Menu

Mode Gelap
Viral Video IGD Puskesmas Sungai Ulin, Wali Kota Banjarbaru Jenguk Pasien di RSUD Ratu Zalecha Kandang Ayam dan Truk Terbakar di Pelaihari, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Rupiah Kabut Asap Karhutla Ganggu Pengendara di Jalur Tanah Laut–Banjarbaru, Polisi Beri Imbauan Karhutla Berkobar di Liang Anggang Banjarbaru, Jalur Banjarbaru–Bati-Bati Ditutup Total Kabut Asap Karhutla Selimuti Bati-Bati hingga Banjarbaru, Pengendara Pilih Berhenti

ADVERTORIAL · 7 Sep 2026 20:45 WIB

Bigfast Banjarbaru Awali Usaha di Era Pandemi, Kini Raup Puluhan Juta per Bulan


 Bigfast Banjarbaru Awali Usaha di Era Pandemi, Kini Raup Puluhan Juta per Bulan Perbesar

Ricek.ID – Berawal dari kebutuhan menjaga kebersihan di tengah pandemi Covid-19, sebuah usaha rumahan di Kota Banjarbaru kini tumbuh menjadi produsen kebutuhan rumah tangga dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.

Adalah Bigfast, rumah produksi yang mengembangkan berbagai produk kebutuhan kebersihan, mulai dari sabun cuci piring, sabun cuci tangan hingga cairan pembersih lantai. Berdiri pada 2021, Bigfast memanfaatkan momentum pandemi ketika produk kebersihan menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat.

Owner Bigfast, Irwaningsih, pada Senin (7/9/2026) menuturkan bahwa sabun cuci tangan menjadi salah satu produk yang paling banyak dicari ketika pandemi melanda. Dari kebutuhan tersebut, usaha yang awalnya dirintis untuk memenuhi kebutuhan kebersihan kini berkembang menjadi bisnis yang memiliki pasar tetap.

“Saat pandemi Covid-19 melanda, salah satu barang yang paling dicari yaitu sabun cuci tangan. Dan hingga saat ini produk kami menjadi kebutuhan setiap rumah tangga,” ujarnya.

Perjalanan Bigfast tidak berhenti pada pasar rumah tangga. Produk yang diproduksi di Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru tersebut kini telah masuk ke pasar usaha dan institusi.

“Saat ini kami melayani, alhamdulillah, 12 cabang Mie Gacoan Kalselteng sebagai penyuplai tetap produk pembersih Bigfast. QMall Banjarbaru juga salah satunya, serta beberapa rumah makan dan rumah sakit di Banjarbaru dan Banjarmasin,” ungkap Irwaningsih.

Pertumbuhan pasar tersebut turut berdampak pada pendapatan usaha. Saat ini, Bigfast mampu membukukan omzet sekitar Rp50 juta hingga Rp80 juta per bulan.

Namun, capaian tersebut tidak diraih dalam waktu singkat. Pada awal berdiri, Bigfast menghadapi tantangan besar dalam mengenalkan merek kepada masyarakat. Sebagai brand baru, kepercayaan konsumen menjadi pekerjaan rumah yang harus dibangun dari nol.

Strategi pun dilakukan dengan cara sederhana tetapi efektif. Bigfast menawarkan produknya secara langsung kepada calon pelanggan dengan memberikan sampel agar konsumen dapat melihat dan merasakan sendiri kualitas produk yang ditawarkan.

“Awal kami berdiri di tahun 2021 itu kesulitan mengenalkan produk karena masyarakat belum mengenal brand Bigfast. Solusinya, kami langsung menawarkan kepada customer dengan memberikan sampel, menunjukkan bagaimana kualitas kami dan bagaimana pelayanan kepada customer,” jelasnya.

Kini, setelah pasar mulai terbentuk, tantangan Bigfast bergeser. Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah ketersediaan bahan baku yang sebagian besar harus didatangkan dari Pulau Jawa. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kelancaran produksi dan memenuhi permintaan pelanggan.

Di tengah tantangan tersebut, dukungan pemerintah daerah dinilai turut memberikan dorongan bagi perkembangan usaha. Irwaningsih mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Banjarbaru terhadap pelaku UMKM, termasuk dukungan dari Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby.

“Alhamdulillah sekali, untuk dukungan dari Pemerintah Banjarbaru, terutama dari Ibu Wali Kota, sangat mensupport usaha kami. Beberapa waktu lalu beliau juga yang meresmikan pembukaan gudang produksi kami,” tuturnya.

Dari sisi produksi, Bigfast membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk menyelesaikan satu rangkaian produksi, mulai dari proses pencampuran bahan baku hingga produk siap dikemas.

Salah satu tahapan penting adalah proses homogenisasi. Setelah bahan dicampurkan, produk harus melalui proses pendiaman selama sekitar 24 jam untuk memastikan campuran mencapai kondisi yang dibutuhkan sebelum memasuki tahapan berikutnya hingga pengemasan.

Kisah Bigfast menunjukkan bahwa kebutuhan yang muncul di tengah krisis dapat menjadi pintu masuk lahirnya peluang usaha. Dari sabun cuci tangan yang diproduksi untuk menjawab kebutuhan kebersihan saat pandemi, Bigfast perlahan membangun kepercayaan, memperluas pasar, hingga menjadi pemasok bagi sejumlah pelaku usaha dan institusi.

Dengan omzet yang kini mencapai Rp50 juta hingga Rp80 juta per bulan serta jaringan pelanggan yang terus berkembang, Bigfast menjadi salah satu gambaran bagaimana UMKM lokal Banjarbaru mampu naik kelas dengan mengandalkan kualitas produk, pelayanan dan keberanian membangun pasar dari nol.

Sumber : Media Center Banjarbaru

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Dukung PKPN 2027, Kemenkeu Siapkan Rp49,80 Triliun

7 September 2026 - 20:51 WIB

OJK Bersama Stakeholders Canangkan Bulan Dana Pensiun 2026

7 September 2026 - 20:48 WIB

Sekda Banjarbaru Dorong Antisipasi Masalah Sejak Dini, Tak Menunggu Hingga Membesar

7 September 2026 - 20:42 WIB

Sekda Banjar Dorong ASN Jadi Panutan Kepatuhan Pajak Kendaraan Bermotor

7 September 2026 - 20:39 WIB

Lantik 23 Pambakal, Bupati Banjar Minta Rangkul Seluruh Masyarakat

7 September 2026 - 20:37 WIB

BPBD Banjar Distribusikan 10 Ribu Liter Air Bersih Di Kecamatan Beruntung Baru

7 September 2026 - 20:35 WIB

Trending di ADVERTORIAL