Menu

Mode Gelap
Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan Tragedi di Sungai Tunjang, Empat ABK Tewas di Dalam Ruang Sempit Kapal

ADVERTORIAL · 16 Jul 2026 18:16 WIB

Wabup Banjar Dampingi Tim Bappenas Observasi Program Penurunan Stunting di Dua Titik


 Wabup Banjar Dampingi Tim Bappenas Observasi Program Penurunan Stunting di Dua Titik Perbesar

Ricek.ID – Wakil Bupati (Wabup) Banjar Said Idrus Al Habsyi bersama jajaran instansi terkait dampingi Tim Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melakukan observasi lapangan Program Pencegahan dan Penurunan Stunting di Posyandu Desa Mali-Mali, Kecamatan Karang Intan pada Kamis (16/7/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari pemantauan pelaksanaan program percepatan penurunan stunting sekaligus melihat secara langsung implementasi berbagai intervensi yang telah dijalankan Pemerintah Kabupaten Banjar di tingkat desa.

Dalam agenda tersebut, tim Bappenas mengunjungi dua titik krusial, yaitu Posyandu Mali-Mali dan Kampung KB yang terletak di kelurahan Keraton. Wilayah ini menjadi perhatian khusus mengingat angka stunting di Kabupaten Banjar sebelumnya tercatat sebagai yang tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan.

Said Idrus menyampaikan percepatan penurunan stunting menjadi salah satu program prioritas pemerintah daerah yang dilaksanakan secara terpadu melalui kolaborasi lintas sektor.

Menurutnya, keberhasilan menurunkan angka stunting tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga memerlukan dukungan seluruh perangkat daerah, pemerintah desa, kader Posyandu, tenaga kesehatan serta partisipasi aktif masyarakat.

“Melalui kunjungan ini, kami berharap mendapatkan masukan dan rekomendasi dari Bappenas untuk semakin menyempurnakan program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banjar sehingga target yang telah ditetapkan dapat tercapai,” ujar Wabup.

Koordinator Direktorat Pengendalian Evaluasi Kebijakan Strategis 4 Bappenas, Meita mengapresiasi pola koordinasi yang telah berjalan di Kabupaten Banjar. Hubungan kerja sama yang solid antara camat, jajaran aparatur desa, puskesmas, hingga tingkat kader Posyandu dinilai menjadi modal kuat yang dapat direplikasi oleh daerah lain. Kendati demikian, penyelarasan program kerja yang dinilai masih perlu dioptimalkan agar sinergi yang terbangun dapat memberikan hasil yang jauh lebih besar.

“Kami ingin melihat bagaimana kasus stunting di Desa Mali-Mali ini, termasuk kunjungan ke Posyandu untuk mengetahui apakah balita yang terindikasi stunting membaik perkembangannya setelah diberikan intervensi, misalnya dari status sangat pendek menjadi pendek,” sebutnya.

Selain intervensi gizi, Meita juga menekankan pentingnya peran aktif dari para kader Posyandu di lapangan dalam mengawal program ini.

Ia menjelaskan, Kabupaten Banjar saat ini masih mencatat angka stunting yang cukup tinggi di Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan data terkini, angka stunting di daerah tersebut masih berada di kisaran 32%. Kondisi ini menuntut kerja keras dari seluruh pihak guna mengejar target penurunan stunting nasional, di mana Kabupaten Banjar ditargetkan dapat menekan angka tersebut hingga mencapai 17% pada akhir tahun 2029.

“Angka stunting di Kabupaten Banjar ini memang masih sangat tinggi dan menjadi nomor satu di Provinsi Kalsel. Targetnya, pada penghujung tahun 2029 nanti bisa ditekan hingga ke angka 17%. Memang diperlukan upaya yang cukup keras, namun melalui perbaikan kebijakan dan konsistensi intervensi, kami berharap angka ini dapat diturunkan secara bertahap,” ungkapnya.

Terpisah, Plt Kadinkes Banjar Noripansyah menambahkan, penanganan stunting di kawasan tersebut tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus dilakukan bersama melalui komitmen lintas sektor. Langkah penanganan ke depan akan difokuskan pada dua lini utama, yaitu Intervensi Spesifik, yakni berfokus pada sektor kesehatan, seperti pemberian makanan tambahan (PMT), kecukupan gizi ibu hamil, serta vitamin untuk balita.

Kemudian Intervensi Sensitif, yakni berfokus pada penyediaan sarana pendukung di luar sektor kesehatan, seperti akses air bersih, sanitasi yang layak serta edukasi pola asuh kepada masyarakat secara umum.

Sumber : Media Center Banjar

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Optimalkan Penyaluran Biosolar di Tengah Meningkatnya Permintaan

16 Juli 2026 - 18:20 WIB

Jalan Amblas di Sungai Lulut, Dishub Kalsel Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Usai Penutupan Jalan

16 Juli 2026 - 18:19 WIB

Tingkatkan Kualitas Pelayanan Adminduk, Pemkab Banjar Jalin Sinergi dengan Lembaga Keagamaan

16 Juli 2026 - 18:12 WIB

Manfaatkan Aset Bank Indonesia, Pemprov Kalsel Ingin Hidupkan Kembali Industri Intan Martapura

16 Juli 2026 - 18:09 WIB

Tindaklanjuti Arahan Wali Kota Banjarmasin, Sekda Pastikan Kebersihan TPS & Imbau Warga Buang Sampah Sesuai Jadwal

16 Juli 2026 - 18:06 WIB

Hadiri RALB KPRI Barakat Mandiri Sejahtera, Sekda Banjar Minta Koperasi Bangkit dengan Tata Kelola Baru

16 Juli 2026 - 18:02 WIB

Trending di ADVERTORIAL