Menu ✖

Mode Gelap
Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi Gubernur Kalsel Siapkan Bonus bagi Pelapor Pelaku Karhutla Satu Korban KM Virgo Transport 8 Kembali Ditemukan Tim SAR Basarnas Perpanjang Operasi SAR KM Virgo Transport 8, 126 Korban Masih Dicari

ARTIKEL · 17 Mei 2025 22:00 WIB

Mengapa Malam Minggu Spesial?


 Mengapa Malam Minggu Spesial? Perbesar

Oleh: Haris Pranata

“Ah… malam Minggu. Malam yang asyik untuk bersenang ria,” kata teman yang tak ingin disebutkan namanya.

Malam Minggu, rasanya bagai penutup manis setelah hiruk pikuk seminggu. Bagaimana tidak, sudah menjadi kerangka sosial dan budaya yang kuat bahwa Malam Minggu merupakan malam spesial.

Bayangkan saja, pada zaman dulu sebelum ada internet, bahkan listrik. Kehidupan sehari-hari diisi hanya dengan bekerja keras, seperti bertani atau berdagang.

Kemudian dalam masyarakat muncul gagasan hari istirahat. Dalam banyak budaya serta agama, kadang ada satu hari yang dianggap suci atau khusus untuk beristirahat atau hanya sekadar berkumpul saja.

Dalam konteks sosial, hari Minggu merupakan hari istirahat masyarakat barat yang kental akan tradisi agama Kristen.

Barulah sebelum hari istirahat tersebut, malamnya yaitu Malam Minggu secara alami terasa berbeda. Ada semacam kebebasan yang terasa lega di udara. Pekerjaan usai untuk satu minggu, dan esok hari tidak perlu terburu-buru bangun pagi untuk bekerja ataupun sekolah.

“Istirahat bukan musuh pekerjaan. Istirahat merupakan rekan pekerjaan. Mereka melengkapi satu sama lain. Bahkan, Anda tidak dapat bekerja dengan lebih baik tanpa istirahat dengan baik,” dikutip dari buku berjudul “Rest: Why You Get More Done When You Work Less” karya Alex Soojung-Kim Pang, dan diterjemahkan oleh penulis artikel ini, Sabtu (17/5/2025).

Dalam buku tersebut diteliti bagaimana istirahat yang terencana dan berkualitas justru meningkatkan produktivitas serta kreativitas, terutama mengambil istirahat di malam Minggu.

Tidak hanya buku ilmiah, karya fiksi seperti novel klasik berjudul “Little Women” karya Louisa May Alcott sempat menggambarkan adegan keluarga berkumpul untuk beristirahat atau hanya bertemu sapa saja pada malam Minggu.

Terkadang kita juga dapat menemukan karya puisi yang menuliskan tentang suasana tenang dan damai pada malam Minggu seperti kumpulan puisi-puisi malam dari Sapardi Djoko Damono. Hal tersebut menunjukkan bagaimana malam spesial itu memiliki tempat istimewa dalam hati masyarakat.

Dari sudut pandang sejarah, sosial, dan budaya, keistimewaan malam Minggu bukan hanya sekedar ilusi. Hal tersebut bersumber dari kebutuhan manusia akan jeda setelah rutinitas.

Malam yang dinanti masyarakat ini menjadi penanda abadi berakhirnya gerbang kesibukan menuju waktu luang berharga.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Perlindungan Konsumen: Membangun Ekosistem Perlindungan yang Terhubung

12 September 2026 - 11:52 WIB

Kecelakaan Maut di Tol JORR, Diduga Dipicu Microsleep Pengendara Diminta Jangan Sepelekan Kantuk

19 Juli 2026 - 17:39 WIB

Profil Gus Nafik, Pendiri Pesantren Rehabilitasi Mental Sapu Jagad di Kediri

8 Juli 2026 - 10:13 WIB

Jelang Implementasi B50, LPKSM Borneo Kalimantan Kawal Masa Transisi Energi Nasional

30 Juni 2026 - 18:12 WIB

Soroti Potensi ‘Bisnis’ di Balik Donor Darah Berhadiah Beras, Calon Komisioner BPKN Minta Jaminan Bebas Komersialisasi

27 Juni 2026 - 13:48 WIB

Korlantas Andalkan ETLE Jadi Penguat Penegakan Hukum Lalu Lintas Berbasis Digital

15 Mei 2026 - 19:45 WIB

Trending di ARTIKEL