Ricek.ID – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menilai industri kesehatan berpotensi menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan laju pertumbuhan yang melampaui rata-rata nasional, sektor kesehatan dinilai mampu mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen sekaligus menyerap jutaan tenaga kerja baru.
Pernyataan tersebut disampaikan Menkes dalam Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 bersama BPS di Jakarta pada Kamis (11/6/2026). Menurutnya, pemerintah saat ini mengemban dua target besar seperti yang dicanangkan Presiden, yakni mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dan membuka sekitar 2 juta lapangan kerja baru setiap tahun.
“Bagaimana mencapai 8 persen dan menyerap 2 juta tenaga kerja, kita membutuhkan program-program yang konkret. Kita harus fokus pada sektor-sektor yang pertumbuhannya berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Budi Gunadi Sadikin menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen. Sementara itu, subsektor jasa kesehatan mampu tumbuh hingga 7,6 persen, melampaui rata-rata pertumbuhan nasional.
“Jasa kesehatan tumbuh 7,6 persen. Ini sudah berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,61 persen,” katanya.
Menurut Menkes, potensi ekonomi sektor kesehatan sesungguhnya jauh lebih besar. Selama ini, kontribusi industri kesehatan belum tergambarkan secara utuh karena data farmasi, alat kesehatan, dan layanan kesehatan masih tersebar dalam berbagai klasifikasi industri.
Padahal secara global, industri kesehatan terdiri atas tiga pilar utama yang masing-masing memiliki kontribusi signifikan, yaitu industri farmasi, industri alat kesehatan, dan industri jasa kesehatan.
Budi menyebutkan pertumbuhan industri farmasi nasional mencapai sekitar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan industri alat kesehatan tumbuh hingga 12 persen.
“Kalau sektor-sektor ini kita dorong bersama, peluang mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen menjadi lebih jelas. Kita punya dasar yang kuat karena pertumbuhannya memang di atas rata-rata,” ungkapnya.
Menkes menegaskan hasil Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan pemerintah. Data yang akurat akan membantu pemerintah merancang regulasi yang mampu mendorong pertumbuhan industri kesehatan secara lebih optimal.
“Ini akan menjadi basis kebijakan pemerintah. Kalau ada aturan yang perlu diperbaiki agar sektor kesehatan bisa tumbuh lebih cepat, data inilah yang akan menjadi pijakannya,” jelas Budi.
Menurutnya, kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri kesehatan tidak hanya berdampak pada pencapaian target ekonomi nasional, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha melalui peningkatan kapasitas layanan dan pendapatan.
Karena itu, Menkes mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan untuk berpartisipasi aktif dalam Sensus Ekonomi 2026. Keterlibatan rumah sakit, puskesmas, klinik, laboratorium, apotek, praktik dokter mandiri, serta berbagai asosiasi profesi dinilai penting untuk menghasilkan data yang berkualitas.
“Kita butuh data yang benar agar bisa mengambil kebijakan yang benar. Kalau data yang masuk salah, kebijakan yang dihasilkan juga bisa salah,” tegasnya.
Budi juga memastikan data yang disampaikan dalam Sensus Ekonomi 2026 dijamin kerahasiaannya dan tidak akan digunakan untuk kepentingan perpajakan.
“Jangan takut datanya bocor. Data ini digunakan untuk menyusun kebijakan agar pemerintah dapat menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan sektor kesehatan,” ujarnya.
Menkes berharap Sensus Ekonomi 2026 mampu menghadirkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kontribusi sektor kesehatan terhadap perekonomian nasional. Dengan dukungan regulasi yang tepat dan berbasis data, industri kesehatan diyakini dapat berkembang lebih pesat, menjadi penggerak ekonomi baru, sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.
“Kalau regulasinya tepat, sektor kesehatan bisa tumbuh lebih tinggi. Harapannya, ketiga subsektor kesehatan dapat berkembang bersama dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional,” pungkas Budi.
Sumber : infopublik.id









