Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

Kab. Banjar · 17 Feb 2025 18:11 WIB

Dua Balita Meninggal Akibat Diare, Dinkes Banjar Akui Kecolongan


 Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjar, Marzuki. foto-haris Perbesar

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjar, Marzuki. foto-haris

Riceknews.id – Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar mengungkapkan bahwa mereka kecolongan dua balita meninggal akibat diare, Senin (17/2/2025).

“Kami kecolongan ada dua balita yang meninggal dunia akibat diare. Hari ini kami cari tahu ternyata orang tua korban mengira anaknya meruas,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Marzuki, di kantor Dinkes Banjar.

Meruas merupakan kondisi di mana anak sedang bertumbuh. Lebih jauh, Marzuki menegaskan pihak orang tua bahkan tidak mengetahui tentang Oralit.

“Kami berharap, agar ibu mengandung atau pasca kelahiran agar selalu datang ke Posyandu, sebab di sana ada sosialisasi tentang anak,” tukasnya.

Balita mengalami diare hingga meninggal itu berusia 7 bulan dan 11 bulan, asal Astambul dan Martapura.

Sebelumnya, pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha (Raza) mencatat, 45 Pasien diare tahun ini diantaranya ada 23 Balita yang masih dirawat di tempat mereka.

“Mereka memiliki gejala awal lesu, enggan minum susu, tidak nafsu makan, dan buang air besar lebih dari lima kali,” ujar Wakil Direktur RSUD Raza, Agus Dwi Karyanto di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalsel.

Kemudian Agus menjelaskan, jika orang tua tidak peka dengan kondisi anak sendiri, maka seperti diare saat ini, dapat terjadi dehidrasi hingga mengalami kematian.

“Dari 23 Balita tersebut, dua diantaranya meninggal dunia. Balita yang terkena diare sangat rentan dan orang tua harus peka terhadap kondisi anak,” jelasnya.

Walaupun begitu, saat pasca-banjir ini, Agus tidak dapat mengaitkan penyakit diare dengan keadaan kondisi sekarang.

“Penyakit diare itu bermacam-macam dan kompleks,” tegasnya.

Ia menambahkan, pertolongan pertama penyakit diare ini yaitu membuat larutan dari gula dan garam atau biasa disebut Oralit.

“Pertolongan itu bisa untuk orang dewasa maupun anak-anak,” pungkasnya.

Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Jelang Hari Pemungutan Suara Pemilihan Pambakal Serentak, DPMD Banjar Gelar Rakor Mantapkan Persiapan

17 Juli 2026 - 20:16 WIB

Kasus Curanmor di Tungkaran, Polsek Martapura Ringkus Dua Pelaku Kurang dari 24 Jam

17 Juli 2026 - 20:04 WIB

Terapkan Sistem Manajemen Talenta, Bupati Banjar Lantik Empat Pejabat Tinggi Pratama

17 Juli 2026 - 16:03 WIB

Wabup Banjar Dampingi Tim Bappenas Observasi Program Penurunan Stunting di Dua Titik

16 Juli 2026 - 18:16 WIB

Tingkatkan Kualitas Pelayanan Adminduk, Pemkab Banjar Jalin Sinergi dengan Lembaga Keagamaan

16 Juli 2026 - 18:12 WIB

Hadiri RALB KPRI Barakat Mandiri Sejahtera, Sekda Banjar Minta Koperasi Bangkit dengan Tata Kelola Baru

16 Juli 2026 - 18:02 WIB

Trending di ADVERTORIAL