Menu ✖

Mode Gelap
Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi Gubernur Kalsel Siapkan Bonus bagi Pelapor Pelaku Karhutla Satu Korban KM Virgo Transport 8 Kembali Ditemukan Tim SAR

ADVERTORIAL · 18 Sep 2026 19:41 WIB

Belasan Bekantan Mati Terdampak Karhutla, Penguatan Perlindungan Habitat Jadi Perhatian


 Belasan Bekantan Mati Terdampak Karhutla, Penguatan Perlindungan Habitat Jadi Perhatian Perbesar

Ricek.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga menjadi perhatian bagi keberlangsungan satwa liar yang bergantung pada ekosistem lahan basah, salah satunya bekantan.

Founder Sahabat Bekantan Indonesia yang juga Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bidang Biologi Konservasi, Amalia Rezeki, di Banjarbaru pada Jumat (18/9/2026) mengatakan kondisi karhutla sepanjang 2026 perlu menjadi perhatian bersama karena habitat bekantan memiliki keterkaitan erat dengan vegetasi di sekitar sungai dan kawasan lahan basah.

“Bekantan merupakan satwa yang sangat bergantung pada keberadaan vegetasi di sekitar sungai dan kawasan lahan basah. Jadi, ketika terjadi kebakaran, dampaknya bukan hanya pada pohon yang terbakar, tetapi juga pada ketersediaan sumber pakan, tempat berlindung, dan ruang pergerakan bekantan,” ujar Amalia.

Salah satu kejadian yang menjadi perhatian adalah karhutla di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Berdasarkan informasi yang disampaikan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, terdapat 12 individu bekantan yang ditemukan mati akibat karhutla pada September 2026.

Amalia menyebut, kejadian tersebut perlu ditempatkan sebagai peringatan serius terhadap pentingnya perlindungan habitat bekantan. Namun, secara ilmiah, satu kejadian belum cukup untuk langsung menyimpulkan adanya peningkatan ancaman karhutla terhadap seluruh populasi bekantan di Kalsel.

“Untuk menyatakan adanya peningkatan ancaman, kita membutuhkan data pembanding dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk data kejadian kebakaran di habitat bekantan, luas kawasan terdampak, dan perubahan populasi setelah kebakaran,” jelasnya.

Menurutnya, terlepas dari apakah kejadian di Balimau merupakan kasus tersendiri atau bagian dari pola ancaman yang lebih luas, kematian 12 individu bekantan menunjukkan bahwa karhutla dapat memberikan dampak nyata terhadap satwa yang dilindungi.

Karena itu, upaya perlindungan habitat perlu dilakukan sejak tahap pencegahan, bukan hanya setelah terjadi kebakaran. Pemantauan habitat secara berkala, deteksi dini titik api, kesiapsiagaan, serta koordinasi antarpihak menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko terhadap satwa dan ekosistem.

“Jangan sampai kita baru bergerak setelah ditemukan bekantan yang mati atau setelah kebakaran meluas ke kawasan habitat,” katanya.

Amalia juga menekankan pentingnya menjaga habitat bekantan, termasuk kawasan yang berada di luar kawasan konservasi. Menurutnya, perlindungan bekantan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga ekosistem lahan basah secara keseluruhan.

“Jangan sampai 12 bekantan yang telah kehilangan nyawanya menjadi sekadar angka dalam laporan kebakaran. Kita harus menjadikannya sebagai peringatan untuk memperkuat perlindungan habitat, meningkatkan kepedulian masyarakat, dan membangun upaya konservasi yang lebih terencana dan berkelanjutan,” ujarnya.

Amalia berharap kejadian tersebut dapat menjadi pembelajaran bersama untuk semakin memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan komunitas konservasi dalam menjaga habitat satwa liar di Kalsel.

“Ketika habitat bekantan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi juga ruang kehidupan bagi satwa dan manusia,” pungkasnya.

Sumber : MC Kalsel

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Sekda Banjarbaru Ajak Warga Bumikan Ideologi Bangsa dalam Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

1 Oktober 2026 - 20:42 WIB

Cek Kios Pangan Hingga Harga Beras, Wali Kota Banjarbaru Tekankan DKP3 Harus Jaga “Piring Makan” Warga

1 Oktober 2026 - 20:39 WIB

Tim RAKAT Terima Bantuan Mesin Pompa & Dana Operasional Untuk Dukung Penanganan Karhutla

1 Oktober 2026 - 20:36 WIB

Pemkab Banjar Berikan Penghargaan ASN & Inovator di Hari Kesaktian Pancasila

1 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Tutup Lomba Cerdas Cermat Clash of Banua 2026, Gubernur Kalsel Pesankan Disiplin & Konsistensi Belajar

1 Oktober 2026 - 20:30 WIB

Serapan Anggaran Pemprov Kalsel Capai 72,91 Persen, Gubernur Minta SKPD Lebih Cermat

1 Oktober 2026 - 20:28 WIB

Trending di ADVERTORIAL