Menu

Mode Gelap
Kebakaran Hanguskan Dua Asrama Santri dan Empat Rumah di Martapura Timur, Puluhan Kamar Ludes Mobil Terlibat Insiden di SPBU Pelaihari, Pertamina Pastikan Tak Ada Korban Jiwa Perempuan di Pengaron Banjar Ditemukan Tewas di Sawah, Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Dugaan Penimbunan Solar Disorot dalam Demo Sopir Truk Kalsel Warga Kertak Hanyar Geger, Pria Tanpa Identitas Ditemukan Tewas di Kontrakan

NASIONAL · 19 Jul 2026 17:33 WIB

BMKG Ungkap Kemarau Terus Meluas & Curah Hujan Mulai Rendah


 BMKG Ungkap Kemarau Terus Meluas & Curah Hujan Mulai Rendah Perbesar

Ricek.ID – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap musim kemarau terus meluas di Indonesia dengan cakupan mencapai 423 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 60,5 persen wilayah. Kendati demikian, masyarakat diminta tetap mewaspadai potensi hujan yang masih dapat terjadi di sejumlah daerah dalam sepekan ke depan akibat pengaruh dinamika atmosfer.

BMKG dalam keterangannya pada Sabtu (18/7/2026) melaporkan sebagian besar wilayah Indonesia saat ini didominasi curah hujan berintensitas rendah. Sekitar 72 persen wilayah mengalami curah hujan rendah, sementara 26 persen wilayah masih mengalami curah hujan sedang dan hanya sebagian kecil yang mengalami hujan lebat hingga sangat lebat.

Wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, serta beberapa wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Meski musim kemarau terus meluas, BMKG mencatat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi di beberapa daerah. Curah hujan tertinggi tercatat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sebesar 75 mm per hari, diikuti Kota Padang, Sumatra Barat (55,5 mm per hari), Kota Singkawang, Kalimantan Barat (44 mm per hari), dan Kota Medan, Sumatra Utara (21 mm per hari).

Menurut BMKG, hujan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin yang aktif melintasi sebagian Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi pada periode tersebut.

BMKG memprakirakan dalam sepekan ke depan kondisi cuaca di Indonesia secara umum masih didominasi curah hujan rendah dengan cakupan wilayah yang semakin luas.

Pada dasarian ketiga Juli 2026, curah hujan rendah diperkirakan meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika iklim global yang cenderung mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. BMKG juga memperkirakan fenomena El Nino akan terus menguat sepanjang 2026 sehingga berpotensi memperkuat kondisi musim kemarau.

Meski demikian, aktivitas MJO diprediksi masih aktif di wilayah Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara sehingga dapat meningkatkan peluang hujan di wilayah tersebut.

Selain itu, gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, serta perairan Samudra Pasifik utara Papua. Kondisi tersebut didukung oleh terbentuknya belokan angin (shearline), daerah konvergensi, serta suhu muka laut yang relatif hangat sehingga masih mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.

Sementara itu, cuaca di Indonesia umumnya diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun masyarakat diminta mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Pegunungan, dan Papua.

Sementara itu, potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Gorontalo, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Papua Barat, sedangkan potensi angin kencang diperkirakan terjadi di wilayah Banten dan Jawa Barat.

Menghadapi musim kemarau yang semakin meluas, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan dengan mencukupi kebutuhan cairan tubuh, menghemat penggunaan air, serta menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, seperti topi, payung, dan tabir surya.

Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, baik melalui situs web, aplikasi Info BMKG, maupun media sosial resmi BMKG. Langkah antisipatif perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem, termasuk memahami prosedur evakuasi apabila diperlukan.

BMKG menegaskan informasi cuaca akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan kondisi atmosfer terkini agar masyarakat dapat merencanakan aktivitas dengan lebih aman selama musim kemarau.

Sumber : infopublik.id

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Dalam 20 Bulan, Presiden Prabowo Sebut Pemerintah Wujudkan Berbagai Terobosan Strategis untuk Indonesia

21 Juli 2026 - 06:48 WIB

Perkuat Kendali Devisa Nasional, Presiden Prabowo Sebut PT DSI Kelola 10,5 Miliar Dollar AS

21 Juli 2026 - 06:45 WIB

Kerugian Negara Capai Rp38,9 Miliar, Kortastipidkor Polri Tetapkan Tiga Tersangka atas Dugaan Korupsi Pembiayaan Batu Bara

21 Juli 2026 - 06:42 WIB

Kemkomdigi Terapkan Registrasi Biometrik Kartu SIM, Temukan Penyalahgunaan di Tingkat Penjual

21 Juli 2026 - 06:39 WIB

Penerapan Wajib NIB bagi Pedagang Marketplace, Kemendag Berikan Masa Transisi

20 Juli 2026 - 19:22 WIB

DJP Pastikan PMK 37/2025 Bukan Aturan Pajak Baru bagi Pedagang Marketplace

20 Juli 2026 - 19:20 WIB

Trending di EKOBIS