Menu

Mode Gelap
Operasi SAR Berakhir, Korban Tenggelam di Sungai Martapura Depan Menara Siring Pandang Ditemukan Meninggal Dunia Tim SAR Gabungan Laksanakan Operasi Pencarian Seorang Pria Diduga Tenggelam di Sungai Martapura Mengaku Polisi, Pria Ini Raup Jutaan Rupiah dengan Iming-iming Kerja di Polres Banjarbaru DJP Kalsel-Teng Sita Lima Aset Tanah Tersangka Kasus Faktur Pajak Fiktif Kebakaran Hanguskan Dua Asrama Santri dan Empat Rumah di Martapura Timur, Puluhan Kamar Ludes

EKOBIS · 5 Agu 2026 18:54 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,29 Persen, BPS Sebut Didorong Konsumsi Rumah Tangga & Investasi


 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,29 Persen, BPS Sebut Didorong Konsumsi Rumah Tangga & Investasi Perbesar

Ricek.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global. Pada triwulan II-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y).

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (5/8/2026) mengatakan pertumbuhan ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,12 persen dan ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga dan didukung berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat.

“Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan sumber pertumbuhan mencapai 2,67 persen dan tumbuh 5,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Edy.

Kinerja tersebut didorong meningkatnya konsumsi per kapita, khususnya pada kelompok hotel dan restoran, keberhasilan pengendalian inflasi, serta berbagai stimulus pemerintah seperti diskon tiket transportasi selama libur sekolah dan pembayaran gaji ke-13 bagi ASN, TNI, Polri, serta pensiunan.

Peningkatan aktivitas masyarakat juga tecermin dari tingkat hunian hotel. BPS mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang mencapai 51,29 persen, meningkat dibandingkan triwulan II-2025 yang sebesar 48,42 persen.

Selain konsumsi rumah tangga, lanjut Edy, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh investasi yang tetap kuat. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen (y-on-y) berkat meningkatnya investasi swasta maupun pemerintah.

“Konsumsi pemerintah melonjak 15,97 persen (y-on-y), didorong percepatan realisasi belanja pegawai, pembayaran gaji ke-13, akselerasi pembayaran tenaga pendidik non-PNS, serta peningkatan belanja barang dan jasa, termasuk penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujar Edy.

Dari sisi lapangan usaha, lima sektor dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan II-2026 adalah industri pengolahan sebesar 18,50 persen, pertanian 13,57 persen, perdagangan 13,02 persen, konstruksi 9,79 persen, dan pertambangan 8,87 persen.

Sejumlah sektor juga mencatat pertumbuhan yang tinggi. Sektor pengadaan listrik dan gas tumbuh 10,81 persen seiring meningkatnya penjualan listrik di berbagai segmen konsumen. Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen, didukung meningkatnya okupansi hotel dan kinerja jasa boga sejalan dengan meluasnya penerima manfaat program MBG.

Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen berkat meningkatnya pemanfaatan layanan telekomunikasi di berbagai sektor ekonomi.

BPS juga mencatat sektor industri pengolahan tumbuh 4,52 persen (y-on-y), terutama ditopang oleh industri makanan dan minuman, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, serta industri kimia, farmasi, dan obat tradisional.

“Pertumbuhan sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh meningkatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” kata Edy.

Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, tumbuh 6,39 persen (y-on-y). Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya aktivitas perdagangan, bertambahnya pasokan produk domestik dan impor, serta meningkatnya penjualan kendaraan bermotor.

Di tengah perlambatan ekonomi di sejumlah negara, kinerja Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Edy mengatakan BPS mencatat sejumlah mitra dagang utama juga masih membukukan pertumbuhan positif pada triwulan II-2026, di antaranya Vietnam 8,4 persen, Malaysia 5,8 persen, Singapura 5,7 persen, Tiongkok 4,3 persen, Korea Selatan 3,7 persen, dan Amerika Serikat 2,1 persen.

Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa perekonomian kawasan tetap bergerak, sementara Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan konsumsi domestik, investasi, dan aktivitas produksi.

Secara regional, pada triwulan-2 2026, wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Sulawesi tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan tertinggi terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,10 persen, diikuti Jawa 5,65 persen dan Sulawesi 5,53 persen (y-on-y).

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Pada Maret 2026, BPS Sebut Jumlah Penduduk Miskin Indonesia Berkurang 430 Ribu Orang

5 Agustus 2026 - 18:51 WIB

ETLE Rekam 16.812 Pelanggaran Plat Nomor, Korlantas Polri Perkuat Sistem Face Recognition

5 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Hadapi Modus Kejahatan Digital Love Scamming, Polri Perkuat Kapasitas Personel

5 Agustus 2026 - 18:24 WIB

Terindikasi Digunakan untuk Judi Online, OJK Minta Perbankan Blokir 36.735 Rekening

5 Agustus 2026 - 08:03 WIB

Terbitkan Aturan Sekolah Aman, Kemendikdasmen Batasi Gawai Siswa di Bawah 16 Tahun

5 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Menteri ESDM Percepat Penanganan Pemadaman Listrik & Jaga Stabilitas Harga BBM

4 Agustus 2026 - 18:45 WIB

Trending di EKOBIS