Ricek.ID – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I 2026 tunjukkan perbaikan yang signifikan. Pendapatan negara tumbuh kuat, belanja negara tetap optimal untuk mendukung prioritas pembangunan, sementara pengelolaan pembiayaan dilakukan secara hati-hati sehingga menjaga kesehatan fiskal nasional.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBNKITA Edisi Juli 2016 di Jakarta pada Selasa (21/7/2026) mengatakan, APBN terus menjalankan perannya sebagai instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkualitas.
Hingga akhir Juni 2026, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target APBN 2026, tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun yang tumbuh 21,4 persen, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp271 triliun atau meningkat 21,6 persen.
“Pendapatan negara menunjukkan tren yang semakin baik. Seluruh komponen penerimaan tumbuh positif sehingga memberikan ruang fiskal yang memadai untuk membiayai berbagai program prioritas pemerintah,” ujar Menkeu.
Di sisi belanja, pemerintah telah merealisasikan Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari pagu APBN 2026. Belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.298,6 triliun, sedangkan Transfer ke Daerah terealisasi Rp357,4 triliun. Belanja tersebut diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta mempercepat pelaksanaan agenda pembangunan nasional.
Menkeu menegaskan kualitas pengelolaan fiskal juga tercermin dari kondisi defisit APBN yang tetap terkendali. Hingga Semester I 2026, defisit tercatat Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), disertai surplus keseimbangan primer sebesar Rp85,1 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan APBN tetap sehat sekaligus mampu memberikan dukungan bagi perekonomian nasional.
“APBN terus dikelola secara prudent, kredibel, dan berkelanjutan. Di satu sisi kita menjaga disiplin fiskal, namun di sisi lain APBN tetap mampu menjadi shock absorber dan mendukung pencapaian target pembangunan,” kata Purbaya.
Perbaikan kinerja fiskal juga terlihat secara bertahap sepanjang Semester I 2026. Pertumbuhan pendapatan negara meningkat dari 10,5 persen pada akhir Maret menjadi 21,4 persen pada akhir Juni, sementara realisasi belanja negara tetap terjaga untuk memastikan berbagai program pemerintah berjalan sesuai rencana. Pembiayaan anggaran juga dilaksanakan secara terukur sehingga mendukung stabilitas fiskal.
Selain menjaga kesehatan APBN, pemerintah juga terus memperluas sumber pembiayaan yang efisien melalui diversifikasi instrumen pembiayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Menkeu menyampaikan rencana penerbitan Panda Bonds pada 23 Juli 2026, dengan target ekuivalen USD1 miliar atau sekitar CNY7 miliar, menyesuaikan kondisi pasar. Indonesia juga telah memperoleh peringkat AAA/Stable dari China Lianhe Rating Co., Ltd., yang mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi nasional, kesinambungan fiskal, serta kapasitas pembayaran utang yang baik.
“Kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia terus terjaga. Hal tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mengelola pembiayaan secara efisien, memperkuat ketahanan fiskal, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” pungkas Purbaya.
Sumber : infopublik.id









