Menu ✖

Mode Gelap
Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi

ARTIKEL · 1 Apr 2026 09:46 WIB

Penyiaran, Kebenaran, dan Ketahanan Nasional di Tengah Banjir Informasi


 Penyiaran, Kebenaran, dan Ketahanan Nasional di Tengah Banjir Informasi Perbesar

Banjarmasin, Ricek.ID – Dua puluh tahun saya hidup di ruang redaksi televisi. Ada satu “mantra” yang saya pegang ketika masih menjadi jurnalis , siapa paling cepat, dia yang menang. Breaking news adalah panggung, dan kecepatan adalah keutamaan.

Saya masih ingat, saat itu kami berlomba dengan waktu telepon berdering tanpa henti, reporter siaga di lapangan untuk live report, suara riuh dari control room untuk menyajikan kecepatan.

Satu hal yang kami kejar: tayang duluan. Karena di masa itu, publik menunggu televisi untuk tahu apa yang sedang terjadi.

Namun hari ini, lanskap itu berubah drastis. Informasi saat ini mengalir deras, tanpa henti, dari berbagai arah. Media sosial, platform digital, kanal personal semuanya menjadi “penyiar” baru. Setiap orang bisa menjadi sumber, sekaligus penyebar Informasi.
Pertanyaannya, apakah kecepatan masih menjadi nilai utama?

Di era arus informasi yang begitu deras, kecepatan tanpa akurasi justru bisa menjadi bumerang. Kita menyaksikan bagaimana hoaks, disinformasi, bahkan manipulasi konten menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya. Dalam situasi seperti ini, publik tidak hanya butuh yang cepat mereka butuh yang benar, yang terverifikasi, dan yang bisa dipercaya.
Di sinilah penyiaran harus kembali menemukan jati dirinya dan bahkan melampaui itu.

Sebagai komisioner penyiaran daerah, sekaligus mantan jurnalis televisi, saya melihat peran lembaga penyiaran hari ini justru semakin penting. Bukan sekadar menjadi yang pertama, tetapi menjadi yang paling bertanggung jawab. Menjadi penjernih di tengah keruhnya informasi. Menjadi penuntun, bukan sekadar pengikut arus. Kecepatan tetap penting, namun harus berjalan beriringan dengan akurasi, etika, dan kepentingan publik.

Ketika penyiaran menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab, maka ia menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat kepercayaan publik, dan merawat kebhinekaan.

Di tengah derasnya arus informasi global, penyiaran nasional adalah benteng. Benteng yang menjaga masyarakat dari polarisasi. Benteng yang melindungi publik dari manipulasi. Benteng yang memastikan bahwa ruang informasi tetap sehat dan beradab.

Itulah mengapa kolaborasi menjadi kunci. Lembaga penyiaran, regulator, pemerintah, dan masyarakat harus berjalan bersama. Tidak bisa sendiri-sendiri. Karena ketahanan nasional hari ini tidak hanya dibangun di darat, laut, dan udara tetapi juga di ruang informasi.

Kecepatan tetap penting, namun harus berjalan beriringan dengan akurasi, etika, dan tanggung jawab kebangsaan. Karena penyiaran tentang melayani publik dan menjaga kedaulatan bangsa dari disinformasi.

Mungkin hari ini kita tidak lagi selalu menjadi yang pertama. Namun kita harus memastikan, kita tetap menjadi yang paling dapat dipercaya. Karena pada akhirnya, bukan yang tercepat yang akan menguatkan bangsa… melainkan informasi yang paling valid dan terpercaya.

Selamat Hari Penyiaran Nasional ke 93.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Perlindungan Konsumen Butuh Ekosistem, Bukan Sekadar Aturan

5 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Ekosistem Perlindungan Konsumen di Bumi Etam: Menguatkan Literasi, Independensi, dan Partisipasi Publik

1 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Perlindungan Konsumen: Membangun Ekosistem Perlindungan yang Terhubung

12 September 2026 - 11:52 WIB

Kecelakaan Maut di Tol JORR, Diduga Dipicu Microsleep Pengendara Diminta Jangan Sepelekan Kantuk

19 Juli 2026 - 17:39 WIB

Profil Gus Nafik, Pendiri Pesantren Rehabilitasi Mental Sapu Jagad di Kediri

8 Juli 2026 - 10:13 WIB

Jelang Implementasi B50, LPKSM Borneo Kalimantan Kawal Masa Transisi Energi Nasional

30 Juni 2026 - 18:12 WIB

Trending di ARTIKEL