Menu

Mode Gelap
Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi Gubernur Kalsel Siapkan Bonus bagi Pelapor Pelaku Karhutla Satu Korban KM Virgo Transport 8 Kembali Ditemukan Tim SAR Basarnas Perpanjang Operasi SAR KM Virgo Transport 8, 126 Korban Masih Dicari

KESEHATAN · 24 Nov 2023 13:45 WIB

57 Kasus Cacar Monyet di Indonesia, Terbanyak Lewat Kontak Seksual


 https://twitter.com/KemenkesRI Perbesar

https://twitter.com/KemenkesRI

Kasus Mpox Atau Monkeypox/Cacar Monyet di Indonesia, pertama terdeteksi pada Oktober 2022 dan hingga sekarang jumlah penyakit ini telah mencapai 57 kasus dengan sebaran di lima provinsi.

Hal ini disampaikan Direktur Surveilans Karantina Kesehatan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Achmad Farchanny Tri Adryanto, dalam konferensi pers virtual hari Kamis (23/11/2023).

“Total kasus terkonfirmasi cacar monyet hingga 22 November 2023, ada 57 orang. Delapan orang masih suspek, 191 orang itu dinyatakan negatif, dan dari 57 kasus ini, 33 orang sudah sembuh,” kata Farchanny.

Farchanny menjelaskan dari 57 kasus terkonfirmasi mpox yang terbanyak melaporkan adalah DKI Jakarta (42 kasus), Banten (enam kasus), Jawa Barat (enam kasus), Jawa Timur (dua kasus), dan Kepulauan Riau (satu kasus). Seluruh penderita kasus cacar monyet yang terkonfirmasi adalah laki-laki.

Adapun rentang usia yang paling banyak dilaporkan kasus mpox yang terkonfirmasi adalah 30-39 tahun dengan 24 kasus. Kemudian, usia 25-29 dengan 17 kasus, 18-24 tahun dengan 13 kasus, 40-49 tahun dengan dua kasus, dan 50 tahun ke atas satu kasus.

“Dari 57 kasus yang terkonfirmasi orientasi seksual pada penderita adalah terbanyak pada komunitas lelaki seks lelaki (LSL) ada 35 kasus. Kemudian orientasi biseksual ada 11 kasus, heteroseksual ada tujuh kasus, dan yang belum diketahui secara pasti masih dilakukan pendalaman ada dua kasus. Ada lima kasus baru yang masih pendalaman dan penyelidikan epidemiologi,” jelas Farchanny.

Ditambahkannya, 57 kasus mpox yang terkonfirmasi rata-rata penderitanya disertai dengan kondisi penyerta, seperti positif human immunodeficiency virus (HIV) ada 39 kasus.

“Lalu, disertai dengan penyakit sifilis 16 kasus, hipertensi dua kasus, herpes simplex virus (HSV) dua kasus, dan tuberkulosis aktif dua kasus,” ujarnya.

Seluruh kasus mpox yang terkonfimasi diwajibkan menjalani isolasi. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan yang menjalani isolasi di rumah sakit ada tujuh kasus. Lalu, pasien yang menjalani isolasi mandiri dan dalam pengawasan petugas kesehatan ada 14 orang. “Dirawat di rumah sakit dan meninggal dunia ada satu orang dan sudah sembuh ada 33 kasus,” ujar Farchanny.

Potensi Penularan Cacar Monyet Terbanyak Lewat Kontak Seksual

Sementara itu kemungkinan penularan mpox paling banyak terjadi melalui kontak seksual dengan 51 kasus. Namun enam kasus cacar monyet lainnya belum diketahui jejak penularannya.

Adapun gejala yang timbul dari 57 kasus mpox itu yakni simtomatik seperti demam dan muncul lesi terjadi pada 54 orang. Kemudian pasien dengan gejala asimtomatik atau tidak dengan gejala demam dan lesi yakni tiga kasus.

“Rata-rata masa inkubasi pada kasus yang terkonfirmasi sekitar 7 hari. Gejala yang timbul dan dikeluhkan itu terbanyak adalah muncul lesi di kulit, demam, ruam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan influenza,” ucap Farchanny.

Cacar Monyet Merebak Pesat 2023

Tim pakar dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Lie Khie Chen, menyatakan angka kematian kasus mpox sangat kecil.

“Kami di RSCM menerima pasien dengan rujukan. Jadi penderita mpox yang dirujuk ke RSCM adalah pasien dengan komorbid yang berat. Kalau pasien yang kami rawat memang komplikasi, masuknya dengan kondisi yang bermasalah dan harus menjalani operasi,” katanya.

Lie Khie Chen juga memberikan klarifikasi terkait dengan satu pasien cacar monyet yang dirawat di RSCM. Menurutnya, pasien itu meninggal dunia bukan karena mpox. “Kondisi dari pasien penyebab meninggalnya sama sekali bukan karena mpox. Disebabkan oleh komorbid lainnya. Kita tidak perlu khawatir kasus mpox umumnya kasus yang bisa diatasi,” ujarnya.

Sementara itu spesialis penyakit dalam konsultan tropik infeksi, Robert Sinto, mengatakan angka kematian pada kasus mpox masih rendah. Namun upaya deteksi dini penyakit mpox perlu menjadi prioritas agar tidak terjadi penularan yang lebih banyak di masyarakat.

“Satu kasus yang berakhir dengan kematian bukan berarti angka kematiannya tinggi akibat mpox tapi rendah, sehingga tidak perlu terlalu khawatir tapi harus meningkatkan kewaspadaan,” tandasnya.

Kasus mpox di Indonesia pertama kali dilaporkan pada pada 20 Agustus tahun 2022 dengan satu kasus. Sejak saat itu sepanjang tahun 2022 tidak ada lagi kasus mpox yang ditemukan. Kemudian, kasus mpox di Indonesia kembali ditemukan pada Oktober 2023.(voa)

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Dampak Kabut Asap Karhutla, Dinkes Kalsel Perkuat Perlindungan Kesehatan Masyarakat

15 September 2026 - 18:54 WIB

Karhutla Sebabkan Kabut Asap, Dinkes Kalsel Perkuat Pelayanan Kesehatan

1 September 2026 - 21:10 WIB

Berpartisipasi di Kalsel Expo 2026, RSJ Sambang Lihum Hadirkan Layanan Deteksi Stres

13 Agustus 2026 - 05:49 WIB

RSUD Ulin Banjarmasin Perkenalkan Layanan Stroke Modern di Kalsel Expo 2026

13 Agustus 2026 - 05:46 WIB

Perkuat Pelayanan Kesehatan Keluarga, Dinkes Kalsel Fokus Tekan Kematian Ibu-Bayi & Stunting

12 Agustus 2026 - 18:15 WIB

RSUD Ratu Zalecha Catatkan Peningkatan Kasus Pneumonia di Musim Kemarau, Puskesmas Dominasi Penanganan Kasus ISPA

6 Agustus 2026 - 09:11 WIB

Trending di ADVERTORIAL