Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

RELIGI · 15 Jul 2023 00:24 WIB

Tanda – Tanda Kamu Dapat Haji Mabrur


 Jemaah haji Debarkasi Banjarmasin tiba di Bandara Syamsuddin Noor langsung bersujud syukur sepulang dari Tanah Suci. Foto-Kemenag Kalsel. Perbesar

Jemaah haji Debarkasi Banjarmasin tiba di Bandara Syamsuddin Noor langsung bersujud syukur sepulang dari Tanah Suci. Foto-Kemenag Kalsel.

Dapat melaksanakan ibadah haji adalah dambaan bagi tiap muslim yang beriman. Rukun Islam ke-lima ini wajib hukumnya dilaksanakan bagi yang sudah mampu. Tujuan utamanya mendapatkan haji yang mabrur dan keridhaan Allah SWT. Bukan yang lain.

Haji mabrur adalah haji yang sempurna, dilakukan dengan benar dan diterima oleh Allah SWT. Haji mabrur adalah haji yang dijalankan sesuai tuntunan dari baginda Nabi Muhammad SAW.

Ibadah haji sarat dengan makna dan hikmah kehidupan di baliknya. Salah satu ganjaran haji yang mabrur adalah surga, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

الْحَجَّةُ الْمَبْرُورَةُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya: “Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR An-Nasa’i).

Haji yang mambrur dapat terlihat dari perubahan seorang muslim sepulang dari Tanah Suci, dari yang asalnya buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Singkatnya, tidak lagi mengulangi dosa – dosa yang diperbuat sebelumnya dan menjadi muslim yang lebih baik. Hal ini pernah dijelaskan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: “Barang siapa berhaji karena Allah lalu tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari).

Setidaknya ada tiga kata kunci dalam hadis tersebut, pertama Lillah, yaitu berhaji karena Allah SWT. Ini disebut ikhlas. Ikhlas berarti tidak ada motif lain dari melaksanakan haji kecuali hanya mengharap ridha Allah SWT, bukan ingin mendapatkan kemuliaan dari manusia atau hanya sekedar ingin dipanggil Pak Haji.

Kata kunci kedua yaitu tidak berkata kotor atau jorok. Singkatnya, perkataan yang berpotensi menyakiti orang lain. Hal itu jauh dari prilaku orang yang hajinya mabrur. Ketiga, tidak lagi berbuat fasik atau dosa, entah itu dosa kepada tuhan atau kepada manusia. Dua kata ini menggunakan Fi`il Mudhari, yang berarti tidak melakukannya lagi di kemudian hari.

Jika terkumpul tiga syarat tersebut Rasulullah SAW memastikan seorang muslim yang pulang dari haji itu itu telah diampuni dosa-dosanya seperti bayi baru dilahirkan.

Menghindari perbuatan – perbuatan jelek saja masih belum cukup. Haji yang mabrur tentunya ditandai dengan akhlak yang baik. Seperti santun dalam bertutur kata, menebarkan kedamaian, dan memiliki kepedulian sosial terhadap siapapun. Hal ini sesuai dengan jawaban Rasulullah SAW ketika ditanya sahabatnya tentang haji mabrur.

قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya: “Para sahabat bertanya, ‘wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian,'” (HR Ahmad).

سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Artinya: “Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’ (Umdatul Qari).

Muslim yang hajinya mabrur punya kepedulian sosial yang tinggi, ringan membantu sesama. Rasullullah SAW mencontohkannya dengan memberi makanan. Artinya dia pemurah, bukan kikir. Peduli, bukan abai atau tidak tahu menahu ketika melihat ada yang kesusahan. Muslim yang hajinya mabrur jauh dari menyusahkan orang lain, apalagi sampai merugikan orang banyak.

Kemudian menebar salam atau kedamaian, yang berarti tidak membuat keributan, fitnah, atau permusuhan dengan siapa pun. Tidak iri dengki, dendam, gibah, tidak suka melihat orang bertikai, tidak suka perpecahan. Sebaliknya, dia lebih suka merangkul, mendamaikan yang bertikai, menyambung tali silaturrahmi.

Santun dalam berkata berarti tidak mengucapkan kata-kata yang kasar, kotor, atau menyinggung orang lain, berkata yang benar tidak dusta, tidak memfitnah apalagi adu domba dan provokasi.

Pada akhirnya, haji mabrur bukan hanya soal pakaian ihram saja, tetapi juga soal hati yang bersih dan suci. Haji mabrur bukan hanya soal mengunjungi Baitullah saja, tetapi juga soal menjalin hubungan baik dengan sesama makhluk Allah.

Hendra Lianor , ditulis dari berbagai sumber.

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Menhaj Sebut Haji 2026 Jadi Tonggak Baru Pelayanan Jemaah Indonesia

27 Mei 2026 - 13:30 WIB

MTQ Internasional Pemuda Masjid Dunia Jadi Ajang Syiar Islam Moderat

27 Mei 2026 - 13:12 WIB

Ayo Cek Arah Kiblat Rumah, Matahari Tepat di Atas Ka’bah pada 27 – 28 Mei

25 Mei 2026 - 18:22 WIB

LPTQ Kotabaru Luncurkan Program Pembinaan Talenta Qari dan Qariah 2026

23 Mei 2026 - 13:55 WIB

Sah, Idul Adha 1447 Hijriyah Ditetapkan Tanggal 27 Mei 2026

18 Mei 2026 - 18:19 WIB

Kloter 13 Embarkasi Banjarmasin Jamaah Haji Kotabaru dan Tanah Bumbu Berangkat ke Tanah Suci

12 Mei 2026 - 09:10 WIB

Trending di ADVERTORIAL