NIAS BARAT, Ricek.ID – Sekolah Tinggi Teologi Anugerah Misi (STTAM) Nias Barat terus mengembangkan pola pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan akademik dan pembentukan iman, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis untuk mendukung kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui berbagai kegiatan pengembangan keterampilan, mahasiswa STTAM Nias Barat dilatih dalam bidang pertanian, peternakan, kerajinan tangan, serta kewirausahaan. Program ini menjadi bagian dari upaya kampus mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi di bidang teologi, tetapi juga mampu berinovasi, berkreasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
Ketua STTAM Nias Barat, Budiaeli Hia, menjelaskan bahwa pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa tidak hanya terbatas pada ilmu pengetahuan di ruang perkuliahan. Mahasiswa juga didorong untuk memiliki keterampilan hidup yang dapat diterapkan ketika kembali ke tengah-tengah masyarakat.
Menurutnya, pengembangan keterampilan tersebut sejalan dengan pentingnya ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, mahasiswa diberikan pelatihan dalam berbagai bidang, mulai dari hasil karya tangan, pengelolaan pertanian hingga peternakan.

“Yang didapat oleh mahasiswa tidak hanya ilmu teologi, tetapi mereka juga mampu berinovasi dan berkreasi di tengah berbagai kesulitan hidup. Kita melatih mahasiswa dalam keterampilan tangan, pertanian, dan peternakan,” ungkapnya.
Budiaeli Hia menegaskan bahwa program tersebut bukan sebatas kegiatan tambahan kampus, melainkan telah diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan melalui mata kuliah Entrepreneurship atau kewirausahaan. Selain pembelajaran di kelas, kampus juga bekerja sama dengan yayasan melalui program pertanian berkelanjutan dan berkesinambungan.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman secara teoretis, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui praktik di lapangan.
Budiaeli Hia berharap, ketika menyelesaikan pendidikan, para lulusan STTAM Nias Barat dapat menjadi sarjana yang memiliki keterampilan dan mampu mengambil bagian dalam pembangunan masyarakat, terutama sebagai pendamping dan penggerak pemberdayaan di wilayah pedesaan.

Sementara itu Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Kejar Hidup Laia, menyampaikan bahwa pengembangan pertanian dan peternakan merupakan salah satu bentuk pembinaan mahasiswa agar memiliki kemandirian. Keterampilan tersebut diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa secara pribadi, tetapi juga dapat diterapkan untuk mengajarkan jemaat agar mampu mengelola potensi yang dimiliki secara mandiri.
Ia juga menekankan bahwa pembelajaran kewirausahaan harus diwujudkan melalui praktik nyata, bukan sebatas teori di ruang kelas. Karena itu, pihak kampus berharap adanya dukungan pemerintah, khususnya dalam pengembangan fasilitas, pendampingan, serta pelatihan pertanian dan peternakan.
Dalam pelaksanaannya, kampus masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana serta penggunaan peralatan pertanian yang sebagian besar masih manual. Selain itu, keterbatasan pengalaman mahasiswa dalam mengembangkan metode pertanian yang lebih modern juga menjadi perhatian.
Untuk mengatasi hal tersebut, STTAM Nias Barat menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Nias Barat melalui Dinas Pertanian. Kerja sama ini diwujudkan dengan menghadirkan tenaga pelatih untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa, khususnya mengenai pengolahan tanah dan pengembangan praktik pertanian.

Pihak kampus juga menyadari bahwa kegiatan pengembangan keterampilan membutuhkan keberlanjutan. Selama ini, kegiatan mahasiswa terkadang mengalami jeda ketika mahasiswa yang telah dilatih menyelesaikan pendidikan. Akibatnya, pembinaan harus kembali dimulai dari awal pada angkatan berikutnya.
Meski demikian, kampus berkomitmen agar setiap mahasiswa yang menempuh pendidikan di STTAM Nias Barat tetap mendapatkan pembekalan keterampilan praktis sebagai bekal setelah lulus.
Komitmen tersebut juga terlihat dari keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan praktik. Firman Jaya Waruwu, mahasiswa Program Studi Teologi STTAM Nias Barat yang mengikuti kegiatan peternakan, mengatakan bahwa kampus saat ini mendorong mahasiswa untuk belajar hidup mandiri. Selain memperoleh pendidikan akademik, mahasiswa juga diajarkan berbagai keterampilan agar mampu bertahan dan mengembangkan potensi diri melalui kegiatan pertanian maupun peternakan.
Hal senada disampaikan Yarman Wani Zai, mahasiswa STTAM Nias Barat yang mengembangkan kreativitas melalui pembuatan kerajinan tempat tisu. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berawal dari inisiatif untuk mengembangkan bakat dan kreativitas mahasiswa.
Menurutnya, keterampilan membuat kerajinan tangan diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan. Dengan demikian, lulusan STTAM Nias Barat tidak hanya memiliki kemampuan mengajar dan berkhotbah, tetapi juga mempunyai keterampilan produktif yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Hasil karya mahasiswa tersebut juga diharapkan dapat mendukung berbagai kebutuhan kegiatan kampus.
Melalui program ini, STTAM Nias Barat ingin membangun pola pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan, iman, keterampilan, dan kemandirian. Kampus juga mengajak masyarakat untuk mulai memanfaatkan potensi lahan yang tersedia di sekitar tempat tinggal, termasuk pekarangan rumah, sebagai sumber pangan dan peluang ekonomi keluarga.
Budiaeli Hia mengajak masyarakat agar tidak selalu bergantung pada hasil produksi yang dibeli dari luar, melainkan mulai mengoptimalkan lahan yang dimiliki untuk menanam berbagai kebutuhan pangan.
“Mari kita mengelola lahan-lahan yang ada di sekitar kita, termasuk lahan pekarangan rumah. Banyak hal yang bisa kita tanam. Tidak semua harus kita beli. Kita bisa menanam apa yang kita makan dan makan apa yang kita tanam,” pesannya.
Melalui penguatan pendidikan berbasis keterampilan tersebut, STTAM Nias Barat berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam pelayanan dan keilmuan teologi, tetapi juga mandiri, kreatif, produktif, serta mampu menjadi agen perubahan dalam membangun kehidupan masyarakat di wilayah Nias Barat.













