Menu ✖

Mode Gelap
Diduga Lakukan Begal Payudara, Pria di Tanah Laut Diamankan Warga Polres Banjarbaru Sita 3,6 Kg Sabu, 13 Tersangka Ditangkap Tujuh Kabupaten di Kalsel Terima Bantuan Karhutla Rp80 Miliar dari Pusat Buruh Harian Tewas Dianiaya di Awang Bangkal Barat, Polisi Amankan Barang Bukti Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan

KESEHATAN · 25 Feb 2026 17:51 WIB

Peredaran Dekstrometorfan dalam Kandungan Obat Seledryl Ditarik di Banjarbaru


 Peredaran DMP dalam Kandungan Obat Seledryl Ditarik di Banjarbaru Perbesar

Peredaran DMP dalam Kandungan Obat Seledryl Ditarik di Banjarbaru

Banjarbaru, Ricek.ID – Edaran persedian tunggal dekstrometorfan (DMP) sebagai salah satu kandungan dalam obat batuk Seledryl telah ditarik di Banjarbaru akibat penyalahgunaan yang mengakibatkan efek disosiatif jika dikonsumsi berlebihan, Rabu (25/2/2026).

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr. Juhai Triyanti Agustina mengatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan sebelumnya telah menarik persediaan DMP karena tingginya angka penyalahgunaan, terutama di kalangan remaja.

“Saat ini, zat tersebut hanya diizinkan beredar dalam bentuk kombinasi pada obat batuk flu,” kata dr. Juhai.

dr. Juhai menjelaskan salah satu obat yang mempunyai kandungan DMP adalah Seledryl. Efeknya berupa bisa menyerupai zat adiktif.

“DMP bukan narkotika dan tidak digunakan untuk membuat narkoba lain. Tetapi jika dikonsumsi berlebihan, efeknya bisa menyerupai zat adiktif dan membahayakan sistem saraf,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam regulasi terbaru, dekstrometorfan masuk kategori Obat-Obat Tertentu (OOT) yang sering disalahgunakan, sebagaimana diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 12 Tahun 2025. Aturan tersebut mewajibkan fasilitas kefarmasian memastikan distribusi hanya untuk kepentingan pelayanan kesehatan serta melarang penyerahan langsung kepada anak di bawah usia 18 tahun.

“Maka dari itu, penambahan zat seperti guaifenesin dalam formula obat batuk Seledryl dimaksudkan untuk menekan penyalahgunaan. Karena efeknya membuat tidak nyaman sehingga mencegah overdosis dekstrometorfan,” tambahnya.

Apotek dan toko obat juga diwajibkan mencatat setiap transaksi keluar-masuk produk yang mengandung dekstrometorfan. Ketidaksesuaian stok tanpa pencatatan yang jelas dapat dianggap sebagai pelanggaran serius.

“Sanksinya tidak ringan, mulai dari teguran administratif, pembekuan izin, pencabutan izin usaha, hingga tindak pidana jika terbukti ada pembiaran penyalahgunaan,” pungkas dr. Juhai.

Kemudian Dinkes Banjarbaru mengimbau agar masyarakat, khususnya orang tua dan tenaga pendidik, lebih peka terhadap perubahan perilaku remaja yang mencurigakan. Serta memastikan penggunaan obat sesuai aturan dan pengawasan yang tepat.

Pewarta: Haris Pranata

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Dua Tahun Gerak Nyata Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia

22 Oktober 2026 - 21:27 WIB

RSUD Ansari Saleh Matangkan Pembangunan Pusat Jantung Terpadu & Kedokteran Nuklir

19 Oktober 2026 - 19:45 WIB

RSUD Ansari Saleh Pastikan Kesiapan Medis Ditengah Peningkatan Kasus ISPA, Pneumonia & Diare

19 Oktober 2026 - 19:28 WIB

DPRD Kotabaru Dorong Layanan Dokter Spesialis Berkelanjutan di Wilayah Pelosok

18 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Tingkatkan Kualitas Pelayanan, Dua Anak Jalani Aktivasi Implan Koklea di RSUD Ratu Zalecha

8 Oktober 2026 - 08:53 WIB

Pemerintah Mulai Ukur Dampak Program MBG terhadap Kesehatan & Status Gizi Anak

7 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Trending di KESEHATAN