Menu ✖

Mode Gelap
Tujuh Kabupaten di Kalsel Terima Bantuan Karhutla Rp80 Miliar dari Pusat Buruh Harian Tewas Dianiaya di Awang Bangkal Barat, Polisi Amankan Barang Bukti Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi

EKOBIS · 19 Jun 2026 19:37 WIB

Indonesia Jadikan Bioetanol Sebagai Kunci Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Global


 Indonesia Jadikan Bioetanol Sebagai Kunci Ketahanan Energi di Tengah Gejolak Global Perbesar

Ricek.ID – Di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan energi global, transisi energi Indonesia memasuki fase krusial. Bioetanol kini mulai dipandang bukan sekadar bahan bakar alternatif, melainkan instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi hijau.

Isu tersebut mengemuka dalam workshop bertajuk “Bioetanol dan Ketahanan Energi Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Kemitraan” yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Institute bersama Global Centre for Green Fuels (GCGF) di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan pada Kamis (18/6/2026).

Forum lintas sektor ini hadir pada momentum penting, menyusul meningkatnya kekhawatiran terhadap kerentanan energi nasional akibat gejolak geopolitik global. Krisis di Selat Hormuz pada awal tahun menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor masih menjadi titik lemah Indonesia dalam menjaga stabilitas energi.

Kondisi tersebut memperkuat urgensi percepatan pengembangan biofuel domestik, termasuk bioetanol, sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi nasional.

Pemerintah sendiri telah mengatur roadmap pencampuran bioetanol melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026. Kebijakan itu menetapkan implementasi pencampuran E5 di enam provinsi mulai semester II 2026, yang selanjutnya ditargetkan meningkat menjadi E10 secara nasional pada 2028.

Namun demikian, ambisi regulasi tersebut masih menghadapi tantangan besar, mulai dari kesiapan industri hulu, pasokan bahan baku, infrastruktur distribusi, hingga ekosistem investasi.

Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian, menegaskan keamanan energi kini telah berevolusi menjadi isu strategis yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional.

“Keamanan energi bukan lagi sekadar persoalan pasokan, tetapi telah menjadi isu ekonomi dan kepentingan strategis nasional. Gangguan rantai pasok energi global menunjukkan betapa rentannya negara terhadap guncangan eksternal,” ujarnya.

Menurut Fakhrul, bioetanol menawarkan manfaat multidimensi. Selain mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil, pengembangan industri bioetanol juga berpotensi meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, memperluas investasi, dan membuka lapangan kerja baru.

“Bioetanol lebih dari sekadar alternatif bahan bakar. Ini peluang untuk mendiversifikasi bauran energi, memperkuat sektor pertanian, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung transisi Indonesia menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu Managing Director GCGF, Clarence Woo, menyoroti pengalaman sejumlah negara Asia yang dinilai berhasil mempercepat adopsi bioetanol melalui kombinasi kebijakan yang konsisten dan insentif investasi.

Ia mencontohkan India yang mampu meningkatkan pencampuran etanol dari di bawah 5 persen menjadi 20 persen hanya dalam waktu delapan tahun melalui mandat kebijakan yang jelas dan dukungan kuat bagi produsen.

Thailand juga dinilai menunjukkan bukti konkret bahwa bioetanol dapat melindungi konsumen dari volatilitas harga energi global.

“Ketika harga minyak melonjak, campuran etanol yang lebih tinggi justru membantu melindungi konsumen. E20 di Thailand tahun ini sekitar 14 persen lebih murah per liter dibanding E10. Indonesia memiliki semua alasan untuk melangkah dengan percaya diri,” ujar Clarence.

Pengembangan bioetanol dinilai semakin relevan dengan agenda transisi energi nasional yang menuntut kemandirian energi sekaligus penurunan emisi karbon. Dengan dukungan regulasi yang kuat, kesiapan industri, dan kemitraan lintas sektor, bioetanol berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan ketahanan energi Indonesia yang berkelanjutan.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Tim Gabungan Polri, BNN & Bea Cukai Sita Hampir 1,2 Ton Sabu dari Laboratorium Gelap di Aceh

25 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Polisi Selamatkan Induk & Anak Orang Utan Terdampak Karhutla di Kalimantan Tengah

25 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Menko Pangan Lepas Ekspor Perdana 40 Ton Terasi UMKM Asahan ke Thailand

25 Oktober 2026 - 20:29 WIB

Insiden Pesawat Asian One di Papua Tengah, Kemenhub Pastikan Seluruh Penumpang & Awak Pesawat Selamat

24 Oktober 2026 - 19:50 WIB

BMKG Sebut Kondisi Relatif Kering masih Berpotensi Terjadi hingga 2 November 2026

24 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Menpora Dampingi Atlet, Indonesia Lampaui Target dengan 10 Emas Asian Para Games 2026

24 Oktober 2026 - 19:10 WIB

Trending di NASIONAL