Ricek.ID – Wali Kota Banjarmasin M. Yamin HR bersama Ketua TP PKK Kota Banjarmasi Neli Listiani dan keluarga hadiri puncak Festival Teluk Kelayan Musik Sampah Ecomusicology Soundscapes Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Banjarmasin 2026 di Taman Kelayan pada Sabtu malam (9/5/2026).
Festival ini menampilkan 4 karya utama yang merupakan Residu dan Garak karya Surya Tajudin, serta Taladumba, dan Journey karya Budi Jakia Sani.
Dengan 300 peserta dari berbagai komunitas yang turut meramaikan acara yang mengangkat isu lingkungan melalui seni musik.
Adapun peralatan yang di gunakan dari limbah sampah seperti galon bekas dan kaleng bekas, yang kemudian alat-alat tersebut dipukul dan dipetik hingga menghasilkan perpaduan suara musik yang unik.
Sebagai tanda dibukanya puncak kesenian, Wali Kota Yamin bersama Ketua TP PKK Neli Listiani turut menabuh galon dan kaleng bekas yang disambut antusias oleh warga yang memadati Taman Kelayan.
Yamin menyampaikan apresiasi atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Banjarmasin.
“Saya sangat mengapresiasi Festival Musik Sampah yang dimotori oleh pegiat kebudayaan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Muhammad Akram, penerima dukungan dari Kementerian Kebudayaan, dan dilaksanakan di Teluk Kelayan,” ujarnya.
Yamin menilai kegiatan ini relevan dengan kondisi Banjarmasin yang menghadapi persoalan sampah.
“Dengan peralatan musik dari barang bekas atau daur ulang sampah, kita berharap kegiatan ini terus berjalan lancar. Ke depan, Kelurahan Kelayan bisa menjadi contoh atau pilot project untuk pembinaan pengurangan sampah plastik dan pengolahan dari sumbernya,” tambahnya.
Yamin juga berterima kasih kepada masyarakat, tokoh masyarakat, dan para RT yang ikut berperan menyukseskan acara.
Sementara itu, Muhammad Akram, Penerima Manfaat Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan, menjelaskan kegiatan ini merupakan program Layanan Media Penciptaan Karya Kreatif Inovatif untuk Dana Perseorangan.
“Dana ini saya representasikan untuk mengaktivasi warga. Judul Musik Sampah saya angkat karena sejak 2024, saat TPA Basirih ditutup, sampah jadi isu paling menarik di Kalsel. Proposal saya langsung diterima kementerian,” jelasnya.
Akram juga mensosialisasikan program Dana Indonesiana 2025 akan kembali dibuka.
“Untuk perseorangan maksimal Rp200-300 juta, lembaga dan komunitas bisa Rp500 juta sampai Rp1 miliar. Ibu BPK siap menerima 100 proposal tahun ini,” ujarnya.
Akram juga menyebut sebelum puncak acara, telah digelar workshop 5 hari karena antusiasme warga tinggi, padahal awalnya hanya direncanakan 1 hari.
Ia berterima kasih kepada Kelurahan Kelayan, Kecamatan, para RT, dan seluruh pihak yang mendukung, serta berharap Festival ini bisa berlanjut tiap tahun.
“Izin Pak Wali, Kelurahan Kelayan akan kami aktivasi keberlanjutannya. Kami ingin menjadikan tempat ini sebagai laboratorium kami, desa budaya percontohan melalui pendekatan kebudayaan. Ini kado kecil kami bersama masyarakat untuk 500 tahun Kota Banjarmasin,” tutup Akram.
Festival ini menjadi bukti isu sampah dapat didekati secara kreatif melalui seni dan budaya, sekaligus membuka peluang pendanaan bagi komunitas melalui Dana Indonesiana.
Kegiatan ini juga di hadiri Kepala Dinas Disbudporapar Kota Banjarmasin, Kepala DLH Provinsi, Kepala DLH kota Banjarmasin Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Selatan Manggarsari Ayuwati, Kepala SKPD Kota Banjarmasin, Kapolsek Banjarmasin Selatan, Koramil Banjarmasin Selatan, koordinator kegiatan Novelis Saputri Saputra, serta pakar tenaga ahli bidang kebudayaan Misbahuddin.
Sumber : Prokom Banjarmasin













