Menu

Mode Gelap
Kabut Asap Karhutla Selimuti Bati-Bati hingga Banjarbaru, Pengendara Pilih Berhenti Polisi Amankan Pria Diduga Pelaku Begal Payudara di Martapura, Akui Beraksi di 7 Lokasi Operasi SAR Berakhir, Korban Tenggelam di Sungai Martapura Depan Menara Siring Pandang Ditemukan Meninggal Dunia Tim SAR Gabungan Laksanakan Operasi Pencarian Seorang Pria Diduga Tenggelam di Sungai Martapura Mengaku Polisi, Pria Ini Raup Jutaan Rupiah dengan Iming-iming Kerja di Polres Banjarbaru

ADVERTORIAL · 18 Agu 2026 15:58 WIB

Masuki Usia 76 Tahun, Kabupaten Banjar Perkokoh Posisi sebagai Lumbung Pangan Kalsel


 Masuki Usia 76 Tahun, Kabupaten Banjar Perkokoh Posisi sebagai Lumbung Pangan Kalsel Perbesar

Ricek.ID – Kabupaten Banjar yang memasuki usia ke-76 tahun terus memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penyangga pangan di Kalimantan Selatan (Kalsel). Produksi padi yang meningkat, modernisasi pertanian hingga berbagai inovasi distribusi pangan menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah menjaga ketersediaan pangan sekaligus mempertahankan julukan “Kindai Limpuar.”

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar, Nurul Chatimah, mengatakan sektor tanaman pangan, khususnya padi, menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, produksi padi Kabupaten Banjar tercatat mencapai 236.947 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau naik sekitar 2.517 ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian tersebut menempatkan Kabupaten Banjar sebagai produsen padi terbesar kedua di Kalimantan Selatan setelah Kabupaten Barito Kuala. Potensi pertanian juga tersebar di seluruh 20 kecamatan, baik melalui lahan sawah maupun lahan kering yang menghasilkan padi gogo.

“Capaian ini menempatkan Kabupaten Banjar sebagai produsen padi terbesar kedua di Kalimantan Selatan setelah Barito Kuala. Dari 20 kecamatan yang ada, semuanya memiliki potensi padi yang mumpuni, baik di lahan sawah maupun lahan kering atau padi gogo,” jelas Nurul pada Rabu lalu (12/8/2026).

Dari sisi ketersediaan pangan, Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DKPP Kabupaten Banjar, Muhammad Hamdani, menyebut rasio ketersediaan beras pada 2026 mencapai 1:1,9. Artinya, produksi yang tersedia tidak hanya mencukupi kebutuhan masyarakat dalam satu tahun, tetapi masih menyisakan cadangan sekitar 10 bulan.

“Artinya, hasil panen kita mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama satu tahun penuh, ditambah cadangan untuk sekitar 10 bulan ke depan. Ini belum termasuk potensi hasil panen yang berjalan pada tahun 2026,” ungkap Hamdani.

Upaya menjaga ketahanan pangan juga terlihat dari berkurangnya jumlah desa yang masuk kategori rawan pangan. Pada 2024 tercatat 19 desa, kemudian turun menjadi 16 desa pada 2025. Penurunan tersebut didukung kolaborasi lintas SKPD, mulai dari peningkatan akses jalan, penyediaan air bersih hingga pemberian stimulus ekonomi bagi masyarakat.

Di sektor produksi, pemerintah daerah juga mulai mendorong transformasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi. Program YESS dan Batumbang Tani Manis diarahkan untuk mendorong lahirnya generasi petani muda, sementara Optimasi Lahan (OPLA), Cetak Sawah Rakyat dan pembentukan Brigade Pangan diperkuat dengan dukungan alat dan mesin pertanian.

Modernisasi tidak berhenti pada penggunaan traktor, combine harvester maupun rice transplanter. Dinas Pertanian Kabupaten Banjar mulai memanfaatkan drone pertanian untuk membantu penaburan benih, penyemprotan gulma dan pemupukan.

“Saat ini drone baru digunakan di lokasi CSR seperti Sungai Tabuk dan Martapura Barat. Tahun depan kami merencanakan pelatihan sertifikasi pilot drone agar penggunaannya makin optimal,” kata Nurul.

Sementara untuk menjaga kestabilan harga dan distribusi bahan pangan, DKPP Kabupaten Banjar mengembangkan sejumlah inovasi. Di antaranya Kaka Mapan (Kampung Kami Mandiri Pangan) untuk mendorong kemandirian pangan desa, I-Padaringan sebagai platform pemantauan harga bahan pokok secara real-time, serta Beling (Beras Keliling) yang mendistribusikan beras murah bersubsidi langsung ke permukiman warga.

Berbagai upaya tersebut turut mengantarkan Kabupaten Banjar meraih Terbaik II se-Kalimantan Selatan dalam evaluasi Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Ketersediaan Pangan Tahun 2025.

Tantangan perubahan cuaca juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Saat kemarau berdampak terhadap sekitar 584 hektare lahan, langkah mitigasi dilakukan melalui bantuan pompanisasi serta edukasi kepada petani untuk menggunakan varietas padi berumur pendek. Pemerintah juga mengusulkan bantuan benih untuk lahan seluas 6.800 hektare melalui program OPLA dan 625 hektare melalui program PMAAS.

Dengan peningkatan produksi, pemanfaatan teknologi, penguatan petani muda, hingga inovasi distribusi pangan, Kabupaten Banjar berupaya menjaga predikat sebagai “Kindai Limpuar” sekaligus membangun sistem ketahanan pangan yang lebih adaptif menghadapi tantangan di masa mendatang.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Kabut Asap Masih Selimuti Jalur Tala-Banjarbaru, Pemdes Gunung Raja Bagikan Masker kepada Pengendara

20 Agustus 2026 - 16:25 WIB

Polres Tanah Laut Gelar Salat Istisqa, Berdoa di Tengah Kemarau dan Ancaman Karhutla

19 Agustus 2026 - 21:07 WIB

299 Warga Binaan Rutan Pelaihari Terima Remisi HUT ke-81 RI, 6 Langsung Bebas

18 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Tutup Kalsel Expo 2026, Gubernur Muhidin Dorong UMKM Jadi Penggerak Perekonomian Daerah

18 Agustus 2026 - 07:56 WIB

Banjarbaru Teguhkan Komitmen Wujudkan Kota Maju & Sejahtera dalam Resepsi Kenegaraan HUT ke-81 RI

18 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Pimpin Upacara Penurunan Bendera, Ketua DPRD Banjarbaru Ajak Aparatur Tingkatkan Pelayanan Publik

18 Agustus 2026 - 07:49 WIB

Trending di Banjarbaru