Menu ✖

Mode Gelap
Polres Tanah Laut Ungkap 20 Kasus Narkoba Dalam Dua Bulan Karhutla Kabupaten Banjar 937 Kejadian di 6.100 Hektare Lahan Alfamart di Gambut Terbakar, Pria Diduga Pembakar Tewas di Kamar Mandi Kejari Kotabaru Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMAN 1 Kotabaru Surat Permintaan Sumbangan Mengatasnamakan Pesantren At-Tarbiyah Beredar, Pemdes Jaruju Laut Beri Klarifikasi

Banjarbaru · 19 Okt 2026 20:27 WIB

Profesor Husaini : Asap Karhutla Bukan Kutukan Alam, tetapi Alarm Krisis Lingkungan


 Profesor Husaini : Asap Karhutla Bukan Kutukan Alam, tetapi Alarm Krisis Lingkungan Perbesar

Ricek.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar bencana musiman. Dampaknya meluas, mulai dari ancaman kesehatan, terganggunya aktivitas masyarakat, hingga kerugian ekonomi. Fenomena ini menjadi gambaran nyata krisis lingkungan yang membutuhkan penanganan serius.

Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Profesor Husaini, menyoroti kondisi tersebut melalui konsep “Hidup di Bawah Kubah Asap Karhutla”, yang menggambarkan masyarakat seolah terperangkap dalam kepungan polusi berbahaya.

Menurutnya, fenomena ini tidak semestinya dianggap sebagai kutukan alam. Meski perubahan iklim dan anomali cuaca meningkatkan risiko kebakaran, aktivitas manusia serta lemahnya pengawasan lingkungan juga harus menjadi perhatian.

“Kabut asap karhutla tidak semestinya dianggap sebagai kutukan alam. Faktor iklim memang memperbesar risiko, tetapi pencegahan, pengelolaan lahan, dan penegakan hukum menentukan seberapa besar bencana dapat dikendalikan,” ujarnya.

PM2.5, Ancaman Tak Kasatmata

Salah satu bahaya utama asap karhutla adalah partikulat halus PM2.5 yang mampu menembus jauh ke dalam paru-paru. Paparan polutan ini berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular.

Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta menjadi kelompok yang membutuhkan perlindungan ekstra. Dampak asap juga meluas ke sektor pendidikan, pekerjaan, aktivitas sosial, hingga kesehatan mental masyarakat.

“Api mungkin terlihat di satu kawasan, tetapi asapnya dapat bergerak jauh melampaui lokasi kebakaran. Karhutla harus ditangani sebagai persoalan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keselamatan manusia,” ucapnya.

Putus Siklus Karhutla, Perkuat Penegakan Hukum

Husaini menyoroti sejumlah faktor pemicu karhutla, mulai dari pengeringan lahan gambut, pembukaan lahan dengan cara membakar, perubahan iklim, hingga lemahnya pengawasan dan penegakan hukum.

Karena itu, penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api membesar. Restorasi gambut, perbaikan tata air, pencegahan pembakaran, pemantauan kualitas udara, serta perlindungan kelompok rentan harus menjadi bagian dari strategi berkelanjutan.

“Udara bersih bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar manusia. Selama penyebab kebakaran tidak ditangani hingga ke akarnya, masyarakat akan terus menghadapi ancaman yang sama setiap musim kemarau,” tuturnya.

Fenomena “Hidup di Bawah Kubah Asap Karhutla” menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya diukur dari padamnya api, tetapi juga dari kemampuan mencegah kebakaran berulang, memulihkan lingkungan, dan melindungi hak masyarakat untuk menghirup udara bersih.

Sumber : Media Center Banjarbaru

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Penanganan Karhutla, Gubernur Kalsel Gagas Pembangunan Embung Mini di Kawasan Pengembangan Program Pangan

19 Oktober 2026 - 21:30 WIB

Gubernur Kalsel Sambut Kunjungan KSAD & Kepala BNPB, Tinjau Kawasan Karhutla & Serahkan Usulan Bantuan

19 Oktober 2026 - 21:05 WIB

Dorong Kampung Purun Jadi Wisata Edukasi, Pemko Banjarbaru Godok Rencana Pembangunan Sentra UMKM

19 Oktober 2026 - 20:29 WIB

Renovasi Rampung, Wali Kota Banjarbaru Resmikan Wajah Baru TPA Darul Falah Cempaka

19 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Dorong Masyarakat Cerdas Menyaring Informasi, Pemko Buka Festival Literasi Banjarbaru 2026

19 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Kota Banjarbaru Raih Juara Harapan 1 Geospasial Banua Award 2026

19 Oktober 2026 - 20:18 WIB

Trending di ADVERTORIAL