Menu

Mode Gelap
Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi Gubernur Kalsel Siapkan Bonus bagi Pelapor Pelaku Karhutla Satu Korban KM Virgo Transport 8 Kembali Ditemukan Tim SAR Basarnas Perpanjang Operasi SAR KM Virgo Transport 8, 126 Korban Masih Dicari

ARTIKEL · 22 Mar 2026 17:28 WIB

IdulFitri Indonesia, Dari Ritus Islam ke Tradisi Peradaban Nasional


 Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. A.M Hendropriyono, S.T., S.H., M.H (tengah) seusai acara silaturahmi dan bukber di Kraton Majapahit bersama Sultan Banjar Sultan Cevi Yusuf Al Banjari dan Demang Irfan Fajrianoor di Jakarta (foto : ist/ricek.id) Perbesar

Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. A.M Hendropriyono, S.T., S.H., M.H (tengah) seusai acara silaturahmi dan bukber di Kraton Majapahit bersama Sultan Banjar Sultan Cevi Yusuf Al Banjari dan Demang Irfan Fajrianoor di Jakarta (foto : ist/ricek.id)

Ricek– Idulfitri sebagai ajaran Islam bersifat universal dengan cara mengekspresikannya yang khas di Indonesia dalam bentuk tradisi sosial dan kenegaraan, sehingga memberikan sumbangan penting bagi peradaban Islam dunia.

Masyarakat bangsa Indonesia telah mengangkat Idulfitri dari ritual ibadah menjadi mekanisme rekonsiliasi nasional.

  1. Sejarah Universal vs. Formulasi Indonesia
    Secara teologis, Idulfitri berasal dari ajaran Nabi Muhammad sebagai penutup Ramadhan. Beberapa praktik yang kini dianggap “identik” dengan Idulfitri seperti halalbihalal, ungkapan “mohon maaf lahir dan batin”, silaturahmi nasional lintas status dan institusionalisasi rekonsiliasi sosial tidak lahir di Jazirah Arab, melainkan berkembang kuat di tanah tumpah darah kita Indonesia.
  2. Peran Negara di Era Presiden Sukarno
    Pada masa awal Republik di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno, bangsa Indonesia menghadapi konflik ideologi antara kaum nasionalis, Islam dan kaum komunis, yang menjadikan fragmentasi sosial yang serius pada era pasca-kemerdekaan. Kebutuhan yang dirasakan mendesak oleh semua orang terhadap rasa persatuan, memunculkan praktik halalbihalal yang diprakarsai oleh Kementrian Agama RI dan para tokoh bangsa serta difasilitasi oleh negara.
  3. Makna Strategis Halalbihalal
    Bukan sekadar silaturahmi tetapi rekonsiliasi politik dan sosial, untuk menghapus dendam pasca konflik, menyatukan elite dan rakyat dalam satu forum moral. Dalam literatur sejarah, halalbihalal berkembang sekitar tahun 1949 sebagai solusi budaya untuk mengatasi kebuntuan komunikasi politik. Dengan demikian maka negara melalui struktur Kementerian Agama RI menginstitusionalisasikan Idulfitri sebagai alat pemersatu bangsa.
  4. “Mohon Maaf Lahir dan Batin” sebagai Inovasi Kultural Indonesia
    Ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” adalah formulasi khas Indonesia melampaui konsep Arab klasik tentang ‘afw (maaf), karena mencakup dimensi sosial (lahir)
    sekaligus dimensi psikologis dan spiritual (batin). Moralitas kolektif tersebut merupakan formulasi filosofis Nusantara yang menyatukan etika Islam, dengan budaya nasional seperti rasa empati, simpati dan harakat nilai gotong royong. Dengan demikian bangsa Indonesia telah melahirkan bahasa moral kolektif yang sangat kuat di dunia.
  5. Sungkem dan Salim: Integrasi Islam dan Budaya Nusantara.
    Tradisi sungkem (bersujud kepada orang tua) dan salim (cium tangan) merupakan integrasi antara ajaran Islam tentang birrul walidain (bakti kepada orang tua) dan budaya Nusantara yang menekankan hierarki moral dan penghormatan. Yang menarik adalah bahwa dalam Islam Arab penghormatan kepada orang tua bersifat normatif, sedangkan dalam budaya kita Indonesia menjadi ritus simbolik yang sangat konkret dan emosional. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar “menganut” Islam sebagai agama kita, tetapi mengolahnya menjadi peradaban yang berwujud rasa batin yang mendalam.
  6. Idulfitri sebagai Mekanisme Rekonsiliasi Nasional.
    Di Indonesia Idulfitri berkembang menjadi ritual rekonsiliasi nasional tahunan dalam forum penyatuan elite politik dengan masyarakat, yang menjadikannya suatu mekanisme informal bagi penyelesaian berbagai konflik. Tradisi seperti Open House Presiden RI memperkuat fungsi ini dengan rakyat bertemu pemimpin tanpa sekat hierarki sosial, sehingga rasa kebangsaan kita terasa diperkuat. Dalam perspektif Filsafat Intelijen hal tersebut adalah instrumen stabilisasi sosial yang berbasis budaya bangsa, bukan berbasis kekuasaan politik.
  7. Perbandingan dengan tradisi bangsa lain.
    Jika dibandingkan dengan Nowruz di Iran yang bertema pembaharuan alam, Chinese New Year yang bertema kemakmuran & penghormatan kepada leluhur, Tahun baru Tết Vietnam tentang keharmonisan keluarga, Idulfitri di Indonesia juga memiliki keunikan tersendiri. Rekonsiliasi moral terstruktur yang merupakan ritual nasional, telah memberikan kontribusi Indonesia yang luarbiasa kepada dunia Islam. Tradisi Idulfitri telah menghayatkan keyakinan terhadap Islam, menjadi sistem sosial yang hidup dalam masyarakat bangsa kita.

Idulfitri yang lahir dari ajaran Islam universal di Indonesia, telah terhayati sebagai tradisi sosial yang penuh empati, rekonsiliasi yang penuh keharuan, sehingga mencapai bentuknya yang paling matang di Indonesia.

Peran negara melalui pendekatan kultural, telah mentransformasikan ritual menjadi institusi sosial dan menjadikan maaf sebagai kekuatan nasional. Ajaran dunia tentang Idulfitri telah berkembang di Indonesia sebagai Pusat Peradaban nasional yang luhur.

Oleh: AM Hendropriyono

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Perlindungan Konsumen: Membangun Ekosistem Perlindungan yang Terhubung

12 September 2026 - 11:52 WIB

Perlindungan Konsumen dalam Proses Lelang Agunan: Antara Kepastian Prosedur, Hak Konsumen, dan Fakta di Lapangan

17 Agustus 2026 - 20:45 WIB

Ribuan Jemaah Padati Banjar Bersholawat Bersama Habib Ali Zainal Abidin bin Segaf Assegaf

11 Agustus 2026 - 05:43 WIB

Kecelakaan Maut di Tol JORR, Diduga Dipicu Microsleep Pengendara Diminta Jangan Sepelekan Kantuk

19 Juli 2026 - 17:39 WIB

Tanggapan LPKSM Borneo Kalimantan perwakilan Kaltim Terhadap Kebijakan Layanan 10 Hari Sertifikat BPN

16 Juli 2026 - 17:18 WIB

Sinergi Kebangsaan Perlindungan Konsumen: Menguatkan Peran LPKSM dan 29 Kementerian/Lembaga Lewat Inovasi Digital Berdaya Guna Tinggi

11 Juli 2026 - 09:48 WIB

Trending di OPINI