Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

KALBAR · 7 Mar 2026 22:40 WIB

Diplomat Tiongkok Kagumi Infrastruktur Pontianak Buka Peluang Kerja Sama Energi dan Infrastruktur


 Diplomat Tiongkok Kagumi Infrastruktur Pontianak Buka Peluang Kerja Sama Energi dan Infrastruktur Perbesar

Pontianak, Ricek.ID – Kota Pontianak kembali menarik perhatian dunia internasional. Kali ini, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, mengaku terkesan dengan perkembangan infrastruktur dan penataan kota yang dinilai semakin maju.

Kesan tersebut disampaikan Wang Lutong saat melakukan kunjungan dan audiensi dengan Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, di Ruang VIP Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (5/3/2026) pagi.

Dalam pertemuan tersebut, Wang Lutong menilai Pontianak memiliki posisi strategis sebagai pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut membuat kota berjuluk Kota Khatulistiwa ini dinilai memiliki potensi besar untuk dijajaki peluang kerja sama, khususnya di sektor pembangunan dan investasi.

“Kami baru pertama kali datang ke Pontianak, tetapi kami melihat infrastruktur dan penataan kotanya sangat baik,” ujar Wang Lutong.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda diplomatiknya di Indonesia setelah menghadiri perayaan Imlek Nasional di Jakarta serta Festival Cap Go Meh di Singkawang.

Berdasarkan berbagai informasi yang ia peroleh, Pontianak dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan ekonomi, terutama dalam penguatan infrastruktur perkotaan dan pengelolaan lingkungan.

Salah satu peluang kerja sama yang ditawarkan adalah pengolahan sampah berbasis energi melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Wang Lutong menjelaskan bahwa Tiongkok memiliki teknologi yang cukup maju dalam mengolah sampah menjadi energi. Bahkan, sejumlah perusahaan milik negara dari Tiongkok telah terlibat dalam proyek serupa di berbagai daerah di Indonesia.

“Indonesia secara nasional sudah mengajukan proyek PLTSa dan beberapa di antaranya telah disetujui. Kami memiliki teknologi yang cukup canggih untuk itu,” jelasnya.

Selain sektor energi, pihaknya juga membuka peluang kerja sama dalam pembangunan infrastruktur kota, termasuk mendukung rencana pembangunan Jembatan Garuda yang tengah digagas Pemerintah Kota Pontianak.

Pembangunan jembatan tersebut diharapkan mampu mengurai kemacetan sekaligus meningkatkan konektivitas antarwilayah di Pontianak.

Lebih jauh, Wang Lutong menilai hubungan bilateral antara Indonesia dan China saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik. Hal itu terlihat dari meningkatnya kerja sama investasi di berbagai sektor, termasuk industri pertambangan serta program hilirisasi bauksit yang menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional.

Ia juga menyoroti kuatnya hubungan budaya antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok yang terus berkembang. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya minat masyarakat Indonesia untuk mempelajari bahasa Mandarin sebagai bekal dalam kerja sama ekonomi dan hubungan internasional.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Ia menilai hubungan historis antara masyarakat Tionghoa dan Kota Pontianak telah terjalin sejak lama dan menjadi bagian penting dari identitas kota.

“Banyak warga Tionghoa di Pontianak yang memiliki sejarah panjang dengan Tiongkok. Mereka telah menjadi warga negara Indonesia dan turut mewarnai keberagaman di Pontianak,” ungkapnya.

Edi menambahkan, akulturasi budaya tersebut tercermin dalam berbagai tradisi masyarakat, ragam kuliner khas, hingga keberadaan kelenteng-kelenteng tua yang masih berdiri kokoh di Pontianak.

Menurutnya, keberagaman masyarakat Kalimantan Barat juga dikenal dengan istilah Tidayu, yakni akronim dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang menjadi simbol persatuan serta harmoni sosial di daerah tersebut.

“Ini menjadi kekuatan sosial sekaligus budaya yang membuat Pontianak tetap harmonis dalam keberagaman,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Kalimantan Raih Penghargaan Internasional Lewat Program Pemberdayaan Masyarakat

28 Mei 2026 - 11:12 WIB

Bongkar Penyelundupan, Polri Musnahkan Ribuan Kilogram Bawang Ilegal

22 Mei 2026 - 17:59 WIB

Bertanding di AVC Men’s Club Championship 2026, Jakarta Bhayangkara Presisi Raih Kemenangan Perdana

14 Mei 2026 - 18:15 WIB

Pertamina Jelaskan Mekanisme Harga Avtur kepada DPD RI di Kalimantan

7 Mei 2026 - 10:31 WIB

Kotabaru Terbaik di Kalimantan, Menangi Kategori Creative Financing 2026

6 Mei 2026 - 07:45 WIB

Hadapi Perubahan Iklim, Komisi Irigasi Kalsel Fokus Percepatan Ketahanan Pangan

30 April 2026 - 20:43 WIB

Trending di ADVERTORIAL