Menu

Mode Gelap
MV Hai Da Bawa 69 Korban Selamat KM Virgo Tiba di Banjarmasin KM Virgo Transport 8: 107 Selamat, 6 Meninggal, 136 Masih Dicari KM Virgo Transport 8, 103 Orang Telah Dievakuasi dari Perairan Laut Jawa Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Laut Jawa, Bawa 243 Orang Viral Video IGD Puskesmas Sungai Ulin, Wali Kota Banjarbaru Jenguk Pasien di RSUD Ratu Zalecha

INTERNASIONAL · 13 Sep 2026 20:37 WIB

Indonesia Dukung Penguatan Ketahanan & Tata Kelola Global dalam KTT BRICS 2026


 Indonesia Dukung Penguatan Ketahanan & Tata Kelola Global dalam KTT BRICS 2026 Perbesar

Ricek.ID – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto menghadiri hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 di Bharat Mandapam, New Delhi, India pada Sabtu (12/9/2026).

KTT BRICS 2026 di bawah Keketuaan India mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.” Pada hari pertama KTT, Presiden Prabowo berpartisipasi dalam sesi khusus bagi negara anggota BRICS dengan tema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism.” Sesi tersebut berlangsung secara tertutup dan diikuti oleh para pemimpin dari negara-negara anggota penuh BRICS.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan pandangan Indonesia mengenai pentingnya membangun ketahanan sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai tantangan global. Ketahanan perlu dibangun secara berjenjang, dimulai dari tingkat nasional, diperkuat melalui kerja sama regional, dan selanjutnya dikembangkan menjadi ketahanan kolektif di tingkat global.

Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kekuatan kolektif BRICS untuk memperkuat tata kelola global, menjamin ketahanan pangan dan energi, serta menciptakan peluang Pembangunan.

“BRICS mewakili setengah umat manusia dan bagian yang besar dari perekonomian dan perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar dan para produsen energi utama di dunia. Hal ini menciptakan kekuatan kolektif yang sangat besar,” tegas Presiden Prabowo.

Pada kesempatan tersebut, Presiden juga menekankan bahwa pengalaman ASEAN menjadi salah satu contoh bagaimana kerja sama regional dapat berkontribusi dalam membangun ketahanan. Di tengah berbagai dinamika geopolitik dan geoekonomi, ASEAN telah menjadi wadah bagi negara-negara di kawasan untuk memperkuat dialog, kerja sama, serta menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi regional.

Presiden juga menegaskan kembali pentingnya reformasi berbagai institusi multilateral agar semakin responsif terhadap perubahan lanskap global dan mampu merepresentasikan kepentingan negara berkembang secara lebih adil. Reformasi tersebut antara lain mencakup Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), World Trade Organization (WTO), serta International Financial Institutions (IFIs).

Dalam bidang ekonomi, reformasi sistem multilateral menjadi semakin penting di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global, ketidakpastian perdagangan, serta berbagai tantangan terhadap rantai pasok. Indonesia terus mendorong sistem perdagangan multilateral yang terbuka, inklusif, transparan, berbasis aturan, dan memberikan ruang pembangunan yang memadai bagi negara berkembang.

Keikutsertaan secara aktif negara-negara berkembang dalam proses reformasi tersebut menjadi hal yang krusial. Indonesia berpandangan bahwa negara-negara berkembang perlu menjadi bagian dari proses pembentukan dan negosiasi tata kelola global, bukan hanya menjadi penerima dari ketentuan yang telah ditetapkan.

“Apabila kita tidak menjadi bagian dari proses negosiasi, maka ketentuan tersebut pada akhirnya akan ditetapkan dan diterapkan kepada kita. Karena itu, Indonesia perlu terus mengambil peran aktif dalam membentuk tata kelola global yang lebih inklusif, representative dan berkeadilan,” ujar Menko Airlangga.

Pada Keketuaan India 2026, berbagai substansi strategis turut menjadi pembahasan BRICS, antara lain penguatan kerangka institusional BRICS, perekonomian dan perdagangan, keuangan internasional, perdamaian dan keamanan, energi, ketahanan pangan dan pertanian, digitalisasi dan teknologi, serta perubahan iklim dan lingkungan.

Pada bidang ekonomi, pembahasan antara lain mencakup penguatan kerja sama keuangan, pengembangan mekanisme Local Currency Settlement (LCS), upaya membangun rantai pasok global yang tangguh, serta penguatan sistem perdagangan yang terbuka, inklusif, transparan, dan berbasis aturan.

KTT BRICS 2026 akan berlanjut pada hari kedua dengan agenda yang antara lain membahas tema “Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth” yang melibatkan negara anggota dan mitra BRICS.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Menkeu Suahasil Tegaskan Keuangan Negara Harus Sehat & Kredibel

14 September 2026 - 21:41 WIB

Prabowo Lantik Suahasil Nazara Jadi Menkeu Gantikan Purbaya

14 September 2026 - 21:39 WIB

Perkuat Operasi SAR KM Virgo Transport 8, Polri Terjunkan Tiga Kapal Polisi

14 September 2026 - 21:37 WIB

Aset Rampasan Tak Laku dalam Pelelangan, KPK RI Siapkan Lelang Ulang

14 September 2026 - 21:32 WIB

Satgas Damai Cartenz Identifikasi Dua Pelaku DPO Kasus Penembakan 3 ASN di Jayawijaya

13 September 2026 - 20:44 WIB

Lindungi Petani Hadapi El Nino, Kementan Alokasikan AUTP untuk 100 Ribu Hektare

13 September 2026 - 20:41 WIB

Trending di EKOBIS