salah seorang pengendara sepeda motor, mengatakan kabut asap yang cukup tebal membuatnya memilih menghentikan perjalanan sementara.
“Kabut asap lumayan tebal dan jarak pandang sangat terbatas. Saya memilih berhenti dulu sambil menunggu kabut asapnya berkurang. Takut kalau kecelakaan,” ucap Desi.
Kondisi jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap tidak hanya mengganggu kenyamanan perjalanan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengguna jalan yang melintas dengan kecepatan tinggi.
Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di tengah kondisi tersebut diimbau menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap. Pengendara juga diharapkan meningkatkan kewaspadaan, menjaga kecepatan, menyalakan lampu kendaraan, serta mengutamakan keselamatan selama perjalanan.
Sementara itu, kondisi kabut asap dan titik api di sejumlah wilayah masih menjadi perhatian, mengingat potensi karhutla dapat meningkat di tengah kondisi lahan yang kering.














