Menu ✖

Mode Gelap
Tujuh Kabupaten di Kalsel Terima Bantuan Karhutla Rp80 Miliar dari Pusat Buruh Harian Tewas Dianiaya di Awang Bangkal Barat, Polisi Amankan Barang Bukti Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi

NASIONAL · 17 Des 2024 17:59 WIB

MUI Dukung Wacana Pembatasan Umur Pengguna Medsos


 Foto-mui.or.id Perbesar

Foto-mui.or.id

Riceknews.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung wacana pembatasan umur pengguna medsos untuk anak di bawah umur.

“Jadi saya pikir memang sudah saatnya Indonesia membatasi penggunaaan media sosial untuk anak di bawah umur dan remaja,” kata Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, melansir dari laman MUI, Senin (16/12/2024).

Menurut Kiai Cholil, Australia dapat menjadi contoh dalam perlindungan dari pengaruh buruk medsos untuk anak. Hal tersebut berkaitan dengan prinsip dasar informasi (fiqhu asas al-Akhbar).

“Medsos berisikan interaksi dan komunikasi dalam media sosial, apalagi prinsip tentang dasar informasi,” ujarnya.

“Informasi yang dimaksud adalah berita. Sifatnya (mengidentifikasi) informasi itu apakah berita baik atau buruk,” urainya.

Lalu ia menambahkan, sumber berita yang kredibel (fiqhu mashadirul akhbar), yaitu paham akan validitas informasi sehinga selalu melalui proses validasi dan verifikasi (tabayyun) dari setiap informasi yang diterima.

“Tentu saja banyak cara untuk tabayyun, seperti memastikan sumber beritanya dari orang atau lembaga terpercaya atau menggunakan aplikasi kroscek berita,” tambahnya.

Kemudian cara menyikapi berita dalam prinsip mengambil sikap terhadap informasi (fuqhu al-ta’mul bi al-Akhbar).

Masih menurut pendapatnya bahwa tak semua berita yang benar itu baik, apalagi berita hoaks. Maka bagi penerima berita harus mampu memilih dan memilah informasi yang baik dan berfaedah untuk menjadi pijakan atau disebarkan.

Ia pun menawarkan dua model saringan yang efektif terutama di dalam memperlakukan berita, yaitu diri penerima berita yang pintar dan bijak, dan regulasi yang mengatur terhadap serapan dan penyebaran informasi.

“Pada intinya, justru di era banjirnya informasi ini, perlu ada filter. Tujuannya agar berita-berita yang muncul dan banyak bertebaran lewat Medsos, bisa menjadi kebaikan dan kita semua terhindar dari malapetaka,” pungkasnya.

Pewarta: Haris Pranata
Editor: Hendra

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Tim Gabungan Polri, BNN & Bea Cukai Sita Hampir 1,2 Ton Sabu dari Laboratorium Gelap di Aceh

25 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Polisi Selamatkan Induk & Anak Orang Utan Terdampak Karhutla di Kalimantan Tengah

25 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Menko Pangan Lepas Ekspor Perdana 40 Ton Terasi UMKM Asahan ke Thailand

25 Oktober 2026 - 20:29 WIB

Insiden Pesawat Asian One di Papua Tengah, Kemenhub Pastikan Seluruh Penumpang & Awak Pesawat Selamat

24 Oktober 2026 - 19:50 WIB

BMKG Sebut Kondisi Relatif Kering masih Berpotensi Terjadi hingga 2 November 2026

24 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Menpora Dampingi Atlet, Indonesia Lampaui Target dengan 10 Emas Asian Para Games 2026

24 Oktober 2026 - 19:10 WIB

Trending di NASIONAL