Ricek.ID- Kabupaten Banjar tidak hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga menyimpan beragam potensi budaya yang dapat menjadi daya tarik pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Kesenian tradisional, musik dan tari, Mamanda, Madihin, Kuda Gepang, permainan rakyat, tradisi keagamaan, kuliner khas hingga berbagai peninggalan sejarah menjadi bagian dari kekayaan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Kabupaten Banjar.
Memasuki usia ke-76 Kabupaten Banjar, potensi tersebut dinilai memiliki ruang yang semakin besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Festival Jadi Ruang Memperkenalkan Identitas Banjar
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar mengatakan, kegiatan budaya dan festival memiliki peran penting dalam memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas.
Festival tidak hanya menjadi ruang pertunjukan bagi seniman dan pelaku budaya, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan seni, tradisi, kuliner serta kreativitas masyarakat Kabupaten Banjar.
“Festival bukan hanya tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas Kabupaten Banjar. Orang yang datang bisa melihat seni, tradisi, kuliner dan kreativitas masyarakat kita,” ujarnya.
Berbagai agenda seni dan budaya terus dikembangkan, mulai dari festival budaya, kegiatan kesenian tradisional, kegiatan kuliner hingga event yang berkaitan dengan tradisi masyarakat Banjar.
Pengembangan agenda tersebut dilakukan dengan evaluasi secara berkala agar kegiatan budaya tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, tetapi terus mengalami peningkatan kualitas.
Budaya dan Pariwisata Saling Menguatkan
Potensi kebudayaan juga memiliki hubungan erat dengan pengembangan pariwisata.
Menurutnya, budaya dapat menjadi alasan seseorang berkunjung ke suatu daerah, sementara pariwisata dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
“Budaya dan pariwisata sebenarnya saling mendukung. Budaya bisa menjadi alasan orang datang ke suatu daerah, sedangkan pariwisata bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya,” katanya.
Karena itu, kegiatan budaya di Kabupaten Banjar diarahkan agar tidak berhenti setelah sebuah acara selesai digelar. Potensi yang ada dapat dikembangkan menjadi bagian dari daya tarik wisata daerah.

Penampilan seni tari turut memeriahkan Festival Pasar Terapung Lok Baintan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan dan melestarikan budaya khas Kabupaten Banjar. Foto Dok.
Wisatawan Tak Sekadar Mencari Destinasi
Perubahan tren pariwisata turut membuka peluang bagi pengembangan budaya lokal.
Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat dengan pemandangan menarik, tetapi juga pengalaman yang memberikan kesempatan untuk mengenal tradisi, menikmati kuliner, menyaksikan kesenian hingga merasakan kehidupan masyarakat setempat.
Potensi tersebut dinilai sangat besar dimiliki Kabupaten Banjar.
Kekayaan tradisi, kesenian, kuliner dan kehidupan masyarakat dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang memiliki karakter tersendiri.
Dengan pendekatan tersebut, budaya tidak hanya menjadi objek yang dipertontonkan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman yang membuat wisatawan lebih mengenal identitas Kabupaten Banjar.
Budaya Buka Peluang Ekonomi Masyarakat
Pengembangan budaya juga dinilai dapat memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Setiap kegiatan budaya yang melibatkan banyak pihak berpotensi menciptakan perputaran ekonomi, terutama bagi pelaku usaha yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Pelaku kuliner, kerajinan, fesyen, jasa pertunjukan hingga UMKM dapat ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
“Ketika ada kegiatan budaya, tentu ada perputaran ekonomi. Pelaku kuliner, kerajinan, fesyen, jasa pertunjukan dan UMKM lainnya bisa ikut terlibat,” jelasnya.
Dengan demikian, budaya tidak hanya dipandang dari sisi pelestarian, tetapi juga sebagai salah satu bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Semakin banyak pelaku lokal yang terlibat, semakin luas pula peluang masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan budaya dan pariwisata.
Desa Punya Potensi Wisata Berbasis Budaya
Potensi tersebut tidak hanya berada di pusat kota. Desa-desa di Kabupaten Banjar juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai destinasi berbasis budaya.
Setiap desa memiliki karakter dan kekayaan masing-masing, baik berupa tradisi, kesenian, kuliner, sejarah maupun kehidupan masyarakat.
Pemerintah melihat potensi tersebut sebagai bagian dari kekuatan yang dapat dikembangkan secara bertahap dengan tetap melibatkan masyarakat setempat.
Pendekatan berbasis masyarakat menjadi penting agar pengembangan destinasi tidak hanya menghadirkan tempat kunjungan baru, tetapi juga memberikan ruang bagi warga untuk menjadi bagian dari aktivitas pariwisata.
Dengan begitu, tradisi dan potensi lokal dapat tetap hidup sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Aktivitas pedagang di Pasar Terapung Lok Baintan menjadi bagian dari potensi wisata berbasis budaya yang turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Banjar.
Menjadikan Budaya sebagai Kekuatan Daerah
Memasuki usia ke-76 Kabupaten Banjar, pengembangan budaya dan pariwisata menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang baru bagi masyarakat.
Budaya yang hidup di tengah masyarakat memiliki nilai yang lebih dari sekadar warisan. Di dalamnya terdapat seni, tradisi, kreativitas, sejarah dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Karena itu, penguatan sektor budaya dan pariwisata diharapkan mampu berjalan beriringan, sehingga kekayaan budaya Kabupaten Banjar semakin dikenal sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.













