Ricek.ID – Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Kalimantan Selatan (Dispora Kalsel) mendorong generasi muda meningkatkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan kecakapan komunikasi untuk menghadapi derasnya arus informasi serta perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Hal tersebut disampaikan Kepala Dispora Kalsel, Pebriadin Hapiz, melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Pemuda, Budiono, pada Kamis (15/10/2026) dalam konteks penguatan peran pemuda menyambut momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.
Ia menegaskan, pemuda tidak cukup hanya aktif menggunakan media sosial, tetapi harus mampu menganalisis informasi, mengenali perkembangan lingkungan strategis, serta berperan sebagai pembentuk narasi yang positif dan bertanggung jawab di ruang publik.
“Oleh karena itu tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks seiring masifnya arus informasi, dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, dinamika lanskap digital, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan,” ujar Budiono.
Salah satu tantangan yang perlu diwaspadai ialah fenomena post-truth, ketika informasi yang terus diulang dapat dipercaya sebagai kebenaran meskipun belum tentu didukung fakta. Kondisi ini menuntut pemuda lebih cermat memverifikasi informasi sebelum menerima maupun menyebarkannya.
Lebih lanjut, Budiono juga menyoroti sejumlah persoalan yang masih perlu mendapat perhatian, di antaranya kemampuan berpikir kritis dan analitis yang perlu diperkuat, rendahnya literasi digital, serta minimnya kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) dan membangun citra diri yang positif (personal branding).
Selain itu, pemuda dinilai masih cenderung menjadi konsumen konten dibandingkan produsen gagasan dan narasi.
“Karena itu, penguatan kapasitas pemuda diperlukan agar mereka tidak hanya mengikuti arus informasi, tetapi juga mampu menghasilkan konten yang edukatif, kreatif, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kalsel memiliki potensi besar melalui keaktifan pemuda dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Organisasi tersebut dapat menjadi ruang untuk mengasah kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kolaborasi, sekaligus membangun posisi pemuda sebagai opinion leader di tengah masyarakat.
Keterbukaan informasi juga menjadi peluang bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, mengembangkan kreativitas, dan meningkatkan daya saing. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan karakter yang kuat agar kemajuan teknologi tidak menggeser nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat.
Budiono menekankan pentingnya peran organisasi dan lembaga keagamaan dalam membentuk karakter pemuda yang jujur, amanah, rukun, kompak, serta mampu bekerja sama. Nilai mujhid-muzhid, yakni bekerja keras dan menjalani hidup sederhana, juga dinilai relevan untuk membangun generasi yang tangguh dan bertanggung jawab.
Ia mengingatkan bahwa pembentukan karakter dan kebiasaan positif harus dimulai dari sekarang karena tindakan hari ini akan menentukan kualitas generasi pada masa mendatang.
“Kebaikan hari ini merupakan investasi masa depan. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi masa depan,” menjadi pesan yang ditekankan dalam penguatan karakter pemuda.
Selain kompetensi dan penguasaan teknologi, akhlak juga menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan dan membuka peluang keberhasilan.
“Kemampuan intelektual yang baik perlu berjalan beriringan dengan integritas, etika, dan tanggung jawab sosial,” ujar Budiono.
Melalui momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, penguatan daya saing generasi muda diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teknologi, tetapi juga melahirkan pemuda yang kritis dalam berpikir, cakap berkomunikasi, produktif berkarya, serta kokoh dalam karakter.
“Dengan demikian, semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 dapat terus diwujudkan melalui kontribusi nyata generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman dan mendukung kemajuan Kalimantan Selatan,” tutupnya.
Sumber : MC Kalsel














