GUNUNG SITOLI – Upaya pelestarian ekosistem pesisir terus diperkuat di Pulau Nias, Sumatera Utara. Berawal dari maraknya penebangan mangrove di sejumlah kawasan pantai, berbagai pihak kini mendorong langkah restorasi dan perlindungan lingkungan secara berkelanjutan.
Salah satunya dilakukan Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (YAKOPI) Region Nias yang aktif melaksanakan penanaman mangrove di berbagai titik pesisir pada lima daerah di Kepulauan Nias, yakni Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli.
Koordinator Wilayah YAKOPI Nias, Bobby Pangaribuan, mengatakan program penanaman mangrove difokuskan pada kawasan yang sebelumnya teridentifikasi mengalami penebangan mangrove oleh masyarakat untuk kebutuhan ekonomi, termasuk sebagai kayu bakar bagi nelayan pesisir.
Menurutnya, meskipun aktivitas penebangan tersebut belum masuk kategori besar, langkah rehabilitasi perlu segera dilakukan guna mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas.
“Kami memandang perlu dilakukan penanaman kembali menggunakan bibit pilihan agar kondisi ekosistem pantai tetap terjaga dan tidak mengalami kerusakan yang berdampak pada masyarakat,” ujar Bobby kepada wartawan di Gunungsitoli, Sabtu (6/6/2026).
Ia menjelaskan, mangrove memiliki peran penting sebagai benteng alami dalam meredam gelombang tinggi, badai, abrasi hingga tsunami. Selain itu, kawasan mangrove juga menjadi habitat berbagai biota laut sekaligus berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim.
Program konservasi yang dijalankan YAKOPI tidak hanya berfokus pada restorasi lingkungan, tetapi juga menyasar peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan berbasis potensi lokal.
Selain rehabilitasi mangrove, YAKOPI juga mengembangkan program agroforestri melalui pembibitan dan penanaman pohon keras serta pohon buah yang akan difokuskan di wilayah Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias Utara.
Di sektor pengelolaan sampah, YAKOPI telah mengembangkan bank sampah di Desa Faekhu, Kota Gunungsitoli, serta Desa Sondregeasi, Kabupaten Nias Selatan. Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi dari limbah rumah tangga.
Sementara itu, penguatan ekonomi masyarakat juga dilakukan melalui produksi Virgin Coconut Oil (VCO) di Kelurahan Ilir dan Desa Mo’awö, Kota Gunungsitoli, yang memanfaatkan potensi komoditas kelapa sebagai sumber pendapatan masyarakat.
Tak hanya itu, YAKOPI turut mengembangkan budidaya kepiting bakau dengan metode “apartemen kepiting” di Kecamatan Afulu dan Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara. Program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat dan pemerintah daerah karena dinilai mampu menjadi alternatif usaha perikanan berkelanjutan bagi warga pesisir.
Dalam pelaksanaannya, YAKOPI juga melibatkan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan sebagai bagian dari edukasi lingkungan. Langkah ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda agar menjadi pelaku aktif dalam menjaga dan melestarikan lingkungan pesisir di masa depan.
Melalui berbagai program tersebut, YAKOPI berharap ketahanan ekosistem pesisir di Kepulauan Nias dapat terus terjaga sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Pewarta: Tolona Gea













