Menu

Mode Gelap
MV Hai Da Bawa 69 Korban Selamat KM Virgo Tiba di Banjarmasin KM Virgo Transport 8: 107 Selamat, 6 Meninggal, 136 Masih Dicari KM Virgo Transport 8, 103 Orang Telah Dievakuasi dari Perairan Laut Jawa Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Laut Jawa, Bawa 243 Orang Viral Video IGD Puskesmas Sungai Ulin, Wali Kota Banjarbaru Jenguk Pasien di RSUD Ratu Zalecha

NASIONAL · 16 Sep 2026 20:14 WIB

Kemendukbangga Ungkap Tantangan Bonus Demografi & Penurunan Stunting Dihadapan DPR RI


 Kemendukbangga Ungkap Tantangan Bonus Demografi & Penurunan Stunting Dihadapan DPR RI Perbesar

Ricek.ID – Indonesia tengah berada dalam periode penting bonus demografi yang diproyeksikan berlangsung pada rentang 2020–2030. Besarnya proporsi penduduk usia produktif menjadi peluang untuk meningkatkan pembangunan, tetapi tantangan kualitas sumber daya manusia (SDM) masih membayangi, termasuk ketimpangan demografi antardaerah dan tingginya jumlah keluarga berisiko stunting.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,66 juta jiwa. Sebanyak 196 juta jiwa atau 69,30 persen di antaranya merupakan penduduk usia produktif.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji memaparkan hal tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta pada Selasa (15/9/2026). Ia mengatakan, besarnya proporsi penduduk produktif perlu diimbangi dengan pengelolaan kependudukan yang tepat.

“Saat ini, rasio ketergantungan (dependency ratio) nasional berada pada angka 44,30. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung beban sekitar 44 penduduk usia nonproduktif. Kendati demikian, ketimpangan antarwilayah masih terjadi,” katanya.

Lebih lanjut Wihaji menjelaskan, perbedaan rasio ketergantungan terlihat cukup lebar antarprovinsi. Papua Selatan mencatat rasio ketergantungan tertinggi sebesar 75,40, disusul Papua 58,83 dan Nusa Tenggara Timur 54,92. Sementara itu, rasio ketergantungan terendah tercatat di Papua Pegunungan sebesar 35,83, Kalimantan Timur 40,19, dan DKI Jakarta 40,34.

Dinamika kependudukan juga terlihat dari angka fertilitas. TFR (Total Fertility Rate) nasional berdasarkan SUPAS 2025 berada pada angka 2,13, setelah mengalami penurunan dari 5,6 pada Sensus Penduduk 1971.

Namun, angka fertilitas tersebut juga menunjukkan perbedaan antarwilayah. Papua Pegunungan mencatat TFR tertinggi sebesar 2,78, diikuti Papua 2,74 dan Nusa Tenggara Timur 2,72. Adapun TFR terendah terdapat di DKI Jakarta sebesar 1,79, Jawa Timur 1,95, dan Banten 1,96.

Untuk merespons perubahan struktur penduduk tersebut, pemerintah menyiapkan Desain Besar Pembangunan Kependudukan (DBPK) untuk jangka waktu 20 tahun dan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) dalam periode lima tahunan. Pada PJPK Tahap I 2025–2029, pemerintah memfokuskan kebijakan pada penguatan fondasi kependudukan untuk menjaga keseimbangan antara kuantitas dan kualitas penduduk.

Ada 8,1 Juta Keluarga Berisiko Stunting

Selain itu menurut Wihaji, tantangan pembangunan kualitas SDM juga terlihat dari masih tingginya jumlah keluarga berisiko stunting (KRS). Hasil evaluasi mencatat terdapat 8,1 juta KRS di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,9 juta keluarga tinggal di rumah tidak layak huni, 1,7 juta keluarga menggunakan sumber air minum tidak layak, dan 4,3 juta keluarga memiliki Pasangan Usia Subur (PUS) kategori “4 Terlalu” yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, atau terlalu banyak, serta belum menggunakan KB modern.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat intervensi berbasis keluarga.

“Kemendukbangga mengintegrasikan Sekolah SIAGA Kependudukan, Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja), serta Bina Keluarga Remaja dalam satu gerakan terpadu bernama Akademi Keluarga,” ungkapnya.

Program tersebut diarahkan untuk memberikan pendampingan berkelanjutan kepada remaja hingga keluarga, sekaligus memperkuat kesiapan dalam membangun keluarga yang tangguh.

Intervensi juga dilakukan melalui Program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Stunting). Hingga 3 September 2026, program tersebut telah mendampingi 1.053.046 anak asuhan melalui bantuan edukasi, pemenuhan asupan nutrisi, akses air bersih, dan pembenahan rumah layak huni.

Menurut Wihaji, kolaborasi ekosistem Pentahelix yang melibatkan perorangan, swasta, BUMN, dan akademisi telah menghimpun estimasi bantuan non-APBN sebesar Rp72,6 miliar.

“Dana tersebut disalurkan langsung dari orang tua asuh kepada penerima manfaat. Pemerintah juga menggandeng Kementerian Perumahan untuk mempercepat penyediaan rumah layak huni bagi keluarga berisiko stunting,” pungkasnya.

Berbagai intervensi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan bonus demografi tidak hanya ditandai oleh besarnya jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga diikuti peningkatan kualitas generasi dan ketahanan keluarga.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

MTQ Nasional XXXI Semarang Buka Ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat untuk Penyandang Disabilitas

16 September 2026 - 20:12 WIB

Sampaikan Duka atas Kecelakaan KM Virgo Transport 8, Presiden Prabowo Pastikan Investigasi Dituntaskan

16 September 2026 - 19:29 WIB

Presiden Prabowo Resmikan LRT Jakarta, Tekankan Pentingnya Pembangunan & Transformasi Bangsa

16 September 2026 - 19:26 WIB

Perkuat Operasi SAR, Polri Evakuasi Dua Jenazah KM Virgo dengan Helikopter

16 September 2026 - 19:22 WIB

Kemenhub Deteksi 72.236 Pelanggaran Angkutan Barang Selama Satu Bulan Penerapan ETLE HUB

16 September 2026 - 19:20 WIB

Mendagri Tegaskan Reforma Agraria Harus Berikan Keadilan & Manfaat untuk Masyarakat

16 September 2026 - 19:18 WIB

Trending di NASIONAL