Ricek.ID – Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan (Disdag Kalsel) mulai menyusun langkah penanganan menyusul anjloknya harga telur ayam ras yang dikeluhkan peternak lokal. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah meningkatnya pasokan telur dari Pulau Jawa yang diduga menekan harga jual di Kalsel.
Persoalan tersebut mengemuka dalam audiensi antara Dinas Perdagangan Kalimantan Selatan dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Kalsel di Banjarbaru pada Kamis (2/7/2026).
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri (PPDN) Dinas Perdagangan Kalsel, Adilla Redha Yanti, mengatakan pihaknya telah menerima berbagai masukan dari pelaku usaha perunggasan dan akan menindaklanjutinya melalui koordinasi dengan instansi terkait.
“Kami telah menerima berbagai informasi dari Pinsar mengenai kondisi harga telur saat ini. Seluruh masukan akan kami pelajari dan ditindaklanjuti melalui mitigasi serta koordinasi bersama stakeholder terkait,” ujarnya.
Menurut Adilla, Kalsel sebenarnya berada dalam kondisi surplus produksi telur ayam ras. Namun, masuknya pasokan dari luar daerah, khususnya Pulau Jawa, dinilai ikut memengaruhi keseimbangan pasar sehingga harga di tingkat peternak terus mengalami penurunan.
Ia mengungkapkan, harga telur yang pada kondisi normal berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp26 ribu, bahkan di beberapa transaksi tercatat hanya Rp22.500 per kilogram.
“Informasi yang kami terima menunjukkan harga telur mengalami penurunan cukup tajam. Kondisi ini tentu menjadi perhatian kami karena berkaitan dengan stabilitas harga komoditas di daerah,” katanya.
Meski demikian, Adilla menjelaskan Disdag Kalsel tidak memiliki kewenangan untuk membatasi arus distribusi komoditas antardaerah. Oleh sebab itu, penyelesaiannya memerlukan sinergi lintas instansi.
“Kami tidak memiliki kewenangan melakukan penindakan terhadap distribusi barang. Karena itu, persoalan ini akan kami bahas bersama Satgas Pangan, Dinas Perkebunan dan Peternakan, serta pihak-pihak terkait lainnya untuk mencari solusi terbaik,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan Pinsar Kalsel, Sugeng, menilai kondisi saat ini sudah sangat memberatkan peternak rakyat. Menurutnya, harga jual telur telah berada di bawah biaya produksi sehingga banyak peternak mulai mengalami kerugian.
Ia menjelaskan biaya produksi telur di Kalsel saat ini diperkirakan mencapai sekitar Rp29 ribu per kilogram, sehingga harga yang layak bagi peternak berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram.
“Selisih harga yang terjadi sekarang sangat besar. Dengan biaya produksi yang tinggi, peternak lokal sulit bersaing ketika pasar dibanjiri telur dari luar daerah dengan harga yang jauh lebih murah,” ujarnya.
Pinsar berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan distribusi telur antardaerah serta meninjau kembali mekanisme harga acuan agar tercipta persaingan usaha yang lebih sehat. Menurut Sugeng, langkah tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak sekaligus memastikan pasokan telur di Kalsel tetap terjaga.













