Ricek.ID- Memasuki usia ke-76 tahun, Kabupaten Banjar tidak hanya memiliki perjalanan panjang dalam pembangunan daerah, tetapi juga menyimpan kekayaan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Beragam tradisi, kesenian, permainan tradisional, kuliner, kerajinan hingga kegiatan adat dan keagamaan masih dijalankan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga identitas Kabupaten Banjar di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Namun, keberlangsungan budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi yang sudah ada. Tantangan yang semakin penting adalah memastikan adanya generasi penerus yang mampu menjaga sekaligus mengembangkan warisan tersebut.
Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar menilai, potensi budaya daerah sangat beragam. Mulai dari kesenian tradisional, musik dan tari, Mamanda, Madihin, Kuda Gepang, seni bela diri tradisional, permainan rakyat, tradisi keagamaan dan masyarakat hingga kuliner khas Banjar.
Selain itu, Kabupaten Banjar juga memiliki berbagai cagar budaya dan peninggalan sejarah yang menjadi bagian penting dari identitas daerah.
Regenerasi Jadi Perhatian
Di balik kekayaan tersebut, regenerasi menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian lebih serius.
Sejumlah tradisi mulai menghadapi persoalan berkurangnya pelaku, sementara proses pewarisan kepada generasi berikutnya belum selalu berjalan seimbang.
Karena itu, pelestarian budaya tidak hanya berbicara mengenai jenis budaya yang harus dipertahankan, tetapi juga siapa yang akan meneruskannya.
Ketika pelaku budaya semakin berkurang dan tidak tersedia generasi penerus, upaya pelestarian perlu dilakukan lebih cepat melalui pembinaan, dokumentasi dan proses pewarisan pengetahuan.
Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan keberadaan maestro dan pelaku budaya yang telah berusia senior. Pengetahuan dan keterampilan mereka dinilai perlu segera didokumentasikan sekaligus ditularkan kepada generasi berikutnya.
Pembinaan dan Pelatihan Diperkuat
Untuk menjaga kesinambungan regenerasi, pemerintah melakukan berbagai upaya melalui pembinaan, pelatihan, workshop, festival dan kegiatan sanggar.
Pelaku seni dan generasi muda juga diberikan ruang untuk tampil agar proses belajar tidak berhenti pada teori.
Sanggar dan komunitas budaya didorong terus aktif karena menjadi salah satu ujung tombak pelestarian budaya di tengah masyarakat.
Dukungan pemerintah diberikan melalui fasilitasi kegiatan, pembinaan, pelatihan serta penyediaan ruang tampil sesuai dengan kemampuan dan program yang tersedia.
Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan lebih banyak generasi muda yang tidak hanya mengenal budaya Banjar, tetapi juga memiliki keterampilan untuk meneruskannya.
Budaya Harus Tetap Hidup
Memasuki usia ke-76, perjalanan kebudayaan Kabupaten Banjar dinilai telah menunjukkan banyak kemajuan. Berbagai tradisi dan kesenian masih bertahan dan terus dikembangkan.
Namun, pelestarian budaya tidak boleh dianggap selesai.
Perubahan zaman dan perkembangan teknologi membuat pemerintah bersama masyarakat harus terus mencari cara agar budaya tetap memiliki tempat dalam kehidupan generasi masa kini.
Sebab, menjaga budaya bukan hanya mempertahankan warisan masa lalu, tetapi memastikan nilai, pengetahuan dan identitas tersebut tetap hidup dan memiliki penerus di masa depan.















